Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Prihatin dengan Kerukunan Masyarakat Saat ini, SBY: Terasa Retak

Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono menyoroti ini bermula dari dinamika politik pada Pilkada Jakarta pada 2017.
Oktaviano DB Hana
Oktaviano DB Hana - Bisnis.com 08 Januari 2021  |  15:11 WIB
Susilo Bambang Yudhoyono - Instagram Ano Yudhoyono
Susilo Bambang Yudhoyono - Instagram Ano Yudhoyono

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono mengaku sangat khawatir dengan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa akhir-akhir ini, khususnya terkait kerukunan masyarakat atau harmoni sosial.

"Yang menurut saya terasa retak dan jauh dari semangat persaudaraan kita sebagai bangsa," ujar jendral purnawirawan TNI yang akrab disapa SBY ini melalui sebuah catatan berjudul 'Indonesia Tahun 2021: Peluang untuk Sukses Ada, Jangan Kita Sia-Siakan' di akun Facebook resminya, Jumat (8/1/2021).

Dalam catatan itu, SBY mengatakan selama ini tekun mengamati apa yang terjadi di Tanah Air dalam 3-4 tahun terakhir. Kondisi itu, jelasnya,  bermula dari dinamika politik pada Pilkada Jakarta pada 2017.

Saat itu terbangun jarak dan pemisah dalam kehidupan masyarakat. "Terbangun polarisasi yang tajam di antara kita baik karena faktor identitas politik maupun ideologi. Sepertinya masyarakat kita harus dibelah dua," jelasnya.

Menurutnya, sebagian dari warga menganggap mereka yang tidak sama identitasnya, misalnya agama, partai politik dan juga garis ideologinya, adalah lawan. Dia menyebut garis permusuhan itu bahkan menembus lingkaran persahabatan yang sudah terbangun lama, termasuk di dalam keluarga

"Saya sungguh prihatin jika lingkaran tentara dan polisi yang harusnya menjadi contoh dalam persatuan dan persaudaraan kita sebagai bangsa juga tak terbebas dari hawa permusuhan ini. Keadaan ini sungguh menyedihkan dan sekaligus membahayakan masa depan bangsa kita," ujarnya.

Sosok yang pernah menjabat menteri koordinator bidang politik di era kepemimpinan Abdurrahman Wahid dan Megawati ini pun mengisahkan pengalamannya pada 1964 - 1965 ketika masyarakat terbelah karena faktor ideologi dan politik. Dia juga membagikan pengalamannya ketika turut serta mendamaikan konflik komunal berbasis identitas di berbagai daerah.

SBY menekankan, untuk mengakhiri benturan dan kekerasan itu, diperlukan waktu 3-4 tahun, di samping belum fase rekonsiliasi dan upaya membangun kepercayaan yang tidak singkat. Oleh karena itu, SBY mengingatkan bahaya perpecahan di tengah masyarakat yang berpotensi membesar saat ini.

"Saat ini, jika polarisasi antar kubu politik sangat tajam kehidupan demokrasi pasti tidak sehat. Memilih kandidat dan calon-calon pemimpin, baik di pusat maupun daerah, akan sangat dipengaruhi dan bahkan ditentukan apakah mereka memiliki identitas paham Ideologi dan politik yang sama. Pertimbangan utama dalam memilih pemimpin seperti faktor integritas kapasitas dan kesiapan untuk memimpin dianggap tak lagi penting. Kalau hal begini menjadi kenyataan di Indonesia dan dari tahun ke tahun makin ekstrem, bisa dibayangkan masa depan negeri ini," tegasnya.

SBY meminta para pemimpin untuk melakukan sebuah perubahan dan aksi nyata untuk membendung perpecahan. "Something must be done."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sby politik demokrasi Covid-19
Editor : Oktaviano DB Hana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top