Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Wah! Studi Ini Sebut Kasus Corona di Wuhan Mungkin 10 Kali Lebih Tinggi

Menurut survei serologis terhadap lebih dari 34.000 orang pada April lalu, sekitar 4,4 persen dari mereka yang diuji ternyata memiliki antibodi spesifik yang dapat melawan patogen penyebab Covid-19.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 29 Desember 2020  |  16:24 WIB
Para pengunjung museum Anti-Coviddi Wuhan, Provinsi Hubei, Sabtu (21/11/2020), mengamati kandidat vaksin buatan China yang siap memasuki pasaran. - Antara
Para pengunjung museum Anti-Coviddi Wuhan, Provinsi Hubei, Sabtu (21/11/2020), mengamati kandidat vaksin buatan China yang siap memasuki pasaran. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Sebuah studi oleh otoritas kesehatan China menunjukkan bawah skala kasus virus corona di Wuhan mungkin 10 kali lipat lebih tinggi dari perhitungan yang tercatat.

Menurut survei serologis terhadap lebih dari 34.000 orang pada April lalu, sekitar 4,4 persen dari mereka yang diuji ternyata memiliki antibodi spesifik yang dapat melawan patogen penyebab Covid-19. Hal itu menunjukkan bahwa mereka pernah terinfeksi di masa lalu.

Data tersebut dirilis kemarin malam oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit setempat.

Rasio itu menunjukkan bahwa Wuhan yang berpenduduk sekitar 11 juta orang, sebanyak 500.000 orang di antaranya mungkin telah terinfeksi, hampir 10 kali lebih banyak dari 50.000 kasus Covid-19 yang dikonfirmasi oleh otoritas kesehatan pada pertengahan April, ketika survei dilakukan.

China telah dikritik oleh kalangan internasional karena penanganan awal wabah tersebut, yang telah menyebar ke seluruh dunia dan menjadi pandemi global sejak kasus pertama muncul.

Amerika Serikat juga mempertanyakan penghitungan kasus di Wuhan, yang dengan cepat dikalahkan oleh wabah yang lebih besar di Eropa dan Amerika Utara. Sejumlah revisi data kasus dan kematian menambah kecurigaan bahwa China memanipulasi angka tersebut.

Sementara data serologis dapat menghidupkan kembali klaim tersebut, adalah umum bagi otoritas kesehatan untuk tidak melaporkan kasus selama wabah akut, mengingat kemampuan pengujian yang terbatas dan rumah sakit kewalahan dengan lonjakan pasien yang tiba-tiba.

Kemampuan virus corona untuk menginfeksi orang tanpa gejala dan tanpa menyebabkan sakit juga memperburuk masalah ini.

Survei serologis telah banyak digunakan oleh para profesional kesehatan di seluruh dunia untuk mengukur skala sebenarnya dari epidemi, mulai Covid-19 hingga AIDS dan hepatitis. Prevalensi penyakit yang berasal dari penelitian tersebut dapat menjadi pedoman dalam upaya mitigasi dan vaksinasi.

Survei otoritas kesehatan China menunjukkan dampak virus yang jauh lebih sedikit di luar Wuhan. Tingkat temuan antibodi positif turun menjadi 0,44 persen untuk provinsi Hubei, yang juga mengalami lockdown selama tiga bulan. Hanya dua orang yang dinyatakan positif memiliki antibodi di antara 12.000 yang disurvei di enam kota dan provinsi China lainnya, termasuk Beijing, Shanghai dan Guangdong.

Hasil untuk Wuhan berarti bahkan kota terparah di China masih rentan terhadap Covid-19. Ahli epidemiologi mengatakan setidaknya setengah populasi harus bersentuhan dengan virus untuk membentuk kekebalan massal. Namun tingkat infeksi kota secara umum sejalan dengan yang ditemukan di negara lain setelah gelombang pertama infeksi virus corona.

Tingkat positif antibodi di Spanyol dan Swiss musim semi ini, misalnya, masing-masing sebanyak 6,2 persen dan 11 persen. Meskipun angka positif antibodi lebih tinggi dari 4,4 persen yang ditemukan di Wuhan dan datang sebelum gelombang kedua melanda Eropa, angka tersebut masih kurang dari ambang kekebalan massal.

Sejak mengendalikan wabah di Hubei, China sebagian besar telah menahan penyebaran virus corona, yang didukung oleh dengan pelacakan kontak masif dan pengujian hingga jutaan orang dalam hitungan hari.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china Virus Corona Covid-19
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top