Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

IDI: 159 Dokter Meninggal Dunia Hadapi Covid-19

Selain 159 dokter, ada 114 perawat yang juga wafat karena membantu memerangi Covid-19. 
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 16 November 2020  |  17:48 WIB
IDI: 159 Dokter Meninggal Dunia Hadapi Covid-19
Ilustrasi - Petugas memakamkan jenazah Covid-19 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Selasa (8/9/2020). - Antara/Muhammad Adimaja
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Wakil Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia, IDI, Moh. Adib Khumaidi menyebutkan hingga 10 November 2020 sebanyak 159 dokter meninggal dunia dalam perang melawan Covid-19.

Selain 159 dokter, ada 114 perawat yang juga wafat karena membantu memerangi Covid-19. 

"Artinya ada satu problem yang harus kita perbaiki, edukasi yang harus kita lakukan sesering mungkin, berkaitan dengan safety culture. Meskipun penanganan secara umum sudah ada beberapa perbaikan, harapannya upaya yang dilakukan  tenaga kesehatan selama ini tidak sia-sia, ada perubahan perilaku dari edukasi ke masyarakat," kata Adib dalam konferensi pers BNPB, Senin (16/11/2020).

Adib menyebutkan, yang harus didukung terutama oleh masyarakat adalah tindakan preventifnya dengan melaksanakan 3M, memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

Adapun, pemerintah harus mendukung gerakan preventif ini dengan sarana prasarana yang minim paparan virus, salah satunya mendesain ulang tempat pelayanan kesehatan. 

"Dari 159 dokter [meninggal] itu 84 adalah dokter umum. Di Jawa Timur 28 persen dari praktik pribadi, dan 22 persen dari puskesmas. Data dari yang bekerja di RS rujukan justru rendah. Artinya risiko penularan di seluruh layanan kesehatan tinggi,  semua dokter yang bekerja itu berpotensi terpapar," sambungnya.

Adib menegaskan garda terdepan dari penanganan Covid-19 adalah masyarakat. Harapannya, tak ada lagi tenaga kesehatan yang sampai meninggal. 

"Risiko terpapar pada nakes sangat tinggi ketika fluktuasi pasien meningkat, ingat pada lonjakan kasus Mei dan Agustus, data kematian nakes ikut tinggi," jelasnya.

Oleh karena itu Adib menegaskan bagi nakes perlu dipastikan keamanan dan perlindungannya. Selain itu juga 'timing'-nya. Sehingga, ketika ada yang sakit bisa langsung dilayani dan ditangani, dengan sarana prasarana yang mumpuni.

Dengan begitu diharapkan angka kesembuhan makin tinggi dan tingkat kematian makin rendah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ikatan dokter indonesia Virus Corona Covid-19
Editor : Saeno
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top