Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Redam Risiko Kontraksi, Bank Sentral Inggris Terbitkan Stimulus Baru

Dalam survei pekan lalu, analis memperkirakan BOE akan meningkatkan pelonggaran kuantitatif (QE) sebesar 100 miliar poundsterling (US$129 miliar) menjadi 845 miliar poundsterling.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 03 November 2020  |  17:41 WIB
Bank of England - e/architect.co.uk
Bank of England - e/architect.co.uk

Bisnis.com, JAKARTA - Bank of England kemungkinan akan meluncurkan serangkaian stimulus moneter selanjutnya minggu ini karena pemerintah memberlakukan kembali lockdown yang akan memukul pemulihan ekonomi.

Pengumuman Perdana Menteri Boris Johnson mengenai penutupan toko nonesensial dan perhotelan selama satu bulan menghapus keraguan bahwa Gubernur Andrew Bailey akan menunda program pembelian obligasi.

Dalam survei pekan lalu, analis memperkirakan BOE akan meningkatkan pelonggaran kuantitatif (QE) sebesar 100 miliar poundsterling (US$129 miliar) menjadi 845 miliar poundsterling.

Jumlah itu hampir dua kali lipat tingkatnya pada awal tahun dan akan menjadi putaran keempat pelonggaran moneter sejak krisis dimulai. Namun peningkatan QE bisa lebih besar dari yang diperkirakan.

Keputusan tersebut akan dipublikasikan dengan pembaruan proyeksi ekonomi pada Kamis pekan ini.

"Mereka pasti akan siap untuk melakukan apa yang dibutuhkan minggu ini," kata James Rossiter, ekonom di TD Securities yang pernah bekerja di bank sentral, dan yang memperkirakan kenaikan 120 miliar poundsterling, dilansir Bloomberg, Selasa (3/11/2020).

Pembatasan terbaru oleh pemerintah diperkirakan tidak akan menghantam ekonomi separah awal tahun ini yang menyebabkan kontraksi 20 persen pada kuartal kedua.

Menurut Simon French, Kepala Ekonom di Panmure Gordon & Co, pembatasan jilid kedua ini dapat menurunkan 5 persen PDB Inggris kuartal ini.

Pembelian obligasi, perangkat yang disukai BOE sejauh ini, hampir sama persis dengan peningkatan besar-besaran pinjaman pemerintah yang diperlukan untuk mendanai respons krisis Menteri Keuangan Rishi Sunak.

Tingkat utang kini akan naik lebih lanjut seiring perpanjangan program cuti karyawan yang selesai pada 31 Oktober. Program baru dimulai pada 1 November 2020, terutama dirancang untuk mendorong kerja paruh waktu dalam pemulihan ekonomi.

Strategi baru ini berarti para pekerja yang dicutikan akan mendapatkan sebanyak 80 persen dari gaji mereka selama lockdown. Pemerintah akan menanggung sepenuhnya beban dukungan itu, yang selama sebulan terakhir sudah memasukkan kontribusi hingga 20 persen dari dunia usaha.

Hal yang sama juga akan dilakukan Bank Sentral Eropa (ECB). Presiden ECB Christine Lagarde telah menjanjikan paket stimulus moneter baru pada pertemuan kebijakan berikutnya.

Pekan lalu, Lagarde secara terus terang mengatakan lembaganya akan memberikan semua dukungan yang diperlukan ekonomi kawasan euro yang dikembali ditutup karena gelombang baru virus Corona.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank of england stimulus moneter
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top