Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Bank Sentral Australia Borong Obligasi Pemerintah hingga Rp1.034 Triliun

Pembelian obligasi pemerintah ditetapkan senilai 100 miliar dolar Australia (US$70,4 miliar) dengan tenor sekitar 5 hingga 10 tahun selama enam bulan ke depan.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 03 November 2020  |  17:36 WIB
Bank Sentral Australia Borong Obligasi Pemerintah hingga Rp1.034 Triliun
Suasana di Kantor Reserve Bank of Australia - Bloomberg
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Reserve Bank of Australia (RBA) memangkas suku bunga utamanya dan mengumumkan pembelian obligasi pemerintah.

Target kurva imbal hasil dan suku bunga fasilitas pinjaman bank menjadi 0,10 persen dari sebelumnya 0,25 persen. Pembelian obligasi pemerintah ditetapkan senilai 100 miliar dolar Australia (US$70,4 miliar) atau Rp1.034 triliun dengan tenor sekitar 5 hingga 10 tahun selama enam bulan ke depan.

"Kombinasi pembelian obligasi RBA dan suku bunga yang lebih rendah di seluruh kurva imbal hasil akan membantu pemulihan dengan menurunkan biaya pembiayaan bagi peminjam, berkontribusi pada nilai tukar yang lebih rendah daripada sebaliknya, dan mendukung harga aset dan neraca," kata Gubernur RBA Philip Lowe dalam pernyataannya dilansir Bloomberg, Selasa (3/11/2020).

Langkah tersebut menunjukkan tekad bank sentral untuk dengan cepat mengekstraksi ekonomi dari resesi pertamanya dalam hampir 30 tahun dan mencegah pengangguran meluas.

Hal itu juga menggarisbawahi keinginan untuk mengasuransikan apresiasi mata uang yang tidak diinginkan pada saat bank sentral lain di seluruh dunia menyiapkan panggung untuk stimulus lebih lanjut di tengah kebangkitan virus.

Sementara itu, ekonomi Australia menunjukkan tanda-tanda perbaikan yang kuat, dibantu oleh negara bagian Victoria yang bangkit dari pembatasan ketat yang telah diberlakukan sejak Juli 2020.

Lowe memprediksi PDB akan tumbuh pada kuartal ketiga meskipun di Victoria sempat diberlakukan lockdown. RBA memproyeksi pertumbuhan PDB menjadi sekitar 6 persen selama satu tahun hingga Juni 2021 dan 4 persen pada 2022.

Pengangguran diperkirakan akan mencapai puncaknya sedikit di bawah 8 persen, daripada angka proyeksi sebesar 10 persen. Pada akhir 2022, tingkat pengangguran diperkirakan sekitar 6 persen.

Program pembelian obligasi baru akan melibatkan sekuritas yang diterbitkan oleh pemerintah federal dan negara bagian dan teritori dengan pembagian 80:20. RBA juga memangkas suku bunga yang dibayarkan kepada pemberi pinjaman komersial untuk simpanan mereka di bank sentral menjadi nol.

Dalam pidatonya, gubernur memperkirakan bahwa setelah pembelian obligasi tambahan selesai, neraca RBA akan meningkat hampir tiga kali lipat sejak awal 2020.

Bloomberg memperkirakan bahwa program pelonggaran kuantitatif dapat mengakibatkan bank sentral mengambil sekitar seperlima atau lebih dari kelompok sekuritas yang ditargetkan dalam 5 hingga 10 tahun.

"Cukup jelas bahwa program pembelian obligasi yang setara dengan 5 persen dari PDB, yaitu 100 miliar dolar Australia di sini memiliki efek yang nyata dan bermakna pada imbal hasil obligasi jangka panjang, dan dapat berdampak pada nilai tukar. Jika ternyata itu adalah angka yang salah, kami siap menyesuaikan dari waktu ke waktu dan akan terus ditinjau pada rapat tahun depan," kata Lowe.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi australia

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top