Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bahana Sekuritas: Ekonomi China Salip AS Kurang dari 10 Tahun

Secara nominal PDB China akan bisa menyalip Amerika Serikat seiring dengan perubahan strategi pemerintah setempat.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 26 Oktober 2020  |  17:15 WIB
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bersalaman dalam konferensi pers di Great Hall of the People di Beijing, China, Kamis (9/11/2017). - Bloomberg/Qilai Shen\n
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bersalaman dalam konferensi pers di Great Hall of the People di Beijing, China, Kamis (9/11/2017). - Bloomberg/Qilai Shen\\n

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonomi China diperkirakan akan menjadi dominasi baru dunia pada satu dekade mendatang.

Ekonom Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro mengatakan dengan pemulihan cepat dari pandemi virus corona dan kemungkinan resesi di Amerika Serikat yang berkelanjutan, proyeksi itu dapat terjadi dalam kurang dari 10 tahun.

"Secara nominal GDP, China akan bisa menyalip [AS], saya kira tidak akan sampai 10 tahun," katanya kepada Bisnis, Senin (26/11/2020).

Seperti yang telah diungkapkan Pemerintahan Presiden Xi Jinping, Satria mengatakan mesin pertumbuhan ekonomi China akan beralih dari investasi ke konsumsi domestik.

Dia menjelaskan perubahan orientasi itu sudah terlihat dari mata uang yuan yang menguat sepanjang tahun ini sebesar 4,2 persen. Hal ini menjadi tidak biasa bagi ekonomi yang mengandalkan ekspor. Sebab biasanya China memilih menjaga nilai mata uang yang memungkinkan penumpukan cadangan valasnya.

"Dengan yuan yang menguat, berarti impor lebih murah dibandingkan dengan ekspor. Jadi ada intensi pemerintah untuk menaikkan ekonomi dari mesin konsumsi," katanya.

Dalam lima tahun mendatang, kebijakan ekonomi China akan berpusat pada gagasan sirkulasi ganda yang digaungkan oleh Xi Jinping, di mana negara itu berusaha menciptakan ekonomi domestik yang lebih mandiri dengan tidak mengabaikan perdagangan eksternal.

Di dalam negeri, strategi tersebut mengharuskan China membentuk kembali produksinya untuk memenuhi permintaan lokal dan meningkatkan konsumsi. Sedangkan di sisi eksternal, China kemungkinan akan terus membuka pasarnya, termasuk melonggarkan pembatasan yang melarang investor asing dari industri tertentu dan menurunkan tarif dan hambatan nontarif pada impor.

Sementara itu mengenai ambisi China menjadi pemimpin inovasi teknologi dunia, Satria mengatakan sektor itu dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan selain konsumsi.

Dari segi persaingan, teknologi akan menjadi medan perang baru dengan negara-negara terkuat, termasuk rival utamanya Amerika Serikat.

Adapun dampak kebangkitan China pada ekonomi Indonesia, relatif akan tetap stabil. Hal ini dipengaruhi posisi geopolitik Indonesia yang dekat dengan China, sekaligus juga tidak bermusuhan dengan Amerika Serikat.

Prinsip politik luar negeri yang bebas dan aktif memungkinkan Indonesia memperoleh keuntungan, terlepas negara mana pun diantara dua kekuatan tersebut yang mendominasi ekonomi dunia di masa mendatang.

Hanya saja, Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor batu bara terbesar ke China perlu mewaspadai misi netral karbon negara itu yang ditargetkan pada 2060.

Satria mengatakan, dampaknya sudah tampak pada volume ekspor batu bara Indonesia ke China yang menurun pada September 2020.

Dalam laporan Bahana Sekuritas bertajuk "China's gain is also Indonesia's win", volume ekspor batu bara Indonesia ke China menurun 20 persen secara bulanan dan 90 persen secara year-on-year.

Batu bara menyumbang 4 dari 15 komoditas terbesar berdasarkan nilai, secara bersama-sama berkontribusi sekitar US$3,5 miliar dari pendapatan valas pada Januari-September 2020.

"Padahal China sudah melarang ekspor [batu bara] dari Australia, tetapi ekspor dari Indonesia tidak naik. Itu harus dipikirkan dengan serius oleh negara-negara yang mengekspor barang mentah atau batu bara ke sana," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat ekonomi china
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top