Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Perkenalkan Tuber, Eksperimen Internet Bebas Ala China

Aplikasi Tuber ini menjanjikan sejumlah kemudahan yakni menyajikan iklim bebas tetapi terlacak dan diawasi sehingga memudahkan para akademisi, korporasi, dan masyarakat untuk bertukar informasi secara aman.
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 13 Oktober 2020  |  07:37 WIB
Ilustrasi - Reuters/Edgar Su
Ilustrasi - Reuters/Edgar Su

Bisnis.com, JAKARTA – Dalam eksperimen diam-diam selama dua minggu, China membuka akses kepada jutaan masyarakatnya untuk menikmati website asing yang dilarang misalnya YouTube dan Instagram.

Uji coba tersebut mengindikasikan bahwa Pemerintah Komunis China mulai bergeser ke arah internet bebas, meski masih mencoba mengawasi dan mengendalikan konten yang diakses.

Dikutip dari Bloomberg, Selasa (13/10/2020), aplikasi browser Tuber yang terhubung kepada 360 Security Technology Inc. milik pemerintah ini muncul secara diam-diam dan menawarkan untuk pertama kalinya akses ke Google, hingga New York Times.

Para penikmat internet di China bisa mengakses website-website asing yang dilarang dengan bebas tanpa harus menggunakan virtual private network (VPN).

Aplikasi yang bisa diunduh di app store milik Huawei Technologies Co. ini menunjukkan bahwa Beijing sedang melakukan uji coba untuk membiarkan sekitar 904 juta masyarakat China untuk menikmati akses ke website yang dilarang pemerintah.

Meskipun demikian, aplikasi ini tiba-tiba menghilang tanpa adanya penjelasan pada Sabtu (10/10/2020) dan sekaligus menandai berakhirnya uji coba ini.

Aplikasi Tuber ini menjanjikan sejumlah kemudahan yakni menyajikan iklim bebas tetapi terlacak dan diawasi sehingga memudahkan para akademisi, korporasi, dan masyarakat untuk bertukar informasi secara aman.

“Perkembangan terbaru dengan hadirnya Tuber ini sangat menarik karena uji coba ini bisa diindikasikan sebagai langkah menuju keterbukaan. Tetapi ini hanya bisa diaplikasikan secara penuh jika orang yang menggunakan ini akan mendapatkan pengawasan secara ketat dan konten yang sangat disaring,” kata peneliti Australian Strategic Policy Institute, Fergus Ryan.

Tuber tercatat sudah diunduh sebanyak 5 juta kali dari apps store Huawei sejak akhir September lalu. Pengembang aplikasi ini dikontrol oleh Zhou Hongyi, seorang taipan teknologi dan milairder.

Zhou juga pernah menghapus perusahaan keamanannya, Qihoo 360 Technology Co., dari bursa New York pada 2016 dan mengasosiasikan diri dengan kepentingan nasional. Sangat kecil kemungkinan Qiho mengembangkan aplikasi ini tanpa restu dari pemerintah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china sensor

Sumber : Bloomberg

Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top