Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Hasil Riset: TikTok dan WeChat Tingkatkan Sensor Konten

Media sosial terbesar China paling populer daru WeChat hingga TikTok semakin meningkatkan sensor konten baik di Amerika Serikat ataupun negara lainnya.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 08 September 2020  |  17:52 WIB
Hasil Riset: TikTok dan WeChat Tingkatkan Sensor Konten
Logo TikTok/Bloomberg - Lam Yik
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Media sosial terbesar China paling populer daru WeChat hingga TikTok semakin meningkatkan sensor konten baik di Amerika Serikat ataupun negara lainnya.

Dalam laporan Institut Kebijakan Strategis Australia,dikatakan perusahaan yang menaungi TikTok, ByteDance Ltd. sering kali menyembunyikan kata-kata yang mencerminkan gerakan politik, gender dan orientasi seksual atau agama di sebagian besar negara tempatnya beroperasi.

Sebagian besar konten yang disensor di WeChat mendukung aktivis pro-demokrasi di Hong Kong, serta pesan dari kedutaan besar AS dan Inggris mengenai undang-undang keamanan nasional baru yang diberlakukan oleh Beijing pada akhir Juni yang telah memicu protes di seluruh kota.

"TikTok, yang awalnya merupakan wadah lip-sync musik remaja, telah menjadi forum protes politik termasuk gerakan Black Lives Matter," kata Fergus Ryan, salah satu penulis seperti dikutip Bloomberg, Selasa (8/9/2020).

Menurut laporan tersebut tanda pagar atau tagar yang terkait dengan masalah LGBTQ+ juga disembunyikan dalam beberapa bahasa. Topik lain yang disensor di masa lalu termasuk kritik terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin.

Temuan tersebut dapat memberikan amunisi kepada pemerintahan Trump, yang melarang TikTok dan WeChat, Tencent Holdings Ltd. setelah menuduh aplikasi tersebut tunduk pada kehendak Beijing dalam menyensor konten.

Sementara layanan media sosial seperti Facebook menghapus konten seperti ujaran kebencian. AS menuduh layanan seperti TikTok memblokir konten yang dianggap sensitif bagi Partai Komunis. WeChat telah lama mematuhi kontrol, sementara TikTok, yang hanya beroperasi di luar China telah menolak klaim bahwa mereka dipengaruhi oleh pemerintah negara itu.

“TikTok adalah pengalaman yang lebih dikurasi, di mana platform memiliki kekuatan besar untuk memutuskan konten apa yang akan disajikan kepada pengguna,” lanjut Ryan.

Sebagian besar tagar ini dikategorikan dalam kode TikTok dengan cara yang sama seperti kelompok teroris, zat terlarang, dan kata-kata umpatan.

Kendati begitu, Perwakilan Tencent dan ByteDance belum berkomentar terkait hal itu.

Tindakan AS menentang TikTok dan WeChat menggarisbawahi bagaimana konsep pemisahan internet menjadi kenyataan. Larangan administrasi Trump atas TikTok dan WeChat mulai berlaku pada pertengahan September, ketika kedua aplikasi kemungkinan besar akan dihapus dari toko aplikasi tetapi mungkin terus dapat diakses oleh banyak pengguna Amerika.

WeChat dapat menjadi vektor yang kuat di negara-negara seperti AS di mana diaspora Tionghoa sangat besar, karena sering kali menjadi sumber informasi utama untuk populasi tersebut.

Tetapi prinsip-prinsip seperti kebebasan berbicara tidak menjadi bagian dari nilai inti aplikasi tersebut, melainkan lebih cenderung melakukan sensor berlebihan untuk menyelaraskan dengan keinginan pemerintah daerah.

ByteDance sekarang terlibat dalam diskusi sensitif tentang pengambilalihan TikTok di AS, termasuk Microsoft Corp dan Oracle Corp. Adapun kesepakatan pengambilalihan tersebut diperkirakan mencapai lebih dari US$ 20 miliar.

Tetapi ketidakpastian seputar kesepakatan itu meningkat tajam pekan lalu setelah China menegaskan haknya untuk menyetujui atau memblokir penjualan teknologi di luar negeri. Hal itu memperumit proses di bawah pengawasan Gedung Putih.

"Undang-undang tersebut menggarisbawahi bagaimana Beijing ingin mempertahankan beberapa kontrol atas moderasi konten dan menganggap algoritme ByteDance sebagai masalah keamanan negara, "kata Ryan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

wechat TikTok
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top