Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kasus Kekerasan Intan Jaya, TGPF: Keluarga Setujui Autopsi Korban

Proses autopsi jenazah korban kekerasan di Intan Jaya sangat diperlukan untuk mengungkap peristiwa itu lebih terang.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 12 Oktober 2020  |  14:11 WIB
Ketua TGPF kasus Intan Jaya Benny Mamoto didampingi sejumlah anggota TGPF dan Kapolda Papua Irjen Polisi Paulus Waterpauw memberikan keterangan di Timika, Senin (12/10/2020). - Antara/Evarianus Supar
Ketua TGPF kasus Intan Jaya Benny Mamoto didampingi sejumlah anggota TGPF dan Kapolda Papua Irjen Polisi Paulus Waterpauw memberikan keterangan di Timika, Senin (12/10/2020). - Antara/Evarianus Supar

Bisnis.com, TIMIKA - Autopsi korban kasus kekerasan di Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua akhirnya disetujui pihak keluarga korban.

Selama ini, proses penyidikan atas kasus kekerasan di Intan Jaya terhambat masalah izin autopsi korban.

Proses autopsi jenazah korban kekerasan di Intan Jaya sangat diperlukan untuk mengungkap peristiwa itu lebih terang.

Ketua Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) sejumlah kasus kekerasan bersenjata di Kabupaten Intan Jaya, Papua, Benny J Mamoto menyebut keluarga korban telah menyetujui rencana autopsi. 

Autopsi akan dilakukan terhadap jenazah korban penembakan di wilayah itu baru-baru ini.

"Tadi malam keluarga sepakat mengizinkan untuk proses autopsi. Mereka juga sudah menandatangani berita acara. Jadi, proses penyidikan yang selama ini agak terhambat bisa berjalan kembali," kata Benny Mamoto di Timika, Senin (12/10/2020).

Purnawirawan Polri bintang dua itu menegaskan proses autopsi jenazah korban kekerasan di Intan Jaya sangat diperlukan untuk membuat terang peristiwa itu.

"Kalau kita mau proses hukum [pelaku penembakan] maka penyebab kematian korban harus jelas dan itu harus dikeluarkan oleh ahlinya berupa visum et repertum (VER). Kalau tidak demikian, ini akan menjadi debatable di pengadilan. Kalau seperti ini maka sudah pasti berkas kami akan ditolak oleh pengadilan," kata Benny Mamoto yang cukup lama bertugas di Badan Narkotika Nasional (BNN) itu.

Pada Senin siang belasan anggota TGPF kasus Intan Jaya yang baru saja tiba dari Sugapa Intan Jaya di Timika langsung bertolak ke Jakarta.

Mereka akan secepatnya menyusun laporan hasil tugas untuk diserahkan kepada Menko Polhukam Mahfud MD. Laporan tersebut selanjutnya diteruskan kepada Presiden Joko Widodo.

Benny menjelaskan selama tiga hari di Intan Jaya, TGPF mengumpulkan data dan informasi lapangan dari berbagai pihak terkait sejumlah kasus kekerasan yang terjadi beberapa waktu terakhir.

TGPF beranggotakan berbagai elemen mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, unsur kepolisian, unsur Badan Intelijen Negara (BIN), unsur kejaksaan, unsur gereja, dan perwakilan dari pihak yang mengadukan kasus tersebut.

"Kami telah bekerja secara maksimal meskipun dalam kondisi ancaman gangguan keamanan di sana, tapi kami bisa mengejar target dan relatif kami bisa menyelesaikan semuanya seperti olah TKP berjalan lancar, kami juga bisa bertemu dengan saksi di TKP, meskipun pada saat kami mau kembali dihadang sehingga ada rekan dan satu personel TNI yang menjadi korban," kata Benny.

Meski menghadapi tantangan berat selama berada di Intan Jaya yang kerap diganggu teror penembakan, TGPF telah menuntaskan tugas mereka di lapangan.

"Semua saksi kami kumpulkan di satu tempat di Sugapa dan teman-teman kami secara bersama-sama dibagi per kelompok mewawancarai dan melakukan pendalaman data yang telah kami peroleh sebelumnya," kata Benny.

Pekerjaan yang dilakukan TGPF di Intan Jaya, kata dia, jauh lebih luas dari sekadar tugas penyidikan yang harus mengacu pada sejumlah prosedur tetap yang diatur dalam KUHAP.

"Cara pengumpulan informasi dari saksi tidak perlu kami panggil ke kantor polisi, tapi kami yang datang menemui mereka secara langsung. Ketika kami bicara dengan mereka, kami melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat supaya masyarakat yang akan kami mintai informasi itu yakin. Komunikasi kami juga terkendala soal bahasa, namun ada yang bisa menerjemahkannya. Kondisi seperti itu yang membuat keluarga merespons baik kehadiran TGPF di Intan Jaya," kata Benny Mamoto.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

penembakan intan jaya

Sumber : Antara

Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top