Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Setelah Sanksi Ketat AS, Huawei Kembangkan Sistem Pengganti Android

Huawei Technologies Co. memperkenalkan pengembangan dalam HarmonyOS, sistem operasi yang dikembangkan untuk menggantikan sistem Android.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 10 September 2020  |  18:41 WIB
Logo Huawei Technologies Co. di pusat layanan di Brussels, Belgia, Selasa (4/2/2020). Bloomberg - Geert Vanden Wijngaert
Logo Huawei Technologies Co. di pusat layanan di Brussels, Belgia, Selasa (4/2/2020). Bloomberg - Geert Vanden Wijngaert

Bisnis.com, JAKARTA - Huawei Technologies Co. memperkenalkan pengembangan dalam HarmonyOS, sistem operasi yang dikembangkan untuk menggantikan sistem Android.

Pengembangan tersebut diharapkan dapat membantu perusahaan teknologi terbesar di China menavigasikan sanksi Amerika Serikat (AS) yang semakin ketat.

Melansir Bloomberg Kamis (10/9/2020, Huawei juga mengumumkan rencana untuk menawarkan perangkat lunak bagi pembuat ponsel lain untuk dipasang di perangkat mereka.

Ketua grup konsumen Richard Yu mengatakan bahwa Huawei akan memiliki versi beta dari HarmonyOS 2.0 yang tersedia untuk smart TV, jam tangan dan sistem infotainment mobil mulai hari ini, yang akan diikuti smartphone pada bulan Desember.

Yu menambahkan pengembangan Huawei tersebut berkisar pada sifat OS terbaru yang terbuka, aman, dan terdistribusi, sehingga mudah diterapkan di seluruh perangkat dan ukuran layar. Sementara untuk Handset pertama sebagai pendukung diharapkan dapat tersedia tahun depan

Di tengah gejolak perdagangan AS-China, Huawei menghadirkan HarmonyOS sebagai sistem operasi potensial untuk pasar dalam negeri.

Berdasarkan data perusahaan Huawei, pembuat smartphone terbesar di dunia mengakui bahwa pembatasan AS pada pasokan chipnya telah memengaruhi pengiriman smartphone, yaitu 105 juta unit pada paruh pertama 2020 setelah mencapai 240 juta pada 2019.

Kendati begitu, menurut Yu yang paling penting adalah perluasan ekosistem layanan seluler Huawei, yang kini memiliki 1,8 juta pengembang dan 490 juta pengguna aktif.

"Sekarang mendukung sekitar 96.000 aplikasi dan merupakan ekosistem seluler terbesar ketiga setelah iOS Apple Inc. dan Android Google," seperti dikutip dari Bloomberg Kamis (10/9/2020).

Perusahaan China itu telah berjuang untuk bertahan setelah pemerintahan Donald Trump memberlakukan serangkaian sanksi yang memutuskan Huawei dari klien dan pemasoknya.

Huawei harus menggunakan stok komponennya untuk membuat produk dari stasiun pangkalan hingga smartphone. Setelah 15 September, hampir semua akses ke mitra seperti Taiwan Semiconductor Manufacturing Co., yang telah membuat prosesor Kirin Huawei akan hilang.

Chip Kirin di masa lalu bersaing ketat dengan silikon Snapdragon dari Qualcomm Inc. dan Huawei telah banyak berinvestasi dalam mengembangkan solusi nirkabel 5G-nya.

Tanpa kemampuan untuk memproduksi atau mencari komponen untuk ponsel cerdasnya sendiri, bisnis seluler perusahaan terlihat dalam bahaya, meskipun itu tidak mencegahnya untuk secara aktif mengembangkan dan memperluas HarmonyOS sebagai alternatif jangka panjang untuk duo dominan platform seluler Amerika.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat huawei
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top