Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Produsen Chip Memori Terbesar China Belum Mampu Saingi AS

Dorongan untuk membangun sendiri rantai pasokan semikonduktor sebelumnya menguat setelah AS melancarkan berbagai sanksi yang menyasar perusahaan teknologi China.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 10 September 2020  |  14:35 WIB
Ilustrasi chip memori -  Bloomberg
Ilustrasi chip memori - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Produsen chip memori flash utama China menyatakan bukan hal mudah untuk menggantikan industri semikonduktor Amerika Serikat sebagai tumpuan utama pasokan lokal.

Dorongan untuk membangun sendiri rantai pasokan semikonduktor sebelumnya menguat setelah AS melancarkan berbagai sanksi yang menyasar perusahaan teknologi China. Sementara itu, Yangtze Memory Technologies Co. memperoleh lebih dari 80 persen pasokan perangkat dari AS dan Jepang.

Zheng Jiuli, Wakil Presiden yang bertanggung jawab atas manajemen rantai pasokan mengatakan sementara beberapa pemasok China telah membuat terobosan di berbagai bidang termasuk pengetsaan, pembersihan, dan pelapisan, tidak ada cukup alternatif lokal untuk menggantikan semuanya.

"Investasi jangka panjang dalam inovasi dan litbang telah menghasilkan keuntungan teknologi pada pemasok AS dan Jepang. Ini juga alasan mengapa produk mereka saat ini menjadi arus utama dan sulit tergantikan," kata Zheng, dilansir Bloomberg, Kamis (10/9/2020).

Defisit peralatan dasar pembuatan chip mempersulit ambisi Beijing untuk mengurangi ketergantungannya AS, saingan geopolitiknya. China telah meluncurkan sejumlah langkah untuk meningkatkan industri chip domestiknya, termasuk menciptakan dana investasi semikonduktor senilai US$29 miliar. Beijing juga berencana untuk mendorong pengembangan semikonduktor generasi ketiga dalam rencana lima tahun berikutnya.

Menurut analis di Citigroup, pembuatan chipset yang sebagian besar terbuat dari bahan seperti silikon karbida dan galium nitrida itu, hanya memiliki eksposur terbatas ke vendor AS.

Yangtze Memory belum menetapkan target untuk pengadaan dalam negeri. Perusahaan ini mengoperasikan fasilitas senilai US$22 miliar di Wuhan yang merupakan pabrik paling canggih di China untuk 3D NAND, iterasi penyimpanan terbaru yang digunakan dalam ponsel cerdas dan komputasi kelas atas.

Sementara itu, industri chip raksasa China bersiap untuk sanksi Trump lebih lanjut. Upaya Gedung Putih untuk menjegal ekspansi perusahaan China telah menyebabkan larangan ekspor teknologi dan peralatan AS ke Huawei Technologies Co., pembuat handset dan perlengkapan jaringan 5G terbesar di China.

Zhao Weiguo, Kepala di Yangtze Memory Tsinghua Unigroup Co. mengatakan China masih harus menempuh jalan panjang sebelum dapat mulai mengancam dominasi AS dalam industri semikonduktor global.

Unigroup dan afiliasi Tsinghua lainnya telah melakukan sejumlah akuisisi selama bertahun-tahun, termasuk RDA Microelectronics Inc. dan Spreadtrum Communications Inc., untuk meningkatkan kemampuan desainnya. Perusahaan menandatangani kesepakatan kemitraan dengan pemain global termasuk Western Digital Corp.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top