Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Permukaan Laut Global Berada di Jalur Skenario Terburuk

Lapisan es terus mengikuti skenario terburuk pemanasan iklim dan berdampak pada kenaikan permukaan laut .
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 02 September 2020  |  08:37 WIB
Kutub Utara - Antara
Kutub Utara - Antara

Bisnis,com, JAKARTA – Kenaikan permukaan laut di seluruh planet saat ini sejalan dengan skenario terburuk dari prediksi iklim globa. Para ahli memperingatkan ini sebagai hal yang mengerikan bagi umat manusia di Bumi.

Sejak 1990 an, permukaan air laut telah naik 1,8 centimeter (cm) saat Bumi memanas dan lapisan es kutub mencari. Meski pengukurannya mungkin tampak kecil, tapi kenaikan 1 cm permukaan laut dapat mengakibatkan 1 juta orang mengungsi.

Andy Shepherd, Direktur Pusat Pengamatan dan Pemodelan Universitas Leeds mengatakan bahwa kenaikan permukaan laut 1,8 cm ini sejalan dengan prediksi skenario kasus terburuk dari Intergovernmental Panel on Climate Change.

Sebuah studi yang dilakukan Universitas Leeds dan Institut Meteorologi Denmark menemukan bahwa jika tren saat ini berlanjut, kenaikan permukaan laut setinggi 17 cm dapat terjadi pada akhir abad ini. Hal tersebut akan memaksa hampir 20 juta orang di seluruh dunia meninggalkan rumah mereka.

Penelitian juga menemukan bahwa pencairan dari Antartika telah mendorong permukaan laut global naik sekitar 7,2 milimeter. Adapun, laporan dari jurnal Nature Climate Change menyebut pencairan dari Greenland menyumbang sekitar 10,6 mm.

Tom Slater, peneliti iklim di Pusat Pengamatan Kutub dan Pemodelan Universitas Leeds mengatakan bahwa di luar antisipasi pemanasan lautan dan atmosfer yang ada, pencairan es telah terjadi dengan cepat dan melebihi apa yang dibayangkan sebelumnya.

“Pencairan itu melampaui model iklim yang digunakan sebagai guidance, dan kita berada dalam bahaya karena tidak siap menghadapi risiko yang bisa ditimbulkan oleh kenaikan permukaan laut ini,” katanya seperti dikutip Express UK, Rabu (2/9/2020).

Anna Hogg, peneliti iklim di Sekolah Bumi dan Lingkungan di Leeds mengatakan jika kehilangan lapisan es terus mengikuti skenario terburuk pemanasan iklim, manusia hanya bisa mengharapkan tambahan kenaikan permukaan laut terjadi dari lapisan es saja.

Menurutnya, hal itu saja cukup untuk menggandakan frekuensi gelombang badai banjir di banyak kota pesisir terbesar di dunia. Hal ini tentunya berdampak langsung pada masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah pantai.

Sejak 1990-an, sebagian penyebab terjadinya lonjakan permukaan laut adalah karena proses yang dikenal sebagai ekspansi termal. Disinilah air sedikit mengembang saat semakin hangat, mendorong permukaan laut sedikit naik.

Namun dalam lima tahun terakhir, pencairan gletser menjadi kekuatan dominan dari fenomena naiknya permukaan laut global. Ruth Mottram, peneliti iklim di Institut Meteorologi Denmark mengatakan bahwa bahwa penyebabnya tak hanya karena Antartika atau Greenland saja.

“Dalam beberapa tahun terakhir, ribuan gletser kecil mulai mencair atau menghilang sama sekali, seperti yang kita lihat dengan gletser OK di Islandia, yang dinyatakan hilang pada 2014. Artinya, pencairan es kini telah mengambil alih penyumbang utama kenaikan permukaan laut, katanya.

Sebagaimana diketahui, pemanasan global berkontribusi pada hilangnya lapisan es di lingkaran Arktik dan Antartika. Para peneliti juga percaya bahwa Greenland bisa menjadi satu satu yang terkena dampak paling parah.

Lapisan es di Greenland memiliki ketebalan hingga 3 kilometer di tempat-tempat tertentu, mencakup area dengan luas tujuh kali lebih besar dari Inggris. Jika semua es ini mencair, permukaan laut bisa naik hingga 7 meter.

Model iklim yang ada telah menunjukkan kenaikan permukaan laut lebih dari 2 meter dapat secara permanen menenggelamkan sebagian besar garis pantai Inggris, dengan orang orang Hull, Peterborough, Portsmouth, dan sebagian London terancam.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

laut kutub utara
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top