Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Diduga Diracun, Pemimpin Oposisi Rusia Alexey Navalny Dilarikan ke Rumah Sakit

Alexey Navalny dikenal sebagai oposisi Presiden Rusia Vladimir Putin.
Annisa Margrit
Annisa Margrit - Bisnis.com 20 Agustus 2020  |  19:10 WIB
Pemimpin oposisi Rusia Alexey Navalny berjalan bersama para demonstran lainnya dalam unjuk rasa di Moskow, Rusia, Sabtu (19/2/2019). - Bloomberg/Andrey Rudakov
Pemimpin oposisi Rusia Alexey Navalny berjalan bersama para demonstran lainnya dalam unjuk rasa di Moskow, Rusia, Sabtu (19/2/2019). - Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA — Pemimpin oposisi Rusia Alexey Navalny dilarikan ke rumah sakit karena diduga diracun dalam penerbangan ke Moskow.

Juru bicara Navalny Kira Yarmysh mengatakan pria berusia 44 tahun itu jatuh sakit di pesawat, yang berangkat dari Tomsk. Pilot pesawat tersebut kemudian memutuskan untuk mendarat darurat di Omsk, di mana sekarang Navalny berada.

Aktivis anti Kremlin dan anti korupsi itu dikabarkan belum sadar dan berada dalam kondisi serius, bahkan harus menggunakan ventilator.

Yarmysh membuka dugaan ada racun yang dimasukkan ke dalam teh yang diminum Navalny ketika dia bertemu dengan para aktivis di Tomsk, seperti dilansir Bloomberg, Kamis (20/8/2020). Navalny diklaim hanya minum teh sejak pagi harinya.

Dugaan tersebut tidak dibantah oleh Anatoly Kalinichenko, dokter di fasilitas kesehatan tempat Navalny dirawat.

"Pasien dalam kondisi serius dengan dibantu ventilator, tapi kondisinya stabil," ucapnya.

Navalny berkunjung ke Tomsk untuk bertemu dengan sesama aktivis dan mendukung kandidat oposisi dalam Pemilihan Umum (Pemilu) regional yang akan diselenggarakan pada September 2020.

Navalny adalah pemimpin oposisi Rusia yang paling kuat dalam gelombang unjuk rasa menentang kembalinya Presiden Vladimir Putin ke Kremlin pada 2011-2012. Dia menggunakan media sosial, yakni Twitter dan YouTube, untuk menyampaikan kritik dan investigasinya atas berbagai dugaan penyalahgunaan yang dilakukan pejabat-pejabat tinggi Rusia yang menjadi pendukung Putin.

Pada Juni 2020, Komite Penyelidikan Rusia membuka investigasi terhadap Navalny setelah dia dituding melecehkan nama baik seorang veteran Perang Dunia (PD) II ketika menggelar kampanye melawan referendum atas perubahan konstitusi yang mengatur masa jabatan presiden.

Dia juga menjadi kritikus Kremlin terakhir yang menjadi korban karena diracun. Pada 2006, eks pejabat keamanan Alexander Litvinenko meninggal di London setelah meminum teh yang sudah ditaburi polonium.

Dua tahun lalu, eks agen rahasia Rusia Sergei Skripal menjadi sasaran upaya pembunuhan dengan gas saraf mematikan, Novichok, di dekat tempat tinggalnya di Salisbury, Inggris. Dia selamat setelah dirawat selama beberapa waktu di rumah sakit.

Masih ada nama-nama lainnya yang juga menjadi korban dugaan peracunan, seperti Pyotr Verzilov dan Vladimir Kara-Murza. Keduanya selamat setelah mendapat perawatan intensif.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rusia vladimir putin racun

Sumber : Bloomberg

Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top