Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kebakaran Hutan Skala Besar Tambah Beban Krisis di California

Meskipun kebakaran hutan, cuaca panas ekstrem, dan pemadaman listrik bukan hal baru di California, tapi kali ini terjadi saat pandemi Covid-19.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 20 Agustus 2020  |  15:34 WIB
Api membakar lereng bukit di sepanjang Interstate 80. Kebakaran hutan terus meluas di Vacaville, California, AS - Bloomberg/Philip Pacheco
Api membakar lereng bukit di sepanjang Interstate 80. Kebakaran hutan terus meluas di Vacaville, California, AS - Bloomberg/Philip Pacheco

Bisnis.com, JAKARTA – California, salah satu negara bagian Amerika Serikat, harus menghadapi krisis baru setelah enam bulan menerapkan karantina ketat atau lockdown akibat pandemi virus Corona (Covid-19).

Negara bagian dengan penduduk terbanyak di Negeri Paman Sam itu menghadapi kebakaran hutan hebat yang membuat orang-orang terpaksa harus mengungsi dan meninggalkan rumah mereka. Bela Matyas, tenaga kesehatan di Solano, California Utara, mengakui ribuan warga Vacaville harus dievakuasi ke kota.

“Ini kejadian yang tak terduga. Kami inginnya masyarakat bisa tetap tinggal di rumah dan tidak bersosialisasi dengan orang lain dan tidak berkumpul. Tapi karena harus mengungsi jadi terpaksa,” kata Matyas.

Di negara bagian yang terkenal sering terkena bencana ini, berbagai krisis melanda sekaligus. Setelah adanya lonjakan kasus Covid-19 pada musim panas dan pembukaan kembali perekonomian dengan skala kecil, warga California kembali dicengkeram udara panas yang suhunya memecah rekor.

Hal itu membuat jaringan listrik terganggu sehingga sering terjadi pemadaman bergilir untuk pertama kalinya sejak krisis energi pada 2000-2001. Krisis lainnya sekarang datang dengan kebakaran hutan yang mayoritas disebabkan oleh sambaran petir dalam cuaca ekstrem.

Adapun, Vacaville menjadi satu-satunya kota yang dievakuasi. Ribuan warganya di Napa dan Sonoma, San Francisco, kemudian di Santa Cruz dan San Mateo hingga ke Selatan, harus meninggalkan rumah mereka karena api sudah menjalar hingga ke negara bagian tersebut.

Asap sudah mengepung wilayah teluk, dengan para warga San Fracisco menemukan banyaknya mobil tertutup abu dan seluruh kota berbau seperti api unggun. Sementara itu di Los Angeles, kobaran api akibat kebakaran hutan telah membakar hampir 26.000 hektare sejak minggu lalu, sampai disebut sebegai ‘Danau Api’.

Gubernur California Gavin Newsom menyebutkan, sampai Rabu (19/8/2020), saat ini tercatat ada 367 titik api di seluruh California. Dari total seluruh titik api, 23 titik mengalami kebakaran hebat.

“Kami pernah mengalami kebakaran hutan, tapi sudah lama sekali,” ungkap Newsom, dilansir Bloomberg, Kamis (20/8/2020).

Sampai beberapa hari belakangan, California juga tak kunjung mendapat kabar baik meskipun ada kemungkinan terhindar dari pemadaman bergilir lanjutan dan perkiraan cuaca akan lebih dingin pada hari ini. Namun, California masih harus menanggung risiko ‘kehabisan energi’ pada 24 Agustus 2020.

Meskipun kebakaran hutan, cuaca panas ekstrem, dan pemadaman listrik bukan hal baru di California, tapi peristiwa yang terjadi saat pandemi ini jadi membuat semuanya terasa lebih berat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat california

Sumber : Bloomberg

Editor : Oktaviano DB Hana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top