Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penjualan Industri Perhotelan Inggris Merosot 87 Persen, Terpukul Lockdown

Kejatuhan mendalam tersebut membuat bisnis hotel membutuhkan dukungan luas dan berkelanjutan selama sisa 2020 dan seterusnya.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 28 Juli 2020  |  09:22 WIB
Suasana jalan Thames yang sepi di London, Inggris, Kamis (9/4/2020). Saat Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berada di unit perawatan kritis karena Covid-19, sejumlah pejabat menyusun rencana untuk memperpanjang masa lock down untuk mengendalikan krisis karena virus corona. Bloomberg - Simon Dawson
Suasana jalan Thames yang sepi di London, Inggris, Kamis (9/4/2020). Saat Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berada di unit perawatan kritis karena Covid-19, sejumlah pejabat menyusun rencana untuk memperpanjang masa lock down untuk mengendalikan krisis karena virus corona. Bloomberg - Simon Dawson

Bisnis.com, JAKARTA - Penjualan industri perhotelan di Inggris merosot 87 persen pada kuartal kedua terpukul lockdown di tengah pandemi virus Corona.

Menurut Asosiasi Perdagangan UKHospitality dan perusahaan riset CGA, penghasilan dari April hingga Juni berjumlah 4,6 miliar pounsterling (US$5,9 miliar) dibandingkan dengan 34,2 miliar poundsterling setahun sebelumnya.

Asosiasi mengatakan kejatuhan mendalam tersebut membuat bisnis hotel membutuhkan dukungan luas dan berkelanjutan selama sisa 2020 dan seterusnya.

Perdana Menteri Boris Johnson mengimbau warga untuk menghindari ruang publik seperti bar dan restoran mulai 16 Maret, dan penguncian penuh dilakukan pada 23 Maret dan dicabut sebagian pada 4 Juli.

Bisnis secara bertahap dibuka kembali di seluruh negeri dan pemerintah kini berusaha untuk mendukung dengan langkah-langkah seperti Skema Eat Out to Help Out, di mana pengunjung dapat memperoleh diskon 50 persen untuk makanan hingga nilai 10 poundsterling.

Namun dengan berlanjutnya kekhawatiran tentang virus ini dan keraguan untuk menggunakan transportasi umum, pemulihan tampaknya berjalan lambat.

"Angka-angka terbaru ini menyoroti betapa gentingnya situasi saat ini," kata Kepala eksekutif UKHospitality Kate Nicholls, seperti dilansir Bloomberg, Selasa (28/7/2020).

Dia melanjutkan bahwa angka-angka ini memperkuat pesan bahwa bisnis masih membutuhkan dukungan dari pemerintah jika ingin menghindari lebih banyak kebangkrutan dan pengangguran.

Dalam jangka pendek, kelesuan industri menguntungkan konsumen karena dapat menikmati diskon yang ditawarkan restoran. Hawksmoor misalnya, rantai restoran steak kelas atas, mengumumkan akan menyajikan hidangan rump & chip 300 gram dengan saus seharga 20 poundserling sebagai bagian dari Eat Out to Help Out.

Harga itu berarti diskon 10 poundsterling untuk pengunjung. Selain itu, meja di restoran yang diminati seperti The Wolseley, di Piccadilly, mungkin lebih mudah dipesan daripada biasanya.

Namun, restoran populer lainnya menyerah, termasuk Le Caprice dan Ledbury di London. Dalam beberapa bulan mendatang diperkirakan akan lebih banyak penutupan restoran karena tagihan yang besar untuk akumulasi sewa. Mereka menyerukan periode bebas sewa #NationalTimeOut sembilan bulan untuk bisnis perhotelan.

UKH Tracker menggabungkan data dari semua segmen perhotelan. Dikatakan bahwa industri berkontribusi 133,5 miliar poundsterling untuk ekonomi pada 2019, tetapi nilai itu terancam turun menjadi di bawah 100 miliar poundsterling.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perhotelan inggris
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top