Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Derita Daerah Rawan Pangan karena Covid-19

Kebijakan lockdown di beberapa negara di Afrika, menambah potensi terjadinya kerawanan pangan di kawasan tersebut.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 19 Juli 2020  |  14:07 WIB
Pasar tradisional di Abuja, Nigeria - Bloomberg
Pasar tradisional di Abuja, Nigeria - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Aksi panic buying yang diiringi oleh kenaikan harga pangan akibat kebijakan lockdown membuat daerah paling rawan pangan di dunia, makin merana. Daerah tersebut adalah negara-negara yang berada di Sub-Sahara Afrika.

Seperti dikutip dari Bloomberg, Minggu (19/7/2020), data yang diterbitkan oleh negara-negara seperti Afrika Selatan, Ghana dan Nigeria dalam sepekan terakhir menunjukkan harga makanan menjadi kontributor utama inflasi nasional.

Di Nigeria, tertekannya nilai tukar naira mendorong terjadinya inflasi bahan makanan yang sangat cepat. Kebijakan politis Nigeria yang menutup jalur perdagangan darat sejak Agustus 2019, menambah kerumitan negara tersebut dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional sejak adanya pembatasan sosial akibat pandemi Covid-19.

Inflasi bahan pangan di Nigeria naik 115,2 persen pada Juni, terbesar sejak Maret 2020. Adapun, bahan pangan menjaadi penyumbang terbesar inflasi di negara tersebut.

Di sisi lain, laporan dari Biro Statistik Nasional Nigeria menyebutkan sekitar 30 persen rumah tangga mengalami kerawanan pangan parah pada bulan lalu. Capaian itu meroket dari periode yang sama pada 2019 yang mencapai 5,9 persen. Masyarakat mulai kehabisan uang karena kegiatan ekonomi tidak berjalan dengan baik.

Selain itu, harga makanan impor seperti beras telah melonjak 28 persen pada Juni 2020 dari periode yang sama tahun lalu. Kondisi itu membuat masyarakat mengubah pola makan mereka.

“Kami harus membatasi pengeluaran kami untuk makanan  seperti sereal dan susu kacang karena harganya sangat tinggi,” kata Kemi Adeola dari Abuja, Nigeria, seperti dikutip dari Bloomberg, Minggu (19/7/2020)

Dia mengatakan, bahkan roti yang dulu dijual seharga 250 naira sekarang dijual seharga 450 naira. Alhasil keluarganya harus melakukan perubahan bahan makanan menjadi bubur yang terbuat dari tepung jagung.

Di Afrika Selatan, kebijakan lockdown yang berlangsun lebih dari 100 hari juga telah menyebabkan meningkatnya kerawanan pangan. Walikota Johannesburg Geoff Makhubo mengatakan hampir satu juta orang di pusat komersial negara itu akan membutuhkan bantuan makanan karena adanya lockdown.

Laporan dari National Income Dynamics Study-Coronavirus Rapid Mobile Survey menyebutkan, 40 persen respondennya di Afrika Selatan mulai kehabisan dana untuk membeli makanan mulai April 2020. Jumlah itu naik dari 20 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Namun demikian, ekonom senior di BNP Paribas Jeffrey Schultz memperkirakan gejolak pasokan dan harga pangan di Afrika Selatan bakal mereda mulai Agustus lantaran adanya panen jagung. Melimpahnya pasokan jagunng diperkirakan bakal membantu menekan harga bahan pangan nasional yang terlanjur meroket.

Demikian pula di Ghana, kenaikan harga pangan yang didorong oleh kebijakan lockdown di beberapa kota telah memberi beban bagi masyarakatnya. Namin, ekonom Afrika di Databank Group di Accra yakni Courage Boti memperkirakan gejolak harga dan pasokan pangan akan mereda pada Agustus, lantaran panen raya terhadapp jagung, pisang daan singkong mulai terjadi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pangan afrika covid-19

Sumber : Bloomberg

Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top