Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Intrik Politik Erdogan di Balik Masjid Hagia Sophia

Presiden Turki Erdogan akhirnya mencapai keinginannya sejak lama untuk mengubah fungsi Museum Hagia Sophia menjadi masjid
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 11 Juli 2020  |  02:28 WIB
Hagia Sophia di Istanbul, Turki./Antara - Pixabay
Hagia Sophia di Istanbul, Turki./Antara - Pixabay

Bisnis.com, JAKARTA— Berubahnya fungsi Museum Hagia Sophia menjadi masjid menyisakan intrik politik Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Dikutip dari Bloomberg, Sabtu (11/7/2020), Direktur Program Riset Turki di Washington Institute for Near East Policy, Soner Cagaptay mengatakan langkah Erdogan tak akan berpengaruh banyak terhadap penerimaan masyarakat terhadapnya.  

“Bahkan bila pengubahan Hagia Sophia akan menaikkan angka penerimaannya beberapa poin, kenaikannya tak akan berlangsung lama,” katanya.

Menurutnya, popularitas Turki yang digenggam sebelumnya tak akan bisia dikembalikan. Pasalnya, negara yang sebagian besar negaranya berada di Asia itu telah dikenal dunia internasional sebagai negara yang terbuka.

“Masyarakat dengan mayoritas muslim damai dengan warisan Kristen,” katanya.

Erdogan menginginkan konsolidasi dukungan di antara para pemilih yang cenderung nasionalis yang tengah digaet oleh partai pesaing baru. Dia pun menginginkan pertumbuhan kekuatan pemilih muslimnya setelah mengintervensi di Suriah dan mengubah perang Libya serta turut serta dalam perebutan aset energi di Timur Tengah.

Namun, kelemahannya tak bisa tertutupi. Partainya yang berkuasa, AK Party kehilangan kendali di Istanbul dan Ankara pada pemilu tahun lalu. Sejak saat itu, suksesi ekonomi di tangan Erdogan merosot dan yang terbaru juga terdampak virus corona.

Ternyata di tengah masalah itu, Erdogan kukuh menolak oposisi pengubahan status Hagia Sophia mulai dari Washington hingga Yunani yang memintanya untuk menjaga agar situs warisan dunia itu tetap difungsikan sebagai museum. Bangunan tersebut membawa signifikansi bagi warga Yunani yang melihatnya sebagai monumen Kristen yang paling penting dan peninggalan tradisi orthodox di era Kerajaan Byzantine.

Dalam keterangannya, UNESCO meminta agar pemerintah Turki melakukan dialog sebelum membuat keputusan yang berdampak pada nilai universal situs tersebut. Kendati demikian, pemerintah tetap pada keputusannya dan menyebut bahwa pengunjung masih bisa mengunjungi bangunan tersebut sama seperti Masjid Biru di Istanbul,Turki.

Adapun, status Hagia Sophia memang terus berubah. 500 tahun setelah penaklukan Istanbul, Hagia Sophia merupakan masjid. Namun, pada 1934 bangunan tersebut lantas membuat bangunan tersebut menjadi museum atas izin Mustafa Kemal Ataturk, pendiri republik modern dan sekuler.

Erdogan, menghabiskan empat bulannya di penjara pada 1999 karena menghasut kebencian religius setelah membacakan puisi dalam demonstrasi. Puisi tersebut berisi bahwa masjid adalah barak, kubah adalah helm, menara adalah bayonet dan kesetiaan tentaranya.

Ratusan muslim pendukung pengubahan status bangunan itu menguarakan tuhan maha besar karena pengadilan merilis status terbaru Hagia Sophia yang pada era Byzantine merupakan katedral. Dalam dua jam, Erdogan merilis surat keputusan tentang perubahan status itu dan menyerahkan pengelolaannya ke direktorat keagamaan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

turki Recep Tayyip Erdogan

Sumber : Bloomberg

Editor : Duwi Setiya Ariyanti
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top