Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Jepang Menentang Kehadiran Korsel dalam Pertemuan G7

Jepang juga ingin mempertahankan statusnya sebagai satu-satunya negara Asia dalam kelompok G7.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 29 Juni 2020  |  14:11 WIB
Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe melepas maskernya sebelum berbicara dalam sebuah konferensi pers di Tokyo, Jepang, Senin (25/5/2020)./Bloomberg - Reuters/Kim Kyung/Hoon
Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe melepas maskernya sebelum berbicara dalam sebuah konferensi pers di Tokyo, Jepang, Senin (25/5/2020)./Bloomberg - Reuters/Kim Kyung/Hoon

Bisnis.com, JAKARTA – Jepang menentang perubahan pada komposisi negara-negara G7 usulan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang mengundang Korea Selatan dalam pertemuan tahun ini.

Dilansir dari Bloomberg, Kyodo News melaporkan akhir pekan ini bahwa pemerintah Jepang mengatakan kepada AS bahwa pihaknya menentang partisipasi Korea Selatan dengan alasan perbedaan kebijakan mengenai China dan Korea Utara.

Selain itu, Jepang juga ingin mempertahankan statusnya sebagai satu-satunya negara Asia dalam kelompok G7.

Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga mengatakan kepada wartawan pada Senin (29/6/2020) mengenai pentingnya mempertahankan kerangka kerja G7 sebagaimana adanya.

Dia menambahkan bahwa hal ini tergantung pada AS yang menjadi tuan rumah pertemuan tahun ini untuk memutuskan pengaturan untuk pertemuan berikutnya. G7 sering mengundang negara-negara lain untuk mengambil bagian sebagai tamu.

Hubungan diplomatik Jepang dan Korea Selatan terus memburuk sejak beberapa tahun terakhir, yang dipicu oleh pendudukan pemerintahan kolonial Jepang 1910-1945 di Semenanjung Korea. Ketegangan keduanya telah melonggarkan hubungan dagang dan keamanan bersama bagi kedua sekutu AS tersebut, bahkan saat keduanya menghadapi ancaman dari Korea Utara dan hidup dalam bayang-bayang militer China.

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan mengatakan dalam sebuah pernyataan Senin pada bahwa mereka akan menahan diri untuk tidak mengomentari laporan tersebut.

Trump mengatakan pada bulan Mei bahwa dia mempertimbangkan untuk mengundang Rusia, Korea Selatan, Australia dan India ke pertemuan G7 yang diperluas, bersama tujuh negara anggota lainnya.

Trump mengatakan pertemuan itu bisa diadakan akhir pekan sebelum atau setelah Majelis Umum PBB, yang dijadwalkan akan dibuka secara virtual pada 15 September dan akan berlangsung hingga 30 September.

"Mungkin saya akan melakukannya setelah pemilihan. Saya pikir waktu yang tepat adalah sebelum pemilihan," ungkap Trump akhir Mei lalu.

Rencana pertemuan langsung pada bulan Juni dibatalkan di tengah kekhawatiran pandemi virus Corona. AS kini tercatat sebagai negara dengan jumlah infeksi dan kematian akibat Covid-19 tertinggi di dunia dan dilanda lonjakan kasus baru dalam beberapa hari terakhir.

Negara anggota G7 saat ini adalah AS, Jepang, Jerman, Kanada, Inggris, Prancis dan Italia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jepang korea selatan

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top