Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Otoritas Inggris Investigasi 4 Apotek terkait Percaloan Cairan Antiseptik

CMA menginvestigasi 4 apotek, tapi enggan membeberkan nama dan alamat apotek-apotek tersebut.
Herdanang Ahmad Fauzan
Herdanang Ahmad Fauzan - Bisnis.com 19 Juni 2020  |  19:13 WIB
Suasana sepi di Tower Bridge di London, Inggris, Kamis (9/4/2020). Saat Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berada di unit perawatan kritis karena Covid-19, sejumlah pejabat menyusun rencana untuk memperpanjang masa lock down untuk mengendalikan krisis karena virus corona. Bloomberg - Simon Dawson
Suasana sepi di Tower Bridge di London, Inggris, Kamis (9/4/2020). Saat Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berada di unit perawatan kritis karena Covid-19, sejumlah pejabat menyusun rencana untuk memperpanjang masa lock down untuk mengendalikan krisis karena virus corona. Bloomberg - Simon Dawson

Bisnis.com, JAKARTA - Otoritas Persaingan Pasar (Competition and Market Authoriti / CMA) tengah melakukan investigasi terhadap empat gerai apotek di Inggris, Jumat (19/6/2020). Seperti dilaporkan Bloomberg, keempat apotek tersebut diselidiki atas tuduhan penggelembungan harga cairan antiseptik.

Namun, kepada awak media, CMA enggan membeberkan identitas keempat terduga. Identitas masing-masing baru akan dibeberkan apabila investigasi berhasil membuktikan bila praktik calo tersebut benar adanya.

Sorotan kepada CMA sempat muncul pada bulan lalu, lantaran mereka membuat tudingan yang salah atas salah satu toko daring di Inggris yang mereka tuding melakukan praktik percaloan. Kondisi ini diyakini juga ikut bikin CMA berhati-hati,

CMA hanya memberikan keterangan bahwa saat ini investigasi masih pada tahap awal. Ini juga merupakan kali kedua mereka membuat pengumuman temuan ke publik setelah lembaga tersebut memulai inspeksi rutin bulan lalu.

Penyelidikan intensif CMA juga merupakan tindak lanjut atas temuan Kepolisian Inggris pada bulan April 2020. Saat itu polisi menduga ada praktik kongkalikong antara sejumlah penjual alat kesehatan di Inggris dengan importir asal Jerman untuk merekayasa harga di pasaran.

Kebutuhan publik Inggris akan alat-alat kesehatan, termasuk masker dan cairan antiseptik memang sedang tinggi-tingginya. Apalagi, kasus Covid-19 di Negeri Ratu Elizabeth telah melampaui angka 300.000 per Jumat (19/6/2020).

Dari jumlah membludak itu, 42.288 orang di antaranya telah dinyatakan meninggal dunia, demikian menurut data terbaru Johns Hopkins University.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

inggris Virus Corona covid-19

Sumber : Bloomberg

Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top