Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Terjerat Utang, Afrika Terancam Sulit Bangkit dari Keterpurukan Akibat Covid-19

Beberapa negara di Afrika lebih banyak mengalokasikan anggara untuk membayar utang dibandingkan pembangunan infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 11 Juni 2020  |  12:30 WIB
Pasar tradisional di Abuja, Nigeria - Bloomberg
Pasar tradisional di Abuja, Nigeria - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Lonjakan utang yang dialami oleh negara-negara di kawasan Afrika berpotensi menyedot alokasi dana untuk pembangunan infrastruktur. Hal ini juga dapat memupuskan harapan pemulihan ekonomi yang cepat setelah pandemi virus corona.

Dilansir dari Bloomberg pada Kamis (11/6/2020), laporan dari Institute of International Finance menyatakan, saat ini kawasan Sub-Sahara Afrika menanggung beban utang senilai US$36,6 miliar.

Pada kuartal I/2020, Nigeria memiliki utang 7 kali lebih besar dibandingkan dengan anggaran pembangunan jalan tol dan jembatan. Sementara itu, pembayaran bunga utang yang akan dilakukan Ghana pada kuartal I/2020 juga akan menjadi yang terbesar sejak 2016 lalu.

Anggaran untuk pelayanan publik juga akan terserap oleh biaya pinjaman negara-negara Afrika. Laporan European Network on Debt and Development menyatakan, dana alokasi untuk pelayanan publik di Kawasan Sub-Sahara Afrika telah turun 15 persen dalam periode waktu 2014 – 2018.

Sementara itu, laju pertumbuhan biaya utang di Afrika Selatan akan tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan pengeluaran di sektor lain. Hal serupa juga terjadi di Kenya dan Ghana, di mana kedua negara lebih banyak menghabiskan anggaran untuk membayar utang dibandingkan pembangunan infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan.

Data dari Bank Dunia menyebutkan, Produk Domestik Bruto (PDB) di kawasan Sub-Sahara Afrika akan terkontraksi 2,8 persen pada 2020 setelah 25 tahun sebelumnya terus mencatatkan pertumbuhan positif. 

Hal ini disebabkan oleh penurunan kegiatan ekonomi karena pandemi virus corona yang berimbas pada anjloknya kegiatan ekspor dan pendapatan negara dari sektor pajak.

Berbeda dengan negara-negara kaya yang dapat mengucurkan dana untuk mendorong kegiatan ekonomi, negara di kawasan Afrika kini harus mengambil pinjaman yang lebih besar guna menekan dampak negatif pada sektor ekonomi akibat pandemi global.

“Biaya pengambilan utang, dan beban utang yang kian besar akan membuat pemulihan ekonomi di Afrika sulit,” ujar mantan Menteri Pekerjaan Umum Liberia dan Senior Fellow di Center for Global Development, Gyude Moore.

Sementara itu, Senior Research di Centre for the Study of the Economies of Africa, Adedeji Adeniran mengatakan, krisis utang akan terjadi pada negara-negara di kawasan Afrika yang memiliki banyak utang luar negeri dan akan jatuh tempo pada tahun ini.

Akibat banyaknya utang yang ditanggung, sejumlah pihak meramalkan wilayah Afrika menghadapi jalan terjal dalam pemulihan ekonominya. Heaf of Africa Research Verisk Maplecroft, Indigo Ellis mengatakan, negara dengan industri yang beragam dan modal yang cukup akan pulih lebih cepat dibandingkan negara yang hanya bergantung pada satu sektor ekonomi.

Ia melanjutkan, apabila harga minyak tetap rendah, biaya utang salah satu penghasil minyak mentah terbesar, Nigeria, akan memakan 96 persen anggaran negara. Sementara itu, laporan dari International Monetary Fund (IMF) pada bulan Juni menyatakan, seluruh pendapatan Angola pada tahun 2020 akan habis untuk melakukan pembayaran utang.

“Krisis utang ini dapat menjadi pembelajaran bagi para pejabat di wilayah Afrika untuk melakukan  perubahan drastis dalam upayanya memulihkan perekonomian,” ujar Research Fellow di Overseas Development Institute, Dirk Willem te Velde.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

utang afrika
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top