Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pengacara Sebut George Floyd Korban Pembunuhan Terencana

George Floyd, warga kulit hitam yang tewas di tangan petugas kepolisian sebagai korban pembunuhan terencana
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 01 Juni 2020  |  06:52 WIB
Pengacara Sebut George Floyd Korban Pembunuhan Terencana
Aksi pembakaran sebagai bentuk kemarahan atas kematian warga kulit hitam oleh anggota kepolisian di Amerika Serikat (Bloomberg)
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA— Seorang pengacara Keluarga George Floyd menyebut kematian kliennya merupakan akibat dari pembunuhan terencana.

Dikutip dari BBC, Senin (6/1/2020), pengacara Benjamin Crump menyebut kasus pembunuhan George Floyd merupakan pembunuhan tingkat pertama yakni pembunuhan terencana. Adapun, Derek Chauvin, seorang anggota kepolisian Minneapolis yang menjadi pelaku pembunuhan itu dituduh dengan kasus pembunuhan tingkat tiga.

“Kami menilai dia memiliki intensi. Hampir 9 menit dia menahan lututnya di leher seorang pria yang mengemis dan memohon untuk bernapas,” katanya saat diwawancarai CBS news.

Seperti diketahui, permintaan George Floyd agar bisa bernapas itu menjadi kalimat terakhirnya yang tersebar luas dalam sebuah video. Walhasil, kematian George Floyd yang dituduh menggunakan uang palsu itu memantik kemarahan masyarakat Amerika Serikat.

Tenaga militer diturunkan untuk mengamankan situasi darurat lokal yakni 5.000 personel di 15 negara bagian.

Crump juga menyebut bahwa dari rekaman suara diperoleh salah satu petugas polisi lainnya menilai tak ada detak jantung yang terasa sehingga meminta agar Floyd dilepaskan. Namun, saat itu Chauvin menolaknya dan melanjutkan penganiayaannya.

“Selain itu, fakta bahwa Chauvin mempertahankan lututnya di lehernya [George Floyd] selama hampir 3 menit setelah dia tak sadarkan diri,” katanya.

Sementara itu, dikutip dari Aljazeera, kematian Floyd menambah panjang kasus kematian warga kulit hitam oleh petugas polisi. Aljazeera mencatat setidaknya pada 2013 hingga 2019 polisi di Amerika Serikat membunuh 7.666 orang.

Data tersebut diperoleh dari lembaga riset dan advokasi Mapping Police Violence.

Angka pembunuhan oleh polisi memengaruhi warga Afrika-Amerika. Kendati hanya berkontribusi hingga 13 persen terhadap total populasi AS, warga kulit hitam 2,5 kali lebih sering dibunuh oleh polisi dibandingkan dengan warga kulit putih.

Dari peta pembunuhan warga kulit hitam, California, Texas dan Florida mencatat rekor pembunuhan warga kulit hitam oleh polisi. Populasi warga kulit hitam di California mencapai 6,17 persen dengan 186 warga yang terbunuh.

Kemudian, Texas yang memiliki 11,85 persen warga kulit hitam mencatat 157 kematian. Terakhir, Florida yang memiliki populasi warga kulit hitam sebesar 15,96 persen merekam 169 kematian.

Sementara itu, di Minnesota warga kulit hitam memiliki peluang hingga empat kali lebih besar terbunuh oleh penegakan hukum dengan 20 persen yang terbunuh meskipun hanya 5 persen dari total populasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat rasisme

Sumber : BBC, Aljazeera

Editor : Duwi Setiya Ariyanti
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top