Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pemerintah Hong Kong Diminta Susun Kebijakan Wisata Khusus

Badan promosi pariwisata Hong Kong menyarankan agar kota itu dapat membentuk sebuah kebijakan wisata atau yang disebut dengan travel bubbles dengan tetangga.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 23 Mei 2020  |  11:50 WIB
Hotel InterContinental Hong Kong. Industri perhotelan menjadi salah satu industri yang paling terdampak pandemi Covid/19 di Hong Kong. /InterContinental Hotel
Hotel InterContinental Hong Kong. Industri perhotelan menjadi salah satu industri yang paling terdampak pandemi Covid/19 di Hong Kong. /InterContinental Hotel

Bisnis.com, JAKARTA — Badan promosi pariwisata Hong Kong menyarankan agar kota itu dapat membentuk sebuah kebijakan wisata atau yang disebut dengan travel bubbles dengan tetangga regional yang berhasil menangani pandemi virus corona.

Cara ini diharapkan dapat menghidupkan kembali industri pariwisata dengan mengundang para pelancong yang selama beberapa bulan terakhir berhenti bepergian akibat krisis kesehatan.

Kepala Eksekutif Dewan Pariwisata Hong Kong Dane Cheng Ting-yat pada Jumat (22/5/2020), meminta pemerintah untuk mempercepat penciptaan hubungan tersebut dengan pasar jarak pendek seperti Makau, Korea Selatan, Thailand, dan bahkan China daratan.

"Dengan kedatangan jatuh hampir 100 persen ... pada April terhadap periode yang sama tahun lalu, skema ini bisa menjadi cara untuk membawa kembali pelancong. Ini waktu yang tepat untuk mempertimbangkannya," kata Cheng seperti dikutip melalui SCMP, Sabtu (23/5/2020).

Negara-negara seperti Australia dan Selandia Baru sudah mendiskusikan pembentukan gelembung perjalanan serupa, sedangkan Estonia, Latvia, dan Lithuania telah mencapai kesepakatan yang memungkinkan penduduk untuk bepergian dengan bebas tanpa menjalani karantina.

Sebagai bagian dari strategi jangka pendek untuk menghidupkan kembali pariwisata, Cheng mengatakan bahwa dewan akan memperkenalkan 11.000 promosi yang mencakup makanan, belanja, hotel hingga atraksi, mulai pertengahan Juni dalam kampanye yang disebut "Hello Hong Kong".

"Jika promosi berjalan dengan baik, kami akan memperluasnya ke pelancong luar negeri di tahap berikutnya," katanya, seraya menambahkan kampanye ini diperkirakan dapat menelan biaya sekitar HK$40 juta atau US$5,15 juta.

Belum lama ini, secara tiba-tiba Beijing berwacana ingin memberlakukan undang-undang keamanan nasional di Hong Kong, yang dikhawatirkan dapat memperkeruh kerusuhan sosial yang berlangsung sejak tahun lalu.

Menurut Chen, hingga saat ini perhatian utama para pelancong luar negeri masih tertuju pada penanganan pandemi virus corona dan dewan pariwisata akan memfokuskan diri pada krisis ini terlebih dahulu.

Seorang juru bicara Biro Pengembangan Perdagangan dan Ekonomi Hong Kong mengatakan bahwa pihaknya sedang bersiap untuk meluncurkan kembali sektor pariwisata kota setelah menilai saran dari otoritas kesehatan, dan memberlakukan pengaturan karantina, transportasi, dan imigrasi dengan pasar luar negeri.

Sampai dengan Jumat (22/5), Hong Kong mencatat dua kasus Covid-19 baru, keduanya merupakan kasus impor sehingga totalnya menjadi 1.065 kasus.

Kota ini rata-rata mencatat kurang dari 100 kedatangan per hari dalam empat bulan pertama tahun ini dibandingkan dengan sekitar 200.000 pada waktu normal.

Perjalanan global terhenti, dengan lebih dari 65 maskapai penerbangan memangkas sekitar 95 persen penerbangan pada April dan Mei.

Cheng mengatakan bahwa dibutuhkan waktu lebih lama bagi pariwisata Hong Kong untuk pulih karena banyak penerbangan jarak jauh diperkirakan tidak akan dilanjutkan sampai kuartal keempat tahun ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pariwisata hong kong
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top