Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penelitian: Polusi Mikroplastik di Lautan Jauh Lebih Banyak dari Perkiraan

Banyaknya polusi mikroplastik di lautan tampaknya menjadi isu yang terpinggirkan, penelitian terbaru menunjukkan setidaknya ada dua kali lipat jumlah partikel tersebut dari yang diperkirakan sebelumnya.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 22 Mei 2020  |  22:06 WIB
Pencemaran laut di Filipina. - Reuters/Erik de Castro
Pencemaran laut di Filipina. - Reuters/Erik de Castro

Bisnis.com, JAKARTA – Banyaknya polusi mikroplastik di lautan tampaknya menjadi isu yang terpinggirkan, penelitian terbaru menunjukkan setidaknya ada dua kali lipat jumlah partikel tersebut dari yang diperkirakan sebelumnya.

Para ilmuwan menjelajah perairan di lepas pantai Inggris dan Amerika Serikat, dan menemukan lebih banyak partikel dengan menggunakan jaring dengan ukuran mata jaring yang lebih halus, dibandingkan dengan jaring yang biasanya digunakan untuk menyaring mikroplastik.

Penambahan partikel-partikel yang lebih kecil ini meningkatkan perkiraan global tentang mikroplastik dari 5-50 triliun menjadi 12-125 triliun partikel. Partikel yang lebih kecil ini sangat memprihatinkan karena ukurannya sama dengan makanan yang dimakan oleh zooplankton.

Bahkan, sebuah data menunjukkan ada lebih banyak partikel mikroplastik daripada zooplanton di beberapa perairan. Padahal, zooplankton sendiri memiliki peran penting sebagai rantai makanan laut. Sementara, polusi mikroplastik diketahui berbahaya bagi kelangsungan hidup biota laut.

“Perkiraan konsentrasi mikroplastik laut saat ini sangat tidak mendapatkan perhatian. Bisa jadi ada lebih banyak lagi partikel yang lebih kecil dari yang ditangkap oleh jaring halus,” kata Pennie Lindeque, pemimpin penelitian dari Plymouth Marine Laboratory seperti dikutip The Guardian, Jumat (22/5/2020).

Sementara itu, studi baru lainnya menunjukkan bagaimana mikroplastik memasuki rantai makanan di wilayah perairan sungai, dengan bukti ditemukannya burung yang mengonsumsi ratusan partikel per hari melalui serangga air tempat mereka makan.

Polusi mikroplastik telah mencemari planet ini, mulai dari salju kutub dan tanah gunung hingga banyak sungai dan samudera terdalam. Ini juga banyak dikonsumsi dan dihirup oleh orang-orang, tetapi dampak kesehatannya masih belum dipastikan.

Penelitian terbaru yang dilakukan Lundeque dan tim, menggunakan jaring dengan ukuran mata jaring 100 mikron (0,1 mm), 333 mikron, dan 500 mikron. Mereka menemukan 2,5 kali lebih banyak partikel dalam jaring 100 mikron dibandingkan dengan jaring 333 mikron yang biasanya digunakan.

Permukaan pukat di lepas pantai Pltmouth di Inggris dan pantai Maine di Amerika Serikat menunjukkan hasil yang sama. Hal ini berarti bahwa keduanya mewakili perairan di dekat tanah penduduk. Partikel yang ditemukan didominasi oleh serat dari tekstil seperti tali, jaring, dan pakaian.

“Menggunakan ekstrapolasi, kami menemukan konsentrasi mikroplastik bisa lebih dari 3.700 partikel per meter kubik, jauh lebih banyak daripada jumlah zooplankton yang dapat Anda temukan,” katanya.

Dia menambahkan bahwa zooplankton sendiri adalah satu spesies yang paling berlimpah di dunia.

Ceri Lewis, ahli biologi kelautan di Exeter University mengatakan bahwa pemahaman yang lebih banyak tentang mikroplastik menjadi hal penting, karena partikel yang lebih kecil inilah yang kemungkinan besar akan dicerna oleh zooplankton dan membentuk dasar dari rantai makanan laut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

inggris kelautan Sampah Plastik
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top