Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tingkat Pengangguran di Hong Kong Naik ke Level Tertinggi Sejak 2009

Tingkat pengangguran di Hong Kong menanjak ke level tertinggi dalam lebih dari satu dekade, di tengah pandemi virus corona (Covid-19) dan prospek kekacauan politik domestik lebih lanjut.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 19 Mei 2020  |  17:15 WIB
Bangunan residensial di Hong Kong. - Bloomberg/Justin Chin
Bangunan residensial di Hong Kong. - Bloomberg/Justin Chin

Bisnis.com, JAKARTA – Tingkat pengangguran di Hong Kong menanjak ke level tertinggi dalam lebih dari satu dekade, di tengah pandemi virus corona (Covid-19) dan prospek kekacauan politik domestik lebih lanjut.

Tingkat pengangguran untuk periode Februari hingga April 2020 naik menjadi 5,2 persen, level tertinggi sejak Oktober 2009.

Tak hanya lebih buruk dari estimasi median sebesar 4,6 persen di antara para ekonom yang disurvei oleh Bloomberg, kenaikan tersebut menambah rangkaian kenaikan terpanjang sejak krisis keuangan global.

“Pasar tenaga kerja akan terus menghadapi tekanan besar dalam waktu dekat," ujar Law Chi-kwong, Menteri Perburuhan dan Kesejahteraan Hong Kong, dalam rilisnya, seperti dilansir dari Bloomberg, Selasa (19/5/2020).

“Pasar tenaga kerja menunjukkan penurunan tajam lebih lanjut karena pandemi Covid-19 terus membebani berbagai aktivitas ekonomi,” tambahnya.

Rilis pemerintah juga melaporkan tingkat underemployment (setengah pengangguran) melonjak menjadi 3,1 persen, tertinggi dalam lebih dari 15 tahun. Sementara itu, penurunan total pekerjaan dan tenaga kerja secara year-on-year melebar lebih jauh ke rekor baru.

Adapun, pengangguran di sektor konsumsi dan sektor yang terkait pariwisata melonjak menjadi 9 persen, juga tertinggi dalam lebih dari 15 tahun, dengan pengangguran di industri makanan dan minuman mencapai 12 persen.

Tingkat pengangguran yang lebih tinggi adalah indikator terbaru dari kelesuan ekonomi Hong Kong yang semakin dalam. Ekonomi wilayah yang dikendalikan China ini terkontraksi 8,9 persen pada kuartal I/2020 di tengah lockdown untuk menahan persebaran virus itu, menurut data final Departemen Sensus dan Statistik Hong Kong pada 15 Mei.

Ketika negara lain tengah mengupayakan pemulihan pascalockdown, Hong Kong bersiap menghadapi kembalinya aksi protes anti-pemerintah yang telah menjerumuskan kota ini ke dalam resesi tahun lalu.

Peritel Hong Kong khususnya paling terdampak kondisi ini. Menurut Ketua Asosiasi Manajemen Ritel Hong Kong Annie Yau Tse, satu dari empat peritel bisa tutup pada Desember jika penjualan tidak membaik.

Pemerintah Hong Kong telah mengajukan bantuan senilai sekitar HK$287,5 miliar (US$37 miliar) terkait virus corona tahun ini, termasuk program subsidi upah.

“Saya percaya ini dapat mengurangi pengangguran sampai batas tertentu," tutur Menteri Keuangan Paul Chan dalam suatu unggahan pada 17 Mei.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hong kong pengangguran bursa hong kong
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top