Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

China Janjikan Kebijakan Moneter Lebih 'Powerful' Lawan Covid-19

People's Bank of China (PBOC) mengakui negeri yang dipimpin Presiden Xi Jinping ini menghadapi tantangan-tantangan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat pandemi virus corona (Covid-19).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 11 Mei 2020  |  09:08 WIB
China Janjikan Kebijakan Moneter Lebih 'Powerful' Lawan Covid-19
Kantor pusat People's Bank of China di Beijing - Bloomber / Qilai Shen
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – People's Bank of China (PBOC) mengakui negeri yang dipimpin Presiden Xi Jinping ini menghadapi tantangan-tantangan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat pandemi virus Corona (Covid-19).

Oleh karenanya, bank sentral China tersebut akan menggunakan kebijakan-kebijakan yang "lebih kuat" untuk melawan dampak pukulan pandemi virus mematikan tersebut terhadap pertumbuhan.

Melalui laporan implementasi kebijakan moneter triwulanan yang dirilis Minggu (10/5/2020), PBOC menyatakan para pembuat kebijakan akan lebih memperhatikan pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan di antara berbagai targetnya.

PBOC juga menegaskan bahwa kebijakan moneter yang hati-hati akan lebih fleksibel dan tepat, serta akan menjaga likuiditas pada tingkat yang wajar.

Di sisi lain, frase "akan menghindari kelebihan likuiditas membanjiri perekonomian" dihilangkan dari bagian prospek kebijakan, setelah tercantum dalam laporan sebelumnya untuk kuartal IV/2019.

Menurut Ming Ming, kepala riset fixed-income di Citic Securities Co., penghilangan frase itu menandakan ekspansi kebijakan moneter lebih lanjut dan menunjukkan kebijakan telah bergeser ke arah tujuan lain yang lebih penting.

“Kebijakan moneter akan diperkuat dan difokuskan pada membantu ekonomi riil melanjutkan pembangunan, termasuk pemulihan dalam produksi, konsumsi, dan permintaan domestik, meskipun lajunya akan diperhitungkan sesuai dengan inflasi dan nilai tukar,” terang Ming, seperti dilansir dari Bloomberg, Senin (11/5/2020).

Berikut beberapa pokok laporan tersebut:

- PBOC akan memajukan reformasi suku bunga sehubungan dengan suku bunga pinjaman dan memandu suku bunga pinjaman lebih rendah.

- Bagian outlook kebijakan menghapus deskripsi biasa tentang alat apa yang direncanakan bank untuk digunakan guna mengarahkan pinjaman bank ke ekonomi riil. Sebelumnya, PBOC secara eksplisit menyatakan bahwa mereka akan menggunakan pemotongan untuk rasio cadangan wajib (RRR) dan juga untuk RRR yang ditargetkan.

- PBOC akan menjadikan China sebagai salah satu dari sedikit negara berekonomi besar yang menerapkan kebijakan moneter "normal".

- PBOC akan membawa kebijakan re-lending dan re-discounting ke dalam penggunaan penuh serta memperluas dukungan kredit untuk sektor-sektor yang terdampak Covid-19 seperti pertanian dan perdagangan.

- PBOC pada dasarnya akan mempertahankan harga yang stabil karena fundamental-fundamental ekonomi China menunjukkan tidak ada alasan untuk inflasi jangka panjang atau deflasi.

- PBOC akan mendorong bank-bank untuk mengisi kembali modal melalui saluran-saluran termasuk perpetual bond.

- PBOC akan membendung risiko-risiko keuangan, memastikannya secara umum terkendali.

- Ekonom di Industrial Securities Co. berpendapat deskripsi PBOC tentang dampak virus corona terhadap ekonomi global dan China terdengar lebih konservatif ketimbang yang diuraikan dalam laporan sebelumnya yang diterbitkan pada bulan Februari. Laporan itu mengatakan ekonomi global telah tergelincir ke "jalur resesi" dalam jangka pendek, dan dampak virus dapat melebihi ekspektasi. Sementara itu, outlook internasional untuk mengendalikan wabah ini tetap tidak jelas dan ruang kebijakan global terbatas.

- Diperlukan perhatian terhadap efek pelonggaran moneter di negara-negara besar lainnya, termasuk pada neraca pembayaran China.

- Menurut laporan itu, suku bunga untuk Standing Lending Facility dipangkas sebesar 30 basis poin pada 10 April. Bulan lalu, Bloomberg melaporkan bahwa suku bunga kemungkinan akan diturunkan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china ekonomi china
Editor : Hadijah Alaydrus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top