Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sepak Terjang Tencent, Ekonomi China, dan Ancaman Alibaba

Pandemi virus corona (Covid-19) kemungkinan besar tidak benar-benar berdampak pada pertumbuhan Tencent Holdings Ltd., berkat dominasinya di industri online mulai dari game hingga media sosial.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 11 Mei 2020  |  08:26 WIB
Presiden Grup Bank Dunia Jim Yong Kim (kiri) bersama Pendiri Alibaba Jack Ma menjadi pembicara di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10/2018). - ANTARA/M Agung Rajasa
Presiden Grup Bank Dunia Jim Yong Kim (kiri) bersama Pendiri Alibaba Jack Ma menjadi pembicara di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10/2018). - ANTARA/M Agung Rajasa

Bisnis.com, JAKARTA – Pandemi virus corona (Covid-19) kemungkinan besar tidak benar-benar berdampak pada pertumbuhan Tencent Holdings Ltd., berkat dominasinya di industri online mulai dari gim hingga media sosial.

Namun, seiring dengan mulai bangkitnya industri China dari wabah terburuk tersebut, ancaman jangka panjang yang lebih besar bagi kinerja perusahaan mungkin adalah bertambahnya rival terhadap kepemimpinan Tencent di industri internet.

Operator WeChat ini diperkirakan akan melaporkan peningkatan pendapatan sebesar 18 persen ketika melaporkan merilis laporan keuangannya pada Rabu (13/5/2020).

Meski sedikit turun dari kisaran 20 persen pada kuartal sebelumnya, raihan tersebut relatif tetap baik berkat layanan cloud dan finansial serta banyaknya penduduk yang mencari hiburan di dalam rumah.

Itulah mengapa nilai pasar Tencent mampu melonjak lebih dari US$28 miliar sejak wabah Covid-19 pertama kali pecah, melawan arus kemerosotan pasar global dan kontraksi ekonomi China.

Produk domestik bruto (PDB) China terkontraksi 6,8 persen pada kuartal I/2020 dari tahun sebelumnya, di tengah hantaman pandemi virus corona terhadap negeri ini dan prospek perekonomian global.

Perolehan ini menjadi kinerja terburuk bagi ekonomi China sejak setidaknya tahun 1992 ketika rilis resmi PDB kuartalan dimulai, sekaligus lebih buruk daripada proyeksi konsensus untuk penyusutan sebesar 6 persen.

Tetapi begitu krisis ini mereda, Tencent harus menghadapi tantangan baru dari raksasa-raksasa seperti Alibaba Group Holding Ltd. dan ByteDance Ltd., yang semakin merajelala.

Perusahaan-perusahaan teknologi terbesar di China kini dapat melanjutkan ekspansi di luar bisnis andalan mereka serta mengembangkan layanan dari periklanan ke game dan pembayaran. Langkah ini serta merta dapat menjegal kiprah Tencent.

Platform-platform internet besar ini ambisius dan mereka akan mencoba meningkatkan skala mereka untuk masuk ke bisnis yang bukan inti bagi mereka. Selama bertahun-tahun saya telah melihat banyak dari mereka mencoba untuk melakukannya, tetapi sejauh ini tidak ada yang berhasil menyalip si petahana,” ujar analis Intelijen Bloomberg Vey-Sern Ling.

“Saya pikir perusahaan-perusahaan besar akan terus fokus pada penguatan inti mereka, sembari ambil bagian dalam pertempuran dengan rival-rival mereka di pinggiran,” tambahnya, dilansir dari Bloomberg.

ByteDance telah memikat para pengguna dan pengiklan ke jaringan sosial viralnya. Operator TikTok ini juga sedang bersiap untuk masuk ke dalam area game hardcore.

Selain itu, Ant Financial yang didukung Alibaba membuat versinya sendiri tentang aplikasi yang menjajari WeChat milik Tencent. Bahkan Pinduoduo Inc., platform mirip Groupon yang didukung oleh Tencent, telah beralih ke live streaming dan hadiah virtual demi menjaga loyalitas konsumen pada aplikasinya.

Upaya mereka sejalan dengan bisnis game Tencent. Judul game jagoan Tencent seperti Honor of Kings dan Peacekeeper Elite merebut hati jutaan pemain baru selama lockdown, namun tidak semua penggunanya setia.

Menurut Bloomberg Intelligence mengutip data Sensor Tower, pendapatan gim mobile-nya untuk kuartal pertama mungkin kembali menyusut karena kinerja yang lemah dari hit yang menua ini.

Di sisi lain, rilis baru dari unit game Alibaba dan Bilibili Inc. melonjak dalam hal penjualan selama beberapa pekan terakhir, menempel penawaran-penawaran yang diajukan Tencent.

Persaingan di dalam negeri telah mendorong Tencent untuk semakin mengeksplor luar negeri demi pertumbuhan di masa depan. Perusahaan telah melancarkan Honor of King edisi global ke sejumlah pasar baru mulai dari Rusia hingga Timur Tengah.

Judul-judul game internasional diketahui menyumbang 23 persen dari pendapatan game online Tencent pada kuartal terakhir 2019. Perusahaan juga berencana untuk meluncurkan aplikasi musik Joox ke negara-negara terpadat di Afrika.

Tencent sendiri sedang menjajaki pasar baru. Secara gabungan, layanan fintech dan cloud kini menjadi divisi Tencent yang tumbuh paling cepat, menghasilkan lebih dari seperempat pendapatan perusahaan pada tahun 2019.

“Bisnis iklan sosial perusahaan dapat terus tumbuh kuat, meskipun dalam kondisi industri yang menantang, karena permintaan tinggi dan inventaris baru yang dirilis pada pertengahan Februari,” tutur Analis Bloomberg, Vey-Sern Ling dan Tiffany Tam.

“Namun, segmen fintech dan layanan bisnisnya dapat memberikan pertumbuhan yang lebih lambat karena pembayaran offline menurun selama pandemi dan beberapa proyek komputasi cloud tertunda,” tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tencent ekonomi china alibaba
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top