Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Merinding, Lagu 'Pamer Bojo' Didi Kempot Dalam Denting Piano Jaya Suprana

Jaya Suprana memang salah satu pengagum berat Didi Kempot. Beberapa kali dia menulis sosok Didi Kempot pada catatan hariannya. Bahkan dia pernah menulis secara spesifik makna lagu Pamer Bojo tersebut. 
Hendri Tri Widi Asworo
Hendri Tri Widi Asworo - Bisnis.com 07 Mei 2020  |  13:30 WIB
Didi Kempot sedang bermain gitar - instagram
Didi Kempot sedang bermain gitar - instagram

Bisnis.com, JAKARTA - Jaya Suprana memiliki cara sendiri untuk mengenang maestro campursari Didi Kempot. Pemilik produk Jamu Jago dan Museum Rekor Indonesia itu memainkan salah satu lagu Lord of Broken Heart Pamer Bojo.

Seperti terlihat pada video yang diunggah oleh akun Youtube milik Dahlan Iskan, DI's Way, Jaya Suprana terlihat memain piano di ruang utama rumahnya. Dia memakai kaos hitam dengan kain batik di leher yang selaras dengan celananya.

Pengagum Beethoven itu memainkan tembang Pamer Bojo dengan gaya musik klasik. Jaya Suprana terlihat menghayati dalam memainkan lagu tersebut. Raut mukanya terlihat sedih. Sesekali dia memajamkan mata sembari tertunduk dalam menghayati lagu itu. (lihat link video di bawah)

Jaya Suprana memang salah satu pengagum berat Didi Kempot. Beberapa kali dia menulis sosok Didi Kempot pada catatan hariannya. Bahkan dia pernah menulis secara spesifik makna lagu Pamer Bojo tersebut. 

"Syair lagu 'Pamer Bojo' merupakan amanat kekecewaan rakyat terhadap sepak terjang para politisi yang gemar mengobral janji manis di masa kampanye pemilu agar dipilih oleh rakyat. Namun setelah berhasil dipilih oleh rakyat untuk duduk di singgasana kekuasaan maka penguasa ingkar janji manis yang diobral di masa kampanye," tulis Jaya Suprana seperti dikutip dari zonaterbang.id.

Untuk mengetahui syair Pamer Bojo berikut ini liriknya:

Koyo ngene rasane wong kang nandang kangen
Rino wengi atiku rasane peteng
Tansah kelingan kepingin nyawang
Sedelo wae uwis emoh tenan
Cidro janji tegane kowe ngapusi
Nganti sprene suwene aku ngenteni
Nangis batinku nggrantes uripku
Teles kebes netes eluh neng dadaku
Dudu klambi anyar sing nang njero kamar
Nanging bojo anyar sing mbok pamerke aku…
Dudu wangi mawar sing tak sawang neng mripatku
Nanging kowe lali, nglarani wong koyo aku
Nengopo seneng aku, yen mung gawe laraku
Pamer bojo anyar, neng ngarepku


Versi Bahasa Indonesia:

Seperti ini rasanya jika seseorang sedang rindu
Setiap malam hatiku rasanya suram
Selalu teringat ingin memandang
Sebentar saja sudah benar-benar nggak mau
Mencederai janji teganya engkau membohongi
Sampai saat ini aku lama menanti
Tangis batinku terluka hidupku
Basah menetes air mata di dadaku
Bukan baju baru yang ada di dalam lemariku
Tapi kekasih baru yang kamu pamerkan kepadaku
Bukan mawar wangi yang kulihat di mataku
Tapi engkau lupa, menyakiti orang sepertiku
Mengapa suka padaku, kalau hanya bikin sakit diriku
Pamer kekasih baru di depanku

Dalam tulisan disway.id, Dahlan Iskan menyebutkan bahwa Jaya Suprana memang penggemar berat Didi Kempot. Jaya Suprana acap kali 'mbrebes mili' atau menanggis saat menyanyikan lagu-lagu Lord of Broken Heart tersebut.

"Ia [Jaya Suprana] bahas syairnya yang menyayat-nyayat hati. 'Begitu dalam makna syair lagu itu [Pamer Bojo]',” begitu tulis Dahlan Iskan.

Menurut Dahlan, begitu mendengar Didi Kempot meninggal dunia Pak Jaya syok. ”Saya [Jaya Suprana] lebih pantas meninggal lebih dulu,” ujar Dahlan mengutip pernyataan Jaya Suprana.

Berikut ini tulisan lengkap Dahlan Iskan yang berjudul Lord Didi:

Obituari terbaik untuk almarhum Didi Kempot adalah yang dibuat Jaya Suprana. Bentuknya: permainan piano --alat musik yang paling dikuasainya.

Di depan piano milik Ayla itu Pak Jaya memainkan lagu Didi Kempot yang paling top saat ini: Pamer Bojo. Ayla merekamnya diam-diam --lihatlah sendiri hasilnya.

Didi Kempot adalah raja campursari Indonesia --terbaik di dunia. Jaya Suprana adalah raja piano Indonesia --yang sering melanglang buana.

Jadinya unik: lagu campursari yang milik rakyat itu dimainkan di piano yang sangat elite.

Itu karena Pak Jaya --bos Jamu Jago dan Museum Rekor Indonesia-- sangat mengagumi Didi Kempot - -di samping tetap mengagumi pemusik klasik Beethoven dan sekelasnya.

Saya sering mengikuti tulisan Pak Jaya. Yang belakangan sangat produktif itu. Tidak hanya sekali Pak Jaya mengulas musik Didi Kempot. Berkali-kali. Pertanda Pak Jaya sangat mengapresiasi raja campursari itu.

Pernah Pak Jaya menulis khusus mengenai lagu Pamer Bojo. Ia bahas syairnya yang menyayat-nyayat hati. ”Begitu dalam makna syair lagu itu,” tulisnya.

Sampai membuat Pak Jaya mbrebes mili.

Maka begitu mendengar Didi Kempot meninggal dunia Pak Jaya syok. ”Saya lebih pantas meninggal lebih dulu,” katanya pada saya.

Setelah kesedihannya reda, Pak Jaya menuju piano. Di rumah Ayla di Jakarta itu memang ada sebuah piano besar. Itu piano kuno. ”Type-nya pun saya sudah lupa. Sudah terhapus,” ujar Pak Jaya merendah. ”Piano ini juga tidak pernah distem ulang. Biarlah. Biar nadanya lebih merakyat,” guraunya.

Saya putar tiga kali Pamer Bojo versi Pak Jaya itu. Pikiran saya melayang ke mana-mana: ke panggung-panggung bersama sang raja di kala belum jadi maharaja seperti sekarang. Juga ke Prapatan Sleko --satu lagunya tentang sebuah perempatan terkenal di kota Madiun. Yang saya (bersama istri) diminta sebagai bintang video clip-nya.

Kenangan saya juga ke pedesaan di pelosok Ngawi. Khususnya ke Desa Majasem. Yakni sebuah desa di lereng timur Gunung Lawu. Di Kecamatan Kendal yang terpencil.

Saya sering ke desa-desa sekitar Majasem. Saya punya keluarga di dekat situ. Di desa Majasem inilah Didi Kempot dimakamkan kemarin sore.

Apa hubungan Didi Kempot dengan Desa Majasem?

Itulah desa istrinya: Hj Saputri. Yang memberi pasangan ini dua anak --dua-duanya meninggal saat masih kecil. Lalu mengambil anak angkat dari lingkungan keluarga sendiri. Anak ini pernah jadi korban bully habis-habisan. Yang akhirnya dijelaskan bahwa ia memang anak angkat --tapi sudah dianggap anak sendiri.

Didi Kempot bertemu sang istri di Jakarta. Waktu itu Didi masih sangat sulit. Saputri anak orang berpunya --untuk ukuran desa.

Setelah nikah, pasangan ini tinggal di Majasem. Sang istri tidak pernah mau diajak pindah ke Solo, ke kampung Didi. Maka Didi Kempot-lah yang pulang-pergi Solo-Majasem.

Ketika belakangan Didi Kempot sudah laris, rumah sang istri itu dipugar. Menjadi rumah yang termegah di desa itu. Adanya jalan tol Ngawi-Solo membuat jarak Majasem ke Solo tinggal 1 jam --dengan mobil.

Mendengar Pamer Bojo versi piano itu saya juga ingat Pamer Bojo versi Tiara –runner-up Indonesian Idol RCTI tahun ini. Di grand final Tiara menyanyikan Pamer Bojo --dipopkan. Lihatlah Pamer Bojo Tiara di YouTube: yang menonton 26 juta orang!

Tentu sudah terlalu banyak yang mengulas kehebatan lagu-lagu Didi Kempot. Tapi saya tetap tidak bisa menjawab: mengapa sejak dua tahun lalu Didi Kempot begitu diidolakan di kampus-kampus. Para mahasiswa --di mana pun-- begitu gilanya ke lagu-lagu Didi Kempot. Yang semua berideologi patah hati, hancur batin, dan siksa perasaan. Begitu banyaknyakah mahasiswa yang patah hati --lalu merasa terwakili oleh lagu seperti Pamer Bojo?

Saya ingat pertunjukan 4 bulan lalu di Surabaya. Didi Kempot diundang oleh Unesa (d/h IKIP Surabaya). Saya diundang juga untuk hadir. Begitu gila para mahasiswa di konser itu. Mereka tumplek bernyanyi bersama, berjingkrat, berjirolupatmonemtuwolu dan bertakgintakgintak bersama sang raja.

Sebelum acara dimulai saya diminta ke balik panggung. Baku kangen. Saya pun sempat saling cipika-cipiki. Demikian juga istri saya. Itulah pertemuan terakhir saya dengan sang raja.

Saya juga kaget Didi Kempot begitu cepat meninggal dunia. Di usianya yang baru 53 tahun.

Tapi lagu-lagunya akan tetap abadi. Stasiun Balapan Solo, Cidro, Prapatan Sleko, Perawan Kalimantan, dan terutama Pamer Bojo tidak akan pernah terlupakan.

Saya pun, setiap pagi, masih akan terus senam-joget lagu Pamer Bojo. Tentu dengan gerakan yang asyik.

Maafkan, Didi. Saya tidak bisa main piano. Saya hanya akan terus mengabadikanmu di senamku.(Dahlan Iskan)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Dahlan Iskan jaya suprana didi kempot Didi Kempot Meninggal
Editor : Hendri Tri Widi Asworo
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top