Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

12 Jurus Korporasi China Bangkit dari Krisis Corona

Di tengah wabah Covid-19, sejumlah perusahaan di China menunjukkan ketahanan dan kemampuan untuk meraih kesempatan dengan cepat. Berikut ini jurus-jurus yang diterapkan korporasi Negeri Panda tersebut dalam bertahan di tengah Pandemi.
Aprianto Cahyo Nugroho & Hadijah Alaydrus
Aprianto Cahyo Nugroho & Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 26 Maret 2020  |  18:42 WIB
Sejumlah warga memakai masker saat berjalan menuju stasiun bawah tanah kereta subway di Kota Beijing, China, Selasa (21/1/2020). Wabah virus corona seperti Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), yang menyebar di China dan mencapai tiga negara Asia lainnya, disebut-sebut bisa menular dari manusia ke manusia. - Reuters
Sejumlah warga memakai masker saat berjalan menuju stasiun bawah tanah kereta subway di Kota Beijing, China, Selasa (21/1/2020). Wabah virus corona seperti Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), yang menyebar di China dan mencapai tiga negara Asia lainnya, disebut-sebut bisa menular dari manusia ke manusia. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Ketika virus corona (Covid-19) membentuk pusat penyebaran baru di Eropa dan Amerika Serikat, banyak perusahaan yang tidak siap menghadapi karena sifat virus yang tak bisa diprediksi, kurangnya pengalaman, serta tidak adanya instruksi dari pemerintah.

Jelas setiap negara mengalami situasi yang berbeda, namun perusahaan di negara-negara tersebut memiliki waktu dan peluang yang sama untuk mempelajari respons dari wilayah atau negara lain yang lebih dulu terkena pandemi.

Pemandangan berbeda terjadi di China. Sejumlah perusahaan mulai menggerakkan roda perekonomian setelah aktivitas produksi dimulai kembali walaupun belum mencapai level yang sama dengan saat sebelum Covid-19 mewabah.

Meskipun laju pemulihan ini masih berisiko jika ada gelombang baru infeksi Covid-19 yang muncul, banyak korporasi di Negeri Panda tersebut mempersiapkan respons terhadap krisis yang mungkin muncul kembali.

Harvard Business Review merinci 12 poin penting dalam respons perusahaan di China terhadap bencana seperti wabah Covid-19. Meskipun negara ini memiliki sistem politik dan pemerintahan yang berbeda dari kebanyakan negara di dunia, tetapi banyak poin yang dapat diterapkan dan dicontoh oleh perusahaan lain di mancanegara.

Berikut ini adalah poin-poin penting tersebut:

1. Merencanakan ulang respons terhadap krisis.

Menurut definisi, krisis memiliki lintasan yang sangat dinamis yang membutuhkan pembingkaian model dan rencana mental yang konstan. Upaya menaklukkan krisis harus dilakukan dengan perencanaan yang matang dan respons yang cepat dan tepat. Selain itu, peran CEO perusahaan menjadi penting agar terhindar dari jebakan koordinasi internal yang kompleks yang menyebabkan lambatnya respons perusahana.

Di China, sejumlah perusahaan yang paling cepat pulih dari krisis secara proaktif memandang ke depan dan mengantisipasi perubahan. Sebagai contoh, pada tahap awal wabah, produsen mie instan dan minuman terkemuka di China, Master Kong, meninjau dinamika setiap hari dan memprioritaskan upaya pemulihan secara teratur.

Perusahaan mampu mengantisipasi penimbunan dan kelangkaan stok, serta menggeser fokus perusahaan dari penjualan offline dan jaringan ritel besar ke sistem O2O (online-ke-offline), e-commerce, dan toko-toko kecil. Dengan terus melacak encana pembukaan kembali gerai ritel, perusahaan juga dapat menyesuaikan rantai pasokannya dengan cara yang sangat fleksibel.

Dengan cara ini, rantai pasokan perusahaan mampu pulih lebih dari 50 persen hanya beberapa pekan setelah wabah Covid-19 dan mampu memasok 60 persen toko yang dibuka kembali selama periode ini, tiga kali lebih cepat dari pesaing lainnya.

2.Gunakan pendekatan bottom-up dan top-down

Respons yang cepat dan terkoordinasi membutuhkan keputusan yang diambil dari pucuk pimpinan (top-down). Namun beradaptasi dengan perubahan yang tidak terduga, dengan dinamika berbeda di komunitas yang berbeda, juga membutuhkan pengambilan inisiatif yang terdesentralisasi. Beberapa perusahaan di China secara efektif menyeimbangkan kedua pendekatan, menetapkan kerangka kerja top-down dengan karyawan yang mampu berinovasi.

Sebagai contoh, Huazhu, yang mengoperasikan 6.000 hotel di 400 kota di seluruh China, membentuk satuan tugas krisis yang bertemu setiap hari untuk meninjau prosedur dan mengeluarkan panduan top-down untuk seluruh jaringan hotel. Selain itu, perusahaan memanfaatkan platform informasi internal dengan sebuah aplikasi bernama Huatong, untuk memastikan karyawan dan pewaralaba memiliki informasi yang tepat. Hal ini memungkinkan pewaralaba untuk menyesuaikan panduan dari pusat dengan situasi mereka sendiri terkait kondisi penyakit wabah dan tindakan kesehatan masyarakat setempat.

3. Proaktif menciptakan kejelasan dan keamanan bagi karyawan

Dalam krisis, sulit untuk menemukan kejelasan ketika situasi dan informasi yang tersedia terus berubah. Terkadang pemerintah tidak cukup tanggap memberikan pengarahan yang cepat dan tepat mengenai wabah. Lebih jauh lagi, kebingungan diperparah oleh sejumlah besar laporan media dengan perspektif yang berbeda. Karyawan perlu mengadopsi cara kerja yang baru, tetapi mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali mereka memiliki informasi yang jelas, konsisten, dan arahan yang menyeluruh.

Sejumlah perusahaan di China menciptakan panduan dan dukungan yang sangat proaktif untuk karyawan. Misalnya, produsen peralatan dapur terbesar di China, Supor, melembagakan pedoman operasional dan prosedur yang sangat spesifik untuk karyawannya, seperti instruksi untuk membatasi paparan saat makan di kantin dan rencana darurat untuk situasi luar biasa.

Selain itu, perusahaan melakukan pemeriksaan kesehatan untuk karyawan dan keluarga mereka sejak tahap awal wabah serta menyiapkan peralatan pencegahan. Perusahaan juga mempersiapkan semuanya dengan baik saat akan memulai kembali aktivitas bisnis dan mampu membukan kembali jalur produksi pada minggu kedua Februari.

4. Alokasi tenaga kerja secara fleksibel

Di bisnis yang sangat terpukul oleh Covid-19 seperti restoran, karyawan tidak dapat menjalankan kegiatan rutin mereka. Daripada memberlakukan cuti atau bahkan PHK, beberapa perusahaan China merelokasi karyawan ke kegiatan baru dan berharga, seperti perencanaan pemulihan, atau bahkan meminjamkan mereka ke perusahaan lain.

Misalnya, lebih dari 40 restoran, hotel, dan jaringan bioskop mengoptimalkan staf mereka dengna meminjamkan karyawan kepada Hema, sebuah jaringan supermarket ritel yang dimiliki oleh Alibaba, yang sangat membutuhkan tenaga kerja untuk layanan pengiriman karena lonjakan pembelian online. Pemain bisnis O2O, termasuk Ele, Meituan, dan 7Fresh milik JD mengikuti jejak ini dengan juga meminjam tenaga kerja dari restoran.

 5. Ubah jaringan penjualan

Penjualan ritel secara konvensional sangat terdampak oleh wabah Covid-19. Namun, perusahaan China dengan cepat memindahkan upaya penjualan ke saluran baru baik di perusahaan B2C dan B2B.

Misalnya, perusahaan kosmetik Lin Qingxuan terpaksa menutup 40 persen tokonya selama krisis, termasuk semua lokasinya di Wuhan. Namun, perusahaan mempekerjakan kembali 100 lebih beauty advisor perusahaan untuk menjadi influencer online yang memanfaatkan aplikasi seperti WeChat untuk melibatkan pelanggan secara virtual dan mendorong penjualan online. Dampaknya, penjualan perusahaan di Wuhan mencapai pertumbuhan 200 persen dibandingkan dengan penjualan tahun sebelumnya.

 6. Penggunaan media sosial untuk koordinasi

Dengan kerja jarak jauh dan tantangan koordinasi yang kompleks, banyak perusahaan China menggunakan platform media sosial seperti WeChat berkoordinasi dengan karyawan dan mitra mereka.

Misalnya, Cosmo Lady, perusahaan pakaian dalam terbesar di China, memprakarsai program yang bertujuan meningkatkan penjualannya melalui WeChat. Perusahaan meminta karyawan untuk mempromosikan ke lingkaran sosial mereka serta menciptakan peringkat penjualan di antara semua karyawan (termasuk pimpinan dan CEO), untuk memotivasi staf lainnya agar berpartisipasi.

7. Bersiap untuk pemulihan yang lebih cepat dari perkiraan

Hanya enam pekan setelah awal wabah Covid-19, China tampaknya berada pada tahap awal pemulihan. Tingkat kemacetan saat ini ada pada 73 persen dari level tahun 2019, naik dari 62 persen pada masa terburuk wabah. Hal ini menunjukkan bahwa pergerakan orang dan barang telah kembali. Demikian pula, konsumsi batu bara diperkirakan mulai pulih dari level 43 persen menuju 75 persen dari level konsumsi 2019.

Meskipun dampak ekonomi di negara-negara lain belum dapat diperkirakan, pengalaman China menunjukkan skenario yang harus disiapkan oleh perusahaan. Mengingat waktu yang diperlukan untuk merumuskan, menyebarluaskan, dan menerapkan kebijakan baru di perusahaan besar, perencanaan pemulihan harus dimulai saat perusahaan masih bereaksi terhadap krisis.

Biro perjalanan premium China contohnya, meskipun bisnis jangka pendek anjlok, perusahan memfokuskan kembali pada persiapan jangka panjang. Alih-alih mengurangi jumlah karyawan, perusahaan mendorong karyawan untuk menggunakan waktu mereka untuk meningkatkan sistem internal, meningkatkan keterampilan, dan merancang produk dan layanan baru agar lebih siap untuk pemulihan.

 8. Beda sektor, beda kecepatan pemulihan

Tidak mengherankan, jika tiap sektor dan kelompok produksi yang berbeda pulih dengan kecepatan yang berbeda pula sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda pula. Harga saham semua sektor merosot tajam dalam dua minggu pertama ketika epidemi di China meningkat, tetapi sektor-sektor utama, seperti perangkat lunak dan layanan, serta peralatan dan layanan kesehatan, pulih hanya dalam beberapa hari. Bahkan, sejak penurunan, peningkatan rata-ratanya kini mencapai 12%.

Sebagian besar sektor pulih lebih lambat tetapi berhasil kembali ke tingkat sebelumnya dalam beberapa minggu. Dan sektor-sektor yang paling terpukul - seperti transportasi, ritel dan energy yang mewakili 28% dari kapitalisasi pasar milik saham-saham besar di China - masih turun setidaknya 5% dan hanya menunjukkan sedikit tanda-tanda pemulihan.

Ini berarti perusahaan perlu mengkalibrasi pendekatan mereka sesuai dengan jenis bisnisnya, sementara perusahaan besar perlu mengkalibrasi pendekatan mereka berdasarkan divisi.

Sebagai contoh, sebuah konglomerat makanan & minuman global besar menggunakan krisis untuk mempercepat pergeseran jangka panjang dalam bauran produknya di China (pasar terbesar kedua perusahaan), termasuk meningkatkan fokusnya pada produk-produk yang berhubungan dengan kesehatan, produk-produk impor, dan saluran penjualan online.

9. Lihat kesempatan di tengah kesulitan

Ketika krisis di China berdampak pada semua sektor sampai batas tertentu hingga pada tingkat yang lebih terperinci, namun permintaan meningkat di beberapa bidang tertentu. Salah satu yang termasuk B2B e-commerce (terutama model dari pintu ke pintu), layanan pertemuan jarak jauh, media sosial, produk kebersihan, asuransi kesehatan, dan kelompok produk lainnya. Beberapa pemain China bergerak cepat untuk memenuhi kebutuhan ini.

Misalnya, sebuah platform video sosial senilai US$28 miliar Kuaishou yang mempromosikan penawaran pendidikan online untuk mengimbangi penutupan sekolah dan universitas.

Perusahaan dan platform video lainnya bermitra dengan Kementerian Pendidikan untuk membuka ruang kelas cloud online nasional untuk melayani siswa. Sebuah jaringan restoran besar ikut memanfaatkan situasi dengan merencanakan penawaran menu hidangan setengah jadi. Hal ini dilakukan untuk menangkap kesempatan dengan adanya peningkatan kebutuhan dan kesempatan untuk memasak di rumah selama krisis.

 10. Sesuaikan strategi pemulihan bisnis berdasarkan lokasi

Kebijakan kesehatan masyarakat regional, dinamika penyakit, dan pedoman administrasi akan menciptakan dinamika pemulihan yang berbeda-beda berdasarkan lokasi  yang kemungkinan tidak mengikuti struktur geografis dari perusahaan.

Kondisi ini membutuhkan pendekatan yang fleksibel.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan susu terkemuka di China dengan basis produksi yang luas dan distribusi nasional hingga ke seluruh China mengembangkan pendekatan tersegmentasi berdasarkan dinamika pemulihan regional dan kota. Hal ini juga diterapkan pada infrastruktur rantai pasokannya sendiri, dan ketersediaan tenaga penjualan. Pasokan yang direncanakan dari pabrik-pabrik di daerah yang terkena dampak parah dialokasikan ke pabrik-pabrik di daerah lain dalam pendekatan bertahap.

Kegiatan pemasaran, pengiriman pesan, dan alokasi anggaran juga disesuaikan terus menerus untuk mencerminkan perbedaan regional sesuai dengan kecepatan pemulihan yang diharapkan, sentimen konsumen dan kebutuhan.

11. Berinovasi cepat dalam memenuhi kebutuhan baru

Selain menyeimbangkan portofolio produk Anda, kebutuhan pelanggan baru juga menciptakan peluang untuk inovasi. Ketika terancam oleh krisis, banyak perusahaan akan fokus pada langkah-langkah defensif, tetapi beberapa perusahaan China berani berinovasi di antara peluang yang muncul.

Industri asuransi terkenal konservatif, tetapi dalam menanggapi krisis, Ant Financial menambahkan cakupan klaim virus Corona gratis ke produk-produknya.

Tindakan ini melayani kebutuhan pelanggan, sambil mempromosikan kesadaran akan penawaran online perusahaan dan meningkatkan loyalitas pelanggan. Dari langkah ini, perusahaan mengharapkan kenaikan 30% di pos pendapatan asuransi kesehatan pada bulan Februari, dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

 12. Temukan kebiasaan konsumsi baru.

Beberapa perubahan kemungkinan akan bertahan setelah krisis, dan banyak sektor akan kembali ke realitas pasar yang baru di China dan di tempat lain. Memang, krisis SARS sering dikaitkan dengan mempercepat adopsi e-commerce di China. Namun, masih terlalu dini untuk mengatakan dengan pasti kebiasaan baru mana yang akan bertahan dalam jangka panjang.

Beberapa kebiasaan yang mungkin akan berlanjut a.l. pendidikan online, transformasi dalam pemberian layanan kesehatan, dan peningkatan saluran digital B2B.

Bahkan, beberapa perusahaan di China sudah merencanakan perubahan ini pasca krisis nanti. Salah satunya, perusahaan makanan manis dari China yang tengah mempercepat upaya transformasi digital. Perusahaan membatalkan kampanye offline untuk Hari Valentine dan kegiatan promosi lainnya, dan menginvestasikan kembali sumber dayanya ke dalam bidang pemasaran digital, program WeChat, dan kemitraan dengan platform O2O untuk mengambil keuntungan dari perilaku konsumen baru selama wabah ini berlangsung dan ke depannya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china Virus Corona
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top