Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Citigroup: Tren Pembatasan Arus Modal Negara Berkembang Bakal Terlihat

Citigroup Inc. menyatakan sejumlah negara berkembang kemungkinan bakal melakukan kontrol ketat terhadap arus modal seiring dengan meluasnya wabah Covid-19.
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 26 Maret 2020  |  16:12 WIB
Citigroup Center di New York, AS. - Reuters/Shannon Stapleton
Citigroup Center di New York, AS. - Reuters/Shannon Stapleton

Bisnis.com, JAKARTA — Citigroup Inc. menyatakan sejumlah negara berkembang kemungkinan bakal melakukan kontrol ketat terhadap arus modal seiring dengan meluasnya wabah Covid-19.

“Ada kasus yang layak yang membuat mereka [negara-negara berkembang] mendekati tren pengetatan arus modal di saat kita juga membatasi pergerakan barang dan orang. Eksperimen dengan mengontrol arus modal, kemungkinan akan semakin dekat,” kata David Lubin, Kepala Ekonom Emerging Market Citigroup, dikutip dari Bloomberg, Kamis (26/3/2020).

Dalam laporan yang ditulis Lubin, arus keluar dari negara maju yakni obligasi negara dan dana ekuitas, sudah hampir mencapai 4 persen dari aset bersih oleh beberapa akun selama dua minggu terakhir. Angka ini lebih besar dibandingkan krisis pada 2013 dan 2008.

Per Maret ini saja, nilai mata uang Brazil, Indonesia, Kolombia, Rusia, dan Meksiko melorot tajam lebih dari 10 persen terhadap dolar.

Argentina pernah menerapkan pengontrolan arus modal pada tahun lalu untuk mengentikan penurunan cadangan devisa dan pos. Malaysia pun sempat mengadopsi langkah yang sama ketika krisis 1997.

Laporan Citigroup itu menyatakan ketika hampir semua negara maju memiliki posisi yang bagus untuk menghadapi krisis yang biasa, dengan defisit neraca transaksi berjalan dan cadangan devisa yang melimpah, semuanya tidak bisa dipastikan.

Sejumlah teori ekonomi yang termuat dalam buku-buku ekonomi, biasanya menyarankan krisis ekonomi bisa dihadapi dengan melindungi ekonomi melalui pemangkasan suku bunga. Sebaliknya, suku bunga acuan yang tinggi dibutuhkan untuk menghambat aliran modal keluar, apalagi jika utang meningkat.

“Satu-satunya acara untuk mengatasi kontradiksi ini secara prinsip, adalah menutup aliran modal. Semakin lama virus ini ada, maka semakin banyak arus modal keluar dari negara berkembang,” ungkapnya.

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi global citigroup

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top