Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Jepang Berpotensi Cetak PDB Terburuk Sejak 2009

Dilansir melalui Bloomberg, Goldman Sachs Group Inc memangkas ekspektasi produk domestik bruto 2020 terkontraksi 3,1% dari penurunan 2,1% pada Rabu (25/3).
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 26 Maret 2020  |  14:17 WIB
Pejalan kaki menikmati sakura yang bermekaran di tepi Sungai Sumida, Tokyo, Jepang - Bloomberg/Loulou D\'Aki
Pejalan kaki menikmati sakura yang bermekaran di tepi Sungai Sumida, Tokyo, Jepang - Bloomberg/Loulou D\\\'Aki

Bisnis.com, JAKARTA - Ekspor yang terpukul akibat lockdown dan peningkatan kasus virus corona membuat para ekonom memangkas perkiraan ekonomi Jepang tahun ini.

Proyeksi ekonom terbaru menunjukkan bahwa ekonomi Jepang menuju periode terlemahnya sejak krisis keuangan terakhir. Dilansir melalui Bloomberg, Goldman Sachs Group Inc memangkas ekspektasi produk domestik bruto 2020 terkontraksi 3,1% dari penurunan 2,1% pada Rabu (25/3).

Sementara itu, Barclays Plc pada Kamis (26/3), mengatakan proyeksi ekonomi terbarunya memperkirakan penyusutan sebesar 2,6%.

"Penurunan ini disebabkan oleh tiga faktor kontraksi fiskal terkait dengan kenaikan pajak konsumsi, wabah Covid-19 dan penundaan Olimpiade Tokyo 2020,” tulis ekonom Barclays, Tetsufumi Yamakawa dan Kazuma Maeda dalam laporannya, dikutip Kamis (26/3).

Adapun ekonom Goldman, Naohiko Baba dan Yuriko Tanaka melihat bahwa ekspor Jepang akan tertekan secara signfikan karena langkah ketat AS dan Eropa untuk memperlambat penyebaran virus corona telah menghentikan sebagian kegiatan ekonomi.

Mereka juga menambahkan bahwa dampak ekonomi yang lebih besar berasal dari guncangan yang diakibatkan virus corona dibanding dengan penundaan Olimpiade.

Prospek ekonomi yang suram telah meningkatkan tekanan pada pemerintah untuk turun tangan. Perdana Menteri Shinzo Abe diperkirakan akan merilis paket fiskal yang cukup berani bulan depan karena gagasan pemberian uang tunai dan penundaan pembayaran pajak perusahaan nampaknya tidak akan dilanjutkan.

Tokyo menyumbang sekitar 19% dari ekonomi nasional, sehingga lockdown dapat berdampak besar pada keseluruhan aktivitas ekonomi. Capital Economics memperkirakan bahwa lockdown berpotensi mengurangi output nasional sebesar 5% selama karantina tetap berlangsung.

Sebelumnya, Gubernur Tokyo Yuriko Koike telah meminta masyarakat untuk tinggal di rumah pada akhir pekan ini, yang merupakan awal musim semi dan orang-orang biasanya akan berkumpul untuk menyaksikan bunga sakura bermekaran.

Dia juga tidak mengesampingkan kemungkinan karantina total awal pekan ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi jepang Virus Corona
Editor : Hadijah Alaydrus
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top