Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

15 Orang Tewas saat Trump Kunjungi India

Bentrokan, yang terburuk di Ibu Kota India sejak kerusuhan atas undang-undang kewarganegaraan baru dimulai pada bulan Desember, dimulai pada akhir pekan tetapi semakin mencekam pada hari Senin (24/2/2020).
JIBI
JIBI - Bisnis.com 26 Februari 2020  |  10:20 WIB
Presiden AS Donald Trump berbicara dalam acara penandatanganan UU Otoritas Pertahanan Nasional untuk Tahun Fiskal 2020 di Pangkalan Militer Gabungan (Joint Base) Andrews, Maryland, AS, Jumat (20/12/2019). - Reuters/Leah Millis
Presiden AS Donald Trump berbicara dalam acara penandatanganan UU Otoritas Pertahanan Nasional untuk Tahun Fiskal 2020 di Pangkalan Militer Gabungan (Joint Base) Andrews, Maryland, AS, Jumat (20/12/2019). - Reuters/Leah Millis

Bisnis.com, JAKARTA - Sebanyak 15 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka dalam bentrokan antara dua kubu pro kontra undang-undang kewarganegaraan baru di New Delhi, selama kunjungan pertama Presiden AS Donald Trump ke India.

Bentrokan, yang terburuk di Ibu Kota India sejak kerusuhan atas undang-undang kewarganegaraan baru dimulai pada bulan Desember, dimulai pada akhir pekan tetapi semakin mencekam pada hari Senin (24/2/2020).

Kekerasan meletus lagi di berbagai wilayah di timur laut Delhi pada hari Selasa (25/2/2020), hanya beberapa kilometer jauhnya dari tempat Trump dan Perdana Menteri India Narendra Modi bertemu untuk mengadakan pembicaraan.

Ibu kota India telah menjadi fokus kerusuhan terhadap Undang-Undang Amendemen Kewarganegaraan, yang memudahkan non-muslim dari tiga negara tetangga yang didominasi muslim untuk mendapatkan kewarganegaraan India.

Dikutip dari Reuters, Rabu (26/2/2020), saluran TV lokal menunjukkan asap besar mengepul dari pasar ban yang telah dibakar dan para saksi mata menyaksikan gerombolan massa menggunakan tongkat dan batu berjalan di jalanan di bagian timur laut Delhi, di tengah insiden pelemparan batu.

Konspirasi

Menteri Dalam Negeri India G. Kishan Reddy mengatakan pada hari Senin (24/2/2020), bahwa kekerasan itu adalah sebuah konspirasi untuk mencemarkan nama baik India ketika Trump berkunjung.

Beberapa dari mereka yang memprotes undang-undang kewarganegaraan menuduh bahwa Modi dan partainya, Partai Bharatiya Janata (BJP), menargetkan Muslim dan memicu kekerasan.

"Kami tidak memiliki senjata, tetapi mereka menembaki kami," kata Mohammad Shakir, seorang demonstran yang menentang amendemen.

"BJP ini menargetkan muslim. Mereka ingin mengubah India menjadi negara Hindu."

BJP nasionalis Hindu menyangkal adanya bias terhadap lebih dari 180 juta muslim minoritas di India.

Saksi di rumah sakit setempat berbicara dengan korban Hindu dan muslim, yang terluka dalam kekerasan pada hari Selasa (25/2/2020). Beberapa korban di kedua kubu telah menderita luka tembak, dan banyak yang terlihat terluka di kepala dan tubuh mereka.

Seorang pejabat di Rumah Sakit Guru Teg Bahadur di New Delhi mengatakan 13 orang telah meninggal di sana dan lebih dari 150 orang terluka telah dirawat di rumah sakit, kebanyakan karena luka tembak.

Seorang pejabat di Rumah Sakit Al-Hind di New Delhi mengatakan dua pria telah meninggal dan lebih dari 200 orang terluka telah dirawat di sana.

New York Times melaporkan 11 orang meninggal sejak kerusuhan Minggu (23/2/2020).

Gas Air Mata

Seorang pejabat departemen pemadam kebakaran mengatakan timnya menanggapi lebih dari belasan panggilan atas serangan pembakaran, meskipun langkah-langkah darurat melarang setiap pertemuan di daerah yang dilanda kekerasan.

"Kami telah mencari perlindungan polisi karena kendaraan kami diblokir untuk memasuki daerah yang terkena dampak. Situasinya sangat suram," kata Direktur Pemadam Kebakaran Delhi Atul Garg.

Satu kendaraan pemadam kebakaran dibakar oleh pengunjuk rasa pada hari Senin (24/2/202), dan sejumlah kecil petugas pemadam kebakaran terluka, tambah Garg.

Komisaris gabungan polisi Alok Kumar mengatakan sekitar 3.500 polisi dan petugas paramiliter telah dikerahkan.

Polisi menembakkan gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan demonstran yang memprotes hukum amendemen kewarganegaraan di Jafrabad di timur laut Delhi pada hari Selasa (25/2/2020).

Seorang pemuda menderita luka pelet peluru karet di pahanya, sementara yang lain menderita luka di matanya, mengakibatkan wajahnya berlumuran darah.

Di Jafrabad Baru, penduduk setempat berpatroli di jalan dengan tongkat dan batang logam.

Dua wartawan dengan saluran berita NDTV lokal diserang dan dipukuli oleh massa.

Kekerasan terkait dengan protes yang berkelanjutan terhadap undang-undang kewarganegaraan India, tetapi ini adalah pertama kalinya protes memicu pertumpahan darah besar antara Hindu dan muslim di India.

Namun pada hari Senin (24/2/2020), Trump memuji India sebagai negara yang toleran.

"India adalah negara yang dengan bangga merangkul kebebasan, hak-hak individu, aturan hukum dan martabat setiap manusia," kata Trump.

"Persatuan kalian adalah inspirasi bagi dunia," kata Trump di hadapan 100.000 orang di negara bagian Gujarat, India, kampung halaman Modi.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

india Donald Trump

Sumber : Tempo.Co

Editor : Nancy Junita
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top