Pelaku Industri Minyak Ingatkan Trump, Kesepakatan Dagang China Tidak Realistis

Kesepakatan fase pertama yang ditandatangani Trump pertengahan bulan lalu dan mulai berlaku 14 Februari 2020 itu, mengharuskan China membeli tambahan US$52,4 miliar gas alam cair, minyak mentah, produk olahan dan batubara selama dua tahun ke depan dari AS.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 13 Februari 2020  |  14:47 WIB
Pelaku Industri Minyak Ingatkan Trump, Kesepakatan Dagang China Tidak Realistis
Presiden China Xi Jinping, Ibu Negara China Peng Liyuan, Presiden AS Donald Trump dan Ibu Negara AS Melania menghadiri makan malam kenegaraan di Aula Besar Rakyat di Beijing, Cina, 9 November 2017. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Para pemimpin industri minyak memperingatkan Presiden Trump bahwa AS akan berjuang memproduksi minyak, gas, dan produk energi lainnya untuk mendukung kesepakatan dagang dengan China.

Kesepakatan fase pertama yang ditandatangani Trump pertengahan bulan lalu, mengharuskan China membeli tambahan US$52,4 miliar gas alam cair, minyak mentah, produk olahan dan batu bara selama dua tahun ke depan dari AS.

American Petroleum Institute (API), dalam pertemuan tertutup dengan Departemen Energi AS, menilai China harus memperkirakan 1 juta barel tambahan minyak mentah, 500.000 barel per hari produk olahan dan 100 kapal tanker penuh gas alam cair.

Jumlah itu akan membebani infrastruktur pengiriman dan kapasitas produksi dan akan mengharuskan China membeli lebih banyak minyak mentah daripada yang diperkirakan.

"Kemampuan Amerika Serikat untuk memperluas ekspor minyak mentah dan cairan lainnya kemungkinan akan menjadi kendala yang mengikat," kata API dalam paparannya, seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (13/2/2020).

Bahkan jika produksi itu terpenuhi, API melihat adanya tantangan pengiriman logistik melalui laut di Terusan Panama.

Perjanjian perdagangan Trump dengan China itu menggarisbawahi komitmen China membeli setidaknya US$200 miliar tambahan barang dan jasa AS selama dua tahun ke depan, atau lebih dari dua kali lipat dari yang diekspor ke negara Asia pada 2017 senilai US$187 miliar. Keraguan muncul tentang kemampuan AS untuk secara cepat meningkatkan produksi kedelai dan barang pertanian lainnya untuk memenuhi perjanjian itu.

Namun demikian, sejumlah pihak mengapresiasi perjanjian dagang ini. Secara umum, perwakilan industri minyak dan gas memuji paket perdagangan.

"Meskipun kondisi pasar menunjukkan kejelasan lebih lanjut tentang isu-isu tertentu yang diperlukan, kami memuji administrasi yang telah mengumpulkan informasi dari pemangku kepentingan untuk memastikan perjanjian ini berhasil dilaksanakan," Kata wakil presiden senior bidang kebijakan, ekonomi, dan peraturan API, Frank Macchiarola.

Sayangnya, juru bicara Perwakilan Dagang AS dan Gedung Putih tidak menanggapi permintaan komentar.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Dewan Eksplorasi dan Produksi Amerika Anne Bradbury mengatakan kesepakatan fase satu itu membantu pihaknya merencanakan dan berinvestasi dalam infrastruktur penting untuk memperluas akses ke pasar global sambil mendukung pertumbuhan ekonomi AS.

Para analis telah memperingatkan industri bahwa kendala logistik dan kontrak dapat menyulitkan China untuk memenuhi komitmen pembeliannya. Misalnya dalam gas, China akan meningkatkan impor pipa yang bersaing dari Rusia pada tahun-tahun mendatang yang akan menekan perdagangan LNG.

API menawarkan penilaian kepada Departemen Energi bahwa setiap peningkatan dalam pembelian minyak mentah AS oleh China dapat menggantikan hampir sepertiga dari ekspor saat ini dan menekan kapasitas pengiriman yang ada, terutama selama dua tahun ke depan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, Donald Trump

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top