Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mahasiswa UMM Susun Teknologi Pintar Pendeteksi Kebakaran Hutan

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuat teknologi pintar pendeteksi kebakaran sehingga diharapkan mampu mengurangi perluasan dampak kebakaran.
Choirul Anam
Choirul Anam - Bisnis.com 02 Januari 2020  |  20:13 WIB
Mahasiswa UMM pembuat teknologi pintar pendeteksi kebakaran hutan. - Istimewa
Mahasiswa UMM pembuat teknologi pintar pendeteksi kebakaran hutan. - Istimewa

Bisnis.com, MALANG - Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuat teknologi pintar pendeteksi kebakaran sehingga diharapkan mampu mengurangi perluasan dampak kebakaran.

Mahasiswa Prodi Informatika Billy Aprilio mengatakan mengacu data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2018, luas lahan berhutan di Indonesia mencapai 93,5 juta hektare sehingga, selain Brazil, Indonesia menjadi penyumbang terbesar kadar oksigen dunia yang kemudian sering disebut menjadi paru-paru dunia.

Namun kebakaran hutan, baik yang terjadi karena musim kemarau atau pembukaan lahan ilegal, menjadi masalah yang tak kunjung usai.

"Indonesia adalah negara yang menempati posisi ketiga terluas di dunia dengan hutan tropis," katanya dalam keterangan resminya, Kamis (2/1/2020).

Faktor itulah yang mendorong dia bersama temannya, Yasril Imam dan Ulfah Nur Oktaviana mahasiswa Prodi yang sama untuk membuat sistem pintar atau teknologi yang bernama Integrated Forest Fire Management Sistem, alat yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk mendeteksi kebakaran hutan.

“Cara kerja sistem ini adalah dengan memanfaatkan sensor LM35 dan sensor Flame menggunakan Artificial Intelligence sebagai pemroses data,” ungkap Billy.

Inputan teknologi tersebut berupa temperatur suhu dan nyala api. Ketika terjadi kebakaran, maka sensor akan mendeteksi secara otomatis. Selanjutnya, sistem akan memberikan perintah untuk memompa air untuk disemprotkan ke titik terjadinya kebakaran.

“Di mana air didapatkan dari pembuatan penampungan air embun alami dengan menggunakan pemanen embun menggunakan jaring atau fog harvesting,” kata Billy.

Penyemprot akan menyemprotkan air pada periode waktu tertentu yang kemudian akan dilakukan pengecekan ulang terhadap suhu sekitar. Jika dinilai masih terdeteksi suhu tinggi, maka penyemprot akan diaktifkan kembali.

“Namun, apabila sensor mendeteksi kategori kebakaran hutan tingkat tinggi, maka sistem secara otomatis akan mengirimkan sinyal tempat kebakaran pada komputer pusat. Sehingga, tidak akan terjadi kebakaran yang jauh lebih besar,” ujarnya.

Selanjutnya, hasil dari Fog Harvesting tersebut akan disalurkan ke tangki air (water tank) sebagai tempat penampungan. Kemudian untuk power supplay, teknologi tersebut menggunakan panel surya untuk memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber daya utama yang kami aplikasikan pada pompa penyemprot air.

Dengan adanya sistem pintar ini diharapkan akan meminimalisasikan terjadinya kebakaran hutan besar. Mereka berharap teknologi ini bisa segera di realisasikan dalam waktu dekat. (K24)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

inovasi kampus penelitian
Editor : Miftahul Ulum
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top