Golkar dan Korupsi

Terpilihnya Airlangga Hartarto kembali memimpin Partai Golkar pada periode 2019-24 membawa harapan baru bagi partai tersebut. Kendati demikian, sejumlah tantangan masih akan menghadang seiring dinamika politik yang terus berkembang.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 10 Desember 2019  |  09:45 WIB
Golkar dan Korupsi
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto mengacungkan ibu jarinya saat menyerahkan berkas pendaftaran bakal calon ketua umum (caketum) Partai Golkar di DPP Partai Golkar, Jakarta, Senin (2/12/2019). Partai Golkar akan melaksanakan Musyawarah Nasional (Munas) pada 3 Desember 2019 dengan salah satu agendanya pemilihan ketua umum periode 2019-2024. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Terpilihnya Airlangga Hartarto kembali memimpin Partai Golkar pada periode 2019-24 membawa harapan baru bagi partai tersebut. Kendati demikian, sejumlah tantangan masih akan menghadang seiring dinamika politik yang terus berkembang.

Memang, Airlangga terpilih tanpa tantangan berarti karena semua lawannya yang telah mendaftar sebagai calon ketua umum Partai Golkar mundur sebelum bertanding. Alhasil, harapan publik untuk melihat pertarungan antara Airlangga Hartarto dengan Bambang Soesatyo (Bamsoet) yang diperkirakan berjalan seru, ternyata buyar.

Bagaimana tidak. Lobi politik kelas tinggi yang dipimpin oleh Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan berujung pada aklamasi untuk sang petahana menjelang tengah malam pada Musyawarah Nasional (Munas) Golkar 3-6 Desember 2019.

Kendati calon ketua umum lawan Airlangga bukan hanya Bamsoet, karena ada sederetan nama beken lainnya seperti Agun Gunandjar Sudarsa dan Indra Bambang Oetoyo, namun hanya dua kubu tersebut yang tercatat memiliki pendukung kuat.

Kedua kubu pun sempat terlibat adu argumen untuk memperkuat posisi masing-masing kandidat menuju kursi nomor satu di tubuh partai itu.    

 

Tag : partai golkar
Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top