Google Bantah Menyalahgunakan Data Kesehatan untuk Riset AI

Google membantah telah menyalahgunakan data kesehatan dari salah satu penyedia layanan kesehatan terbesar di Amerika Serikat (AS) untuk tujuan riset kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 13 November 2019  |  11:49 WIB
Google Bantah Menyalahgunakan Data Kesehatan untuk Riset AI
Google - Reuters/Aly Song

Bisnis.com, JAKARTA – Google membantah telah menyalahgunakan data kesehatan dari salah satu penyedia layanan kesehatan terbesar di Amerika Serikat (AS) untuk tujuan riset kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Kepala Divisi Google Health David Feinberg menegaskan bahwa karyawan-karyawan Google hanya memiliki akses pada informasi pasien guna membangun alat pencarian internal baru untuk jaringan rumah sakit Ascension.

“Tidak ada data pasien yang digunakan untuk penelitian kecerdasan buatan Google,” ungkap Feinberg, seperti dilansir dari Bloomberg, Rabu (13/11/2019).

Menurut Feinberg, kontrak perusahaan yang diinduki Alphabet Inc. ini diatur oleh undang-undang privasi kesehatan AS.

Berdasarkan aturan itu, Google diizinkan mengakses catatan pasien semata-mata untuk pengaturan berbagai sistem catatan kesehatan Ascension dan membuat sarana agar membuatnya lebih mudah untuk dicari.

"Hanya itu yang kami boleh lakukan dan hanya itu yang kami lakukan,” tegasnya.

Lebih lanjut Feinberg mengatakan timnya memanfaatkan keahlian Google dalam teknologi pencarian untuk membangun alat yang dapat memindai melalui beberapa sistem catatan kesehatan elektronik Ascension.

Sarana tersebut juga dapat memudahkan dokter dan perawat untuk menemukan data tepat yang mereka cari ketika memerlukannya.

Proyek ini disebut masih dalam tahap awal, tetapi diharapkan bisa menjadi produk mandiri yang bisa dijual Google kepada penyedia dan entitas layanan kesehatan lainnya.

Kesepakatan Google dengan Ascension telah menjadi sorotan sejak Wall Street Journal melaporkan pada Senin (11/11/2019) bahwa Google telah mengumpulkan data teridentifikasi tentang jutaan pasien Ascension dan menggunakannya untuk membangun produk-produk baru.

Pada Selasa (12/11/2019), surat kabar itu kemudian melaporkan bahwa kantor hak-hak sipil Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS mulai menyelidiki situasi ini.

Thomas Kurian, CEO Google Cloud, menolak untuk mengomentari dugaan penyelidikan itu, sedangkan perwakilan Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS belum menyampaikan respons apapun terkait hal ini.

Google sendiri menyatakan data kesehatan Ascension disimpan di dalam server Google Cloud tetapi terisolasi sehingga hanya karyawan Ascension yang dapat mengaksesnya.

"Semua data ditempatkan di dalam ruang privat virtual yang dienkripsi dengan kunci khusus. Google tidak menjual, membagikan, ataupun menggabungkan data dari Ascension dengan data lain apapun,” ujar Kurian.

Ketika bekerja sama dengan perusahaan lain dalam riset intelijen buatan, terang Kurian, Google selalu menghapus informasi data pribadi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
google, kecerdasan buatan (AI)

Sumber : Bloomberg

Editor : M. Syahran W. Lubis
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top