Pemimpin Oposisi Kamboja Sam Rainsy Tiba di Malaysia dari Pengasingan

Sam Rainsy sudah menjadi lawan Perdana Menteri (PM) Hun Sen sejak era 1990-an.
Annisa Margrit
Annisa Margrit - Bisnis.com 09 November 2019  |  18:33 WIB
Pemimpin Oposisi Kamboja Sam Rainsy Tiba di Malaysia dari Pengasingan
Sam Rainsy, pemimpin oposisi Kamboja, memeluk pendukungnya setelah mendarat di Kuala Lumpur International Airport di Kuala Lumpur, Malaysia usai terbang dari Prancis, Sabtu (9/11/2019). - Reuters/Lim Huey Teng

Bisnis.com, JAKARTA - Sam Rainsy, salah satu figur oposisi Kamboja, mendarat di Malaysia menjelang peringatan kemerdekaan Kamboja dari Prancis. 
 
Dia menyatakan demokrasi akan tetap berkibar di Kamboja. Adapun peringatan 66 tahun kemerdekaan Kamboja dari Prancis jatuh pada 9 November. 
 
"Tetap berharap. Kita ada di jalur yang benar," tegas Rainsy setelah tiba di Kuala Lumpur International Airport, seperti dilansir Reuters, Sabtu (9/11/2019).
 
Namun, dia tidak memperjelas apakah akan melanjutkan perjalananya ke Kamboja, sesuai rencananya.
 
Rainsy sebenarnya berniat pulang ke Kamboja pada Sabtu (9/11). Namun, dia dilarang menaiki pesawat Thai Airways ke Bangkok dari Paris pada Kamis (7/11). 
 
Dia dan para pemimpin partai oposisinya kemudian menyatakan ingin masuk ke Kamboja lewat perbatasan darat dengan Thailand
 
Pejabat Cambodia's National Rescue Party (CNRP) Saory Pon mengungkapkan tidak ada siapapun yang akan kembali ke Kamboja pada hari ini. Tetapi, dia menegaskan mereka akan kembali secepat mungkin. 
 
Upaya Rainsy dan para pimpinan CNRP untuk kembali ke Tanah Air mereka tidak disambut dengan baik oleh pemerintahan Perdana Menteri (PM) Kamboja Hun Sen. Dia memandang hal ini sebagai langkah kudeta. 
 
Rainsy, yang merupakan salah satu pendiri CNRP, melarikan diri dari Kamboja 4 tahun lalu, karena dituduh melakukan kejahatan. Dia juga menghadapi hukuman 5 tahun dalam kasus terpisah.
 
Rainsy mengklaim dua tuduhan itu dilatarbelakangi masalah politik. Mantan Menteri Keuangan Kamboja itu memang dikenal sebagai lawan Hun Sen sejak era 1990-an. 
 
Selain Rainsy, para pimpinan CNRP lainnya yang juga berupaya pulang mendapat hambatan serupa. Mo Sochua, Wakil Presiden CNRP di AS, dan dua anggota lainnya ditahan di Malaysia sebelum berangkat ke Thailand. 
 
"Kami akan melanjutkan perjalanan pulang. Tanggal 9 November telah dituliskan dalam sejarah sebagai upaya kami mencapai demokrasi," ujarnya.
 
Secara keseluruhan, sekitar 50 aktivis dari kubu oposisi telah ditahan dalam beberapa minggu terakhir. Aparat keamanan memperketat patroli di sekitar Phnom Penh dan perbatasan dengan Thailand. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kamboja

Sumber : Reuters

Editor : Annisa Margrit
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top