Apa Posisi Tito Karnavian di Kabinet Jokowi-Ma’ruf?

Newswire
Newswire - Bisnis.com 22 Oktober 2019  |  01:51 WIB
Apa Posisi Tito Karnavian di Kabinet Jokowi-Ma’ruf?
Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian melambaikan tangan saat berjalan memasuki Kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta, Senin (21/10/2019). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Pol Tito Karnavian dikabarkan menjadi salah satu kandidat kuat terpilih untuk membantu pemerintahan Presiden Joko Widodo - Wapres Ma'ruf Amin, menjadi salah satu anggota di Kabinet Jokowi-Ma'ruf periode 2019-2024.

Hal itu terendus awak media kala Tito merapat ke Istana Kepresidenan Jakarta pada Senin (21/10/2019).

Tito yang biasa datang dan pergi melalui pintu belakang Istana, baru kali ini menyambangi Istana melalui pintu depan.

"Saya kan polisi, barusan ini dipanggil," kata Tito menjawab awak media soal alasan Tito tidak mengenakan kemeja warna putih seperti para calon menteri lainnya saat menghadap Presiden Jokowi.

Mantan Kapolda Metro Jaya ini enggan menjelaskan perihal kedatangannya ke Istana. Ia hanya menyatakan rasa terima kasih kepada semua pihak atas suksesnya pengamanan rangkaian Pemilu 2019.

"Saya sendiri, jujur, saya merasa berterima kasih kepada semua pihak, kepada Allah  karena ini Pemilu yang rasanya cukup panjang. Hampir setahun lebih masyarakat terpolarisasi," tutur Tito.

Dari Semua Bidang

Presiden Jokowi dalam media sosial resminya menyebutkan susunan kabinet untuk pemerintahan mendatang, sudah rampung. Mereka berasal dari semua bidang pekerjaan dan profesi, baik itu akademisi, birokrasi, politisi, santri, TNI dan polisi.

Para menteri yang dipilihnya adalah sosok yang inovatif, produktif, pekerja keras dan cepat. Sosok yang tidak terjebak rutinitas yang monoton. Tugas para menteri bukan hanya membuat dan melaksanakan kebijakan, tapi memastikan masyarakat menikmati pelayanan dan hasil pembangunan.

Sebagaimana yang dijelaskan dalam pidato kenegaraan Presiden Jokowi usai dilantik sebagai Presiden RI pada periode kedua pemerintahan.

"Saya minta dan akan saya paksa bahwa tugas birokrasi adalah making delivered. Tugas birokrasi itu menjamin agar manfaat program dirasakan oleh masyarakat," ujarnya.

 Lulusan Akpol Terbaik

Usai lulus dari Akpol 1987 sebagai peraih lulusan terbaik Adhi Makayasa, Tito tercatat menempati jabatan Kanit Jatanras Reserse Polres Metro Jakarta Pusat.

Saat masih perwira menengah, ia terlibat dalam mengungkap sejumlah kasus terorisme sejak Bom Bali 2002 hingga penangkapan gembong teroris, Noordin M. Top dan Dr Azhari.

Atas prestasinya ini, Tito ditunjuk sebagai Kepala Densus 88 Antiteror pada 2009-2010. Pangkat Irjen diraih Tito saat menjabat sebagai kapolda tipe A di Papua pada 2012 hingga 2014 dan Kapolda Metro Jaya pada 2015-2016.

Saat menjadi Kapolda Metro Jaya, Tito dipuji Istana karena kecepatannya dalam menangani teror Bom Thamrin pada 14 Januari 2016.

Tito memperoleh pangkat Komjen atau bintang tiga saat ia menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada 2016. Penunjukkan ini lantaran Tito dinilai berpengalaman dalam menangani teroris.

Lulusan terbaik Akpol 1987 ini terbilang memiliki karir tercepat di Polri dibandingkan rekan-rekan seangkatannya. Tercatat ia lima kali mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa saat perwira menengah dan perwira tinggi.

Baru tiga bulan menjabat sebagai Kepala BNPT, pada Juli 2016, Tito ditunjuk Presiden Joko Widodo sebagai Kapolri di masa pemerintahan Jokowi-JK. Dengan bintang empat di pundaknya, berarti ia menyalip empat angkatan di atasnya.

Di awal kepemimpinannya sebagai Kapolri, buronan pemimpin kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) tewas dalam kontak tembak dengan Satgas Tinombala di Poso, Sulawesi Tengah.

Saat ini Satgas Tinombala masih diperpanjang masa tugasnya demi bisa mengejar para anggota kelompok MIT dibawah pimpinan Ali Kalora yang masih tersisa. Di bawah kepemimpinannya, sebagai orang nomor satu korps baju cokelat, Tito mengklaim kepercayaan publik terhadap institusi Polri terus meningkat.

Promoter

Penerapan program Promoter atau profesional, modern dan terpercaya yang menjadi tagline Polri saat ini, diklaimnya telah menunjukkan hasil positif.

Program Promoter dititikberatkan pada tiga kebijakan utama yakni peningkatan kinerja, perbaikan kultur dan manajemen media.

Peningkatan kinerja diwujudkan melalui peningkatan kualitas pelayanan publik, profesionalisme dalam penegakan hukum dan pemeliharaan stabilitas kamtibmas secara optimal.

Perbaikan kultur direalisasikan dengan menekan budaya koruptif, menghilangkan arogansi kekuasaan, dan menekan kekerasan. Sedangkan manajemen media dilaksanakan pada media konvensional dan media sosial, dengan menyampaikan berbagai upaya Polri dalam pemeliharaan kamtibmas dan meminimalisasi berita negatif, termasuk hoaks dan ujaran kebencian.

Tiga tahun implementasi program Promoter, dinilai Tito telah menunjukkan hasil yang baik.

Tito juga menekankan peran polwan dalam menjalankan program Promoter. Menurut dia, polwan yang  resisten dari budaya koruptif, bisa mengambil simpatik masyarakat dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap Polri.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kapolri, Kabinet Jokowi-Ma'ruf

Sumber : Antara

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top