Inggris Kaji Langkah Dukung Industri Mobil dari Risiko No-Deal Brexit

Menteri Bisnis Inggris Nadhim Zahawi mengatakan bahwa pemerintah tengah meninjau sejumlah langkah untuk mendukung para produsen mobil dari risiko no-deal  Brexit.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 11 Oktober 2019  |  15:53 WIB
Inggris Kaji Langkah Dukung Industri Mobil dari Risiko No-Deal Brexit
Bendera Inggris Raya dan Uni Eropa di markas Komisi Uni Eropa di Brussels, Belgia, 20 September 2019. - Reuters/ Kenzo Tribouillard

Bisnis.com, JAKARTA -- Menteri Bisnis Inggris Nadhim Zahawi mengatakan bahwa pemerintah tengah meninjau sejumlah langkah untuk mendukung para produsen mobil dari risiko no-deal  Brexit.

Menurutnya, pemerintah kini sedang melakukan pembicaraan dengan beberapa perusahaan termasuk PSA Group, Toyota Corp, Ford Motor Co, Nissan Motor Co dan Jaguar Land Rover Automotive Plc untuk menentukan skenario yang akan terjadi jika Inggris meninggalkan Uni Eropa tanpa kesepakatan.

"Ada beberapa langkah yang mungkin dapat membantu bisnis-bisnis itu," kata Zahawi dalam sebuah wawancara, dikutip melalui Bloomberg, Jumat (11/10/2019).

Dia mengatakan bahwa pemerintah sedang mencari cara, yang tetap tunduk pada batasan aturan Organisasi Perdagangan Dunia atau aturan bantuan negara, untuk membantu para produsen mobil.

Pembuat mobil telah vokal menentang Brexit tanpa kesepakatan yang menjadi pilihan Perdana Menteri Boris Johnson jika dia tidak dapat mencapai kesepakatan pada 31 Oktober.

Mereka telah memperingatkan bahwa langkah tersebut akan menghancurkan industri, mengganggu jalur pasokan tepat waktu dan meningkatkan tarif yang akan menaikkan biaya produksi dan membuat ekspor tidak kompetitif.

CEO PSA Carlos Tavares mengatakan pada Juli bahwa semua produksi akan ditarik dari pabrik Ellesmere Port jika Brexit tidak memungkinkan bagi pabrik berkapasitas 1.000 pekerja itu untuk menghasilkan keuntungan.

Nissan telah menyatakan bahwa mereka akan memindahkan beberapa produksi dari Inggris jika negara itu meninggalkan Uni Eropa tanpa kesepakatan.

“Tidak ada keputusan yang terus terang menyatakan tujuannya. Kami harus hati-hati menganalisis semua situasi. Satu-satunya kesimpulan jelas yang telah kami capai adalah bahwa jika tarif WTO akan diterapkan, perdagangan akan menjadi tidak berkelanjutan," kata Direktur Nissan Eropa Gianluca de Ficchy.

Nissan, yang mengirimkan 70% dari output mereka di Inggris ke Uni Eropa, mendesak pemerintah Johnson untuk mendukung industri dengan menyetujui penawaran Brussels untuk tidak menerapkan tarif.

Menurutnya, pengenaan aturan WTO dengan bea 10% pada mobil buatan Inggris yang dikirim ke Uni Eropa tidak mungkin diimbangi dengan pemotongan biaya produksi.

Zahawi mengatakan salah satu instrumen yang dia pertimbangkan adalah dana hibah eRGF (exceptional regional growth fund), dana yang diberikan di luar proses penawaran kompetitif normal yang dirancang untuk membantu ketika situasi ekonomi di daerah setempat tiba-tiba memburuk.

"Inggris akan berusaha untuk menghindari gangguan pada rantai pasokan dalam skenario no-deal Brexit dengan tidak memaksakan pemeriksaan perbatasan tambahan," ujarnya.

Zahawi juga mengatakan bahwa pemerintah mendorong ambisi bagi Inggris untuk memimpin dunia dalam mengembangkan kendaraan listrik dan teknologi hidrogen, termasuk dorongan untuk mengembangkan gigafactory untuk membuat baterai mobil listrik di Inggris.

Pemerintah mengumumkan investasi sebesar 1 miliar pound atau senilai US$1,22 miliar untuk mempercepat pengembangan teknologi baterai baru dan sel bahan bakar hidrogen bulan lalu.

Zahawi mengungkapkan bahwa para menteri sedang dalam pembicaraan dengan setengah lusin perusahaan di seluruh dunia, termasuk China dan Jepang, tentang pengembangan gigafactory di Inggris. Namun dia tidak memberikan detil nama perusahaan tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Brexit

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top