Sepertiga Konsumen Dunia Makin Ragu untuk Membelanjakan Uangnya

Produsen dari mobil hingga sabun telah menggantungkan harapan mereka pada laju pertumbuhan dari kedua raksasa ekonomi yang baru mendapatkan perhatian dunia.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 10 Oktober 2019  |  17:49 WIB
Sepertiga Konsumen Dunia Makin Ragu untuk Membelanjakan Uangnya
ilustrasi. - mitsubishi

Bisnis.com, JAKARTA -- Awan kelabu yang menutupi industri ritel China dan India, rumah bagi 2,5 miliar orang, atau lebih dari sepertiga konsumen dunia, telah memicu kekhawatiran pasar.

Produsen dari mobil hingga sabun telah menggantungkan harapan mereka pada laju pertumbuhan dari kedua raksasa ekonomi yang baru mendapatkan perhatian dunia.

Efek perlambatan ganda dari dua ekonomi ini merebak ke seluruh dunia.

"Belakangan ini, konsumen lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang mereka. Dulu, orang-orang dapat mengganti smartphone mereka segera setelah model baru keluar. Namun kini mereka belanja sesuai kebutuhan," ujar seorang penjual elektronik di Beijing, He Hongyuan, seperti dikutip melalui Bloomberg, Kamis (10/10/2019).

3.000 mil dari Beijing, Deepak Gurnaney di Mumbai, yang juga mencari nafkah dari penjualan elektronik mengungkapkan bahwa bisnisnya telah turun 25% sepanjang 2 tahun terakhir.

Dia bahkan tidak menganjurkan anggota keluarganya yang lain untuk ikut terjun ke dunia bisnis karena ketidakpastian tentang perdagangan pada masa depan.

Pertumbuhan ekonomi China diindikasikan akan melemah pada kisaran 6% untuk tahun ini, yang merupakan laju paling lambat dalam catatan, sedangkan ekspansi di India mencapai titik terlemah selama 6 tahun terakhir pada kuartal kedua tahun ini.

Perlambatan pertumbuhan ekonomi dikaitkan dengan pelemahan daya beli konsumen.

Sebagai contoh, penjualan otomotif di China, mencakup sedan, kendaraan sport, minivan dan kendaraan multiguna turun untuk keempatbelas kalinya pada Agustus, dalam 15 bulan terakhir.

Pada saat yang sama, penjualan mobil di India mencatat rekor penurunan tahunan terbesar.

"China dan India kemungkinan akan tetap menjadi pasar konsumen terbesar dan paling menjanjikan di luar sana, tetapi perlambatan ini masih menjadi hambatan bagi ekonomi global yang juga sedang kesulitan," kata Frederic Neumann, co-head penelitian ekonomi Asia di HSBC Holdings Plc, Hong Kong.

Meskipun tingkat pertumbuhan ekonomi China dan India masih lebih tinggi dari negara lain, laju pelemahan yang terpantau sepanjang tahun ini cukup kritis.

China perlu menjaga kecepatan eskpansi untuk menghadapi penumpukan utang dari masa kejayaanya. Sementara itu, India mengandalkan ekonomi yang kuat untuk menyerap jutaan pencari kerja baru setiap bulan.

Ekonom Capital Economics Julian Evans-Pritchard mengatakan bahwa penggerak ekonomi tradisional kedua ekonomi tersebut kini kehabisan daya untuk bergerak lebih cepat.

Konsumen generasi muda China kini lebih selektif untuk menghabiskan uang mereka pada barang mewah dan mobil dibandingkan dengan orang tua mereka dulu.

"Saya pikir mereka harus terbiasa dengan pendapatan yang tumbuh pada kecepatan yang jauh lebih lambat," katanya.

Pemerintah India bahkan telah memangkas pajak korporasi senilai US$20 miliar bulan lalu untuk meredam perlambatan. Namun dengan sistem keuangan yang tersendat oleh pinjaman yang buruk tingkat pengangguran tinggi, sentimen pesimisme masih kuat di kalangan pedagang.

India adalah pasar terbesar kedua setelah AS untuk produk konsumen Unilever NV.

Adapun, China adalah pasar terbesar di luar AS bagi Starbucks Corp dan Apple Inc. Nike Inc. membukukan pertumbuhan penjualan dua digit untuk 20 kuartal berturut-turut di China.

Sementara itu, Marriot International Inc. bahkan berencana untuk memperluas jaringan hotelnya di negeri bambu dengan membangun 300 hotel baru.

Namun di sektor konsumen, perang dagang AS-China, penumpasan korupsi di India dan China, serta deretan pabrik yang ditutup telah membuat masyarakat semakin khawatir tentang masa depan.

Sekalipun ekonomi meningkat, perubahan dalam cara konsumen membeli barang, seperti memesan secara online, dapat berdampak pada penurunan keberadaan toko konvensional yang mungkin tidak akan pernah pulih.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
konsumen

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top