Boris Johnson Janji Lanjutkan Brexit

Johnson harus mengalami kekalahan telak sebanyak enam kali dalam pemungutan suara di House of Common, setelah upayanya untuk pelaksanaan jajak pendapat ditolak dalam sekejap oleh para anggota parlemen.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 10 September 2019  |  18:05 WIB
Boris Johnson Janji Lanjutkan Brexit
Boris Johnson - REUTERS/Toby Melville

Bisnis.com, JAKARTA -- Setelah Parlemen Inggris menghalangi strategi Brexit dan kemudian menolak untuk memberikan kesempatan pemilihan umum yang diajukan, Perdana Menteri Boris Johnson berjanji untuk mencapai sebuah kesepakatan dengan Uni Eropa.

Johnson harus mengalami kekalahan telak sebanyak enam kali dalam pemungutan suara di House of Common, setelah upayanya untuk pelaksanaan jajak pendapat ditolak dalam sekejap oleh para anggota parlemen.

Strategi 'do-or-die' yang ditawarkan Johnson untuk merealisasikan Brexit pada 31 Oktober telah membuat dirinya terasingkan, bahkan di kalangan Partai Konservatif.

Untuk saat ini, perdana menteri baru itu harus menyiapkan strategi baru agar Inggris dapat segera keluar dari kekacauan ini.

"Pemerintah akan tetap mengupayakan sebuah kesepakatan, tetapi pada saat yang sama kami juga bersiap untuk kemungkinan no-deal," ujar Johnson, seperti dikutip melalui Bloomberg, Selasa (10/9/2019).

Dia dijadwalkan bertemu dengan petinggi di Brussel pada 17 Oktober dan bertekad untuk mencapai sebuah kesepakatan bagi kepentingan nasional.

Pekan lalu, Johnson menyampaikan teguran keras kepada para anggota Partai Konservatif untuk mendukung strateginya yang menjamin Brexit pada 31 Oktober, dengan atau tanpa kesepakatan.

Namun, sejumlah Tories menolak no-deal dan memilih untuk keluar dari partai.

Seorang menteri kabinet dan adik Johnson mengundurkan diri dari pemerintahan sebagai bentuk penolakan strategi Brexit Johnson.

Hasil dari kekalahan Parlemen pekan lalu menyatakan bahwa Johnson secara hukum diharuskan untuk mendapatkan kesepakatan Brexit atau berusaha untuk menunda keberangkatan Inggris dari Uni Eropa melewati tenggat waktu 31 Oktober.

Johnson kembali menolak opsi kedua pada Senin (10/9/2019).

"Saya tidak akan meminta penundaan lagi [kepada Uni Eropa]," katanya kepada anggota parlemen.

Artinya, perdana menteri harus menemukan celah di balik aturan hukum yang mengikat, atau berupaya mencapai kesepakatan Brexit dengan Parlemen.

Dua orang sumber mengatakan bahwa pemerintah cenderung akan mengambil opsi pertama.

Di depan umum, Johnson terlihat lebih lunak ketika membahas soal perbatasan Irlandia, isi dari perjanjian Brexit yang telah dia janjikan akan dihapus.

Parlemen Inggris sekarang diliburkan selama 5 pekan.

Hiruk pikuk Brexit bahkan membuat hal yang biasa, seperti jadwal libur Parlemen, tidak berjalan lancar.

Para politisi, termasuk Ketua House of Commons John Bercow, yang mengumumkan rencana pengunduran dirinya, mengusung potes atas keputusan Johnson untuk memberlakukan vakum yang luar biasa panjang selama krisis politik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Brexit

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top