Tersiar, Rekaman Audio Keinginan Pemimpin Hong Kong Carrie Lam Mengundurkan Diri

"Sekarang ini sangat sulit bagi saya untuk keluar. Saya belum bisa berjalan-jalan, tak dapat pergi ke mal, ke salon rambut. Saya tidak bisa melakukan apa-apa karena keberadaan saya akan tersebar di media sosial,” ungkapnya.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 03 September 2019  |  07:48 WIB
Tersiar, Rekaman Audio Keinginan Pemimpin Hong Kong Carrie Lam Mengundurkan Diri
Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam memberi isyarat saat konferensi pers di Hong Kong, Cina 13 Agustus 2019. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Tersiar rekaman audio yang memperdengarkan kesediaan Pemimpin Hong Kong Carrie Lam untuk mengundurkan diri dari jabatannya.

Menurut rekaman audio dari komentarnya yang diutarakan kepada sekelompok pengusaha pekan lalu, Lam mengakui telah menyebabkan "malapetaka tak termaafkan" dengan memicu krisis politik di kota itu dan menyatakan akan berhenti jika memiliki pilihan.

Dalam pertemuan tertutup itu, Lam mengatakan bahwa ia kini memiliki ruang yang "sangat terbatas" untuk menyelesaikan krisis karena kerusuhan telah menjadi masalah keamanan dan kedaulatan nasional bagi China di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat (AS).

"Jika saya punya pilihan, hal pertama [untuk dilakukan] adalah berhenti, dengan permintaan maaf yang sebesar-besarnya,” ungkap Lam, sebagaimana diberitakan Reuters, Selasa (3/9/2019).

Pernyataan dramatis Lam menunjukkan pandangan paling jelas sejauh ini mengenai pemikiran kepemimpinan China saat menavigasi kerusuhan di Hong Kong.

Aksi unjuk rasa meluas yang telah melanda kota itu selama beberapa bulan terakhir menjadi krisis politik terbesar yang mencengkeram Hong Kong sejak protes Tiananmen tahun 1989.

Hong Kong telah dikejutkan oleh protes keras dan demonstrasi massa sejak Juni, sebagai respons penolakan atas rancangan undang-undang (RUU) yang diusulkan oleh pemerintahan Lam untuk memungkinkan ekstradisi pelaku kejahatan ke China daratan.

RUU tersebut memang telah ditangguhkan, tetapi Lam tidak dapat mengakhiri pergolakan massa yang tetap membara. Para pengunjuk rasa telah memperluas tuntutan mereka untuk mencakup pencabutan RUU itu secara utuh, konsesi yang sejauh ini ditolak oleh pemerintah Hong Kong.

Bagaimanapun, Lam mengatakan bahwa ia memiliki beberapa pilihan karena permasalahan tersebut telah diangkat “ke semacam tingkat kedaulatan dan keamanan, apalagi di tengah-tengah ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya antara dua ekonomi besar di dunia”.

“Dalam situasi seperti itu, ruang politik untuk pemimpin eksekutif yang, sayangnya, harus melayani dua penguasa dengan konstitusi, yaitu pemerintah rakyat pusat dan rakyat Hong Kong, ruang politik untuk melakukan manuver sangat terbatas,” tutur Lam dalam rekaman itu.

Nada bicara Lam dalam rekaman itu terkesan bertolak belakang dengan citranya yang lebih keras. Kadang-kadang, dia dapat terdengar tersedak ketika mengungkapkan dampak pribadi dari krisis di Hong Kong yang telah berlangsung selama tiga bulan.

"Bagi Pemimpin Eksekutif yang menyebabkan kekacauan besar seperti ini di Hong Kong adalah hal yang tidak bisa dimaafkan,” katanya.

Dalam pertemuan yang sama, Lam juga mengatakan bahwa kepemimpinan di Beijing menyadari potensi kerugian yang akan timbul terhadap reputasi China dari pengiriman pasukan ke Hong Kong untuk mengatasi aksi protes.

“Mereka tahu bahwa harganya akan terlalu besar untuk dibayar,” lanjut Lam.

“Mereka [China] peduli dengan profil internasional negara itu. Butuh waktu lama bagi China untuk membangun profil internasional semacam itu. Jadi, mengabaikan semua perkembangan positif itu jelas bukan agenda mereka.”

Namun, Lam mengutarakan China "bersedia bertahan" untuk keluar dari kisruh ini, bahkan jika harus berdampak pada ekonomi Hong Kong, termasuk penurunan dalam pariwisata dan kehilangan arus masuk modal.

Lam juga berbicara tentang pentingnya aturan hukum di Hong Kong dan mengembalikan stabilitas kota, serta perlunya meningkatkan upaya untuk menyampaikan pesan pemerintah. Pada akhirnya, tepuk tangan terdengar di rekaman itu.

Meski mengatakan bahwa ini bukanlah saatnya untuk "mengasihani diri sendiri", ia berbicara tentang rasa frustrasinya yang mendalam karena tidak mampu mengurangi tekanan pada pihak kepolisan ataupun memberi solusi politik guna menenangkan pengunjuk rasa yang sangat marah kepada pemerintah, terutama kepadanya.

Ketidakmampuannya untuk menawarkan situasi politik yang dapat meredakan ketegangan disebut sebagai sumber "kesedihan terbesarnya".

Lam juga berbicara tentang dampak krisis terhadap kehidupan sehari-harinya.

"Sekarang ini sangat sulit bagi saya untuk keluar. Saya belum bisa berjalan-jalan, tak dapat pergi ke mal, ke salon rambut. Saya tidak bisa melakukan apa-apa karena keberadaan saya akan tersebar di media sosial,” ungkapnya.

Jika ia tampil di muka publik, imbuh Lam, akan ada banyak orang berbusana hitam dan orang-orang muda bertopeng hitam yang menunggunya. Pengunjuk rasa Hong Kong, seperti diketahui, identik dengan pakaian hitam.

Tiga orang yang menghadiri pertemuan itu mengkonfirmasikan bahwa Lam telah membuat komentar-komentar tersebut dalam pembicaraan yang berlangsung sekitar setengah jam.

Rekaman pernyataannya yang berdurasi 24 menit itu diperoleh oleh Reuters. Adapun pertemuan itu adalah salah satu dari sejumlah "sesi tertutup" yang menurut Lam telah dilakukannya "dengan orang-orang dari semua lapisan masyarakat" di Hong Kong.

Menanggapi pertanyaan Reuters, juru bicara Lam mengatakan bahwa Lam menghadiri dua agenda pekan lalu yang dihadiri banyak pengusaha. Kedua agenda itu sendiri bersifat tertutup.

“Karena itu kami tidak dalam posisi untuk mengomentari apa yang dikatakan Pemimpin Eksekutif di acara-acara itu," jawab juru bicaranya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hong kong, demo Hong Kong

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top