Para Miliarder Hong Kong Minta Kerusuhan Dihentikan

Sepuluh pekan sejak aksi protes mengguncang pusat keuangan Asia hingga ke intinya, para miliarder Hong Kong menyampaikan permintaan mereka kepada para pengunjuk rasa bersamaan dengan terus meningkatnya beban dari dampak kerusuhan.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 13 Agustus 2019  |  17:06 WIB
Para Miliarder Hong Kong Minta Kerusuhan Dihentikan
Bandara Hong Kong dibuka sehari setelah penerbangan dihentikan karena protes, di Bandara Internasional Hong Kong, Cina 13 Agustus 2019. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Sepuluh pekan sejak aksi protes mengguncang pusat keuangan Asia hingga ke intinya, para miliarder Hong Kong menyampaikan permintaan mereka kepada para pengunjuk rasa bersamaan dengan terus meningkatnya beban dari dampak kerusuhan.

Peter Woo, pemegang saham terbesar dan mantan ketua pengembang Wheelock & Co., pada Senin (13/8/2019) meminta pengunjuk rasa untuk menyudahi aksi protes setelah permintaan mereka agar RUU ekstradisi dibatalkan tercapai.

Sun Hung Kai Properties Ltd., yang dikendalikan oleh klan Kwok, terkaya Hong Kong,  mengeluarkan pernyataan pada Selasa (13/8/2019), yang mengutuk protes kekerasan dan menyerukan rasionalitas.

Komentar Woo muncul di Hong Kong Economic Journal bersamaan dengan aksi protes yang merambat ke kawasan Bandara Internasional Hong Kong dan mengakibatkan pembatalan penerbangan setelah bentrokan terjadi antara pengunjuk rasa dan polisi anti huru-hara di jalan-jalan kota Hong Kong.

Kerusuhan selama 2 bulan ini juga membebani pasar saham wilayah khusus tersebut hingga menghapus lebih dari US$1 miliar dari kekayaan pribadi Woo.

Menurut Woo, tujuan protes yang pada awalnya adalah melawan RUU ekstradisi tersebut telah melenceng keluar jalur, padahal pemerintah Hong Kong telah sepakat untuk membatalkan aturan tersebut.

"Beberapa orang menggunakan isu ini untuk dengan sengaja menimbulkan masalah," ujar Woo, seperti dikutip melalui Bloomberg, Selasa (13/8/2019).

Sikap pasif pemerintah yang dirasakan masyarakat atas tindakan agresif polisi telah memicu kemarahan dan mengalihkan fokus para pengunjuk rasa dari isu RUU ekstradisi. Meski tertekan dari berbagai sisi, Kepala Eksekutif Carrie Lam telah menolak untuk mengundurkan diri.

Lam memilih untuk mengikuti pendirian Beijing untuk tidak menyerah pada tuntutan pengunjuk rasa, yang mencakup penyelidikan independen tentang penggunaan kekuatan oleh polisi dan pembebasan tahanan, setelah ratusan penangkapan terjadi selama unjuk rasa berlangsung pada akhir pekan lalu.

Gejolak yang telah berlangsung cukup lama ini mulai menunjukkan dampaknya pada ketahanan ekonomi Hong Kong.

Asosiasi Pengembang Real Estat Hong Kong mengeluarkan pernyataan pada 8 Agustus yang mengutuk kekerasan dan menyerukan perdamaian.

Tujuh belas anggota asosiasi ikut menandatangani pernyataan tersebut, termasuk Wheelock serta Hutchison Properties milik Sun Hung Kai dan Li Ka-Shing.

Seruan lain yang diterbitkan dalam surat kabar berbahasa China dikeluarkan pada 10 Agustus, dengan penandatangan bersama termasuk klan Kwok serta miliarder Henry Cheng dari New World Development.

Pekan lalu, Wharf Holdings, yang juga merupakan perusahaan turunan Wheelock, melaporkan penurunan laba dan mengatakan permintaan di Hong Kong melemah karena peringatan wisata, perlambatan ekonomi, kontraksi ekspor, penurunan penjualan ritel, kegelisahan pasar saham dan ancaman terhadap lapangan kerja.

Sun Hung Kai mengeluarkan pernyataan yang meminta para pengunjuk rasa untuk memikirkan tindakan mereka.

"Serangkaian tindakan kekerasan baru-baru ini untuk menantang supremasi hukum telah merusak ekonomi Hong Kong dan secara serius mempengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat," kata Sun.

Menurut pernyataan itu, perusahaan akan mendukung pemerintah dan polisi untuk memulihkan ketertiban.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
demo Hong Kong

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top