Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Giliran Swarovski Minta Maaf karena Sebut Hong Kong Sebagai Negara

Perusahaan perhiasan ternama, Swarovski, meminta maaf kepada China karena keliru mendeskripsikan Hong Kong sebagai negara di laman resminya.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 13 Agustus 2019  |  16:48 WIB
Hong Kong - Reuters/Bobby Yip
Hong Kong - Reuters/Bobby Yip

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan perhiasan ternama, Swarovski, meminta maaf kepada China karena keliru mendeskripsikan Hong Kong sebagai negara di laman resminya.

Swarovski dalam sebuah postingan di Facebook menyatakan bahwa mereka dengan tegas menghormati kedaulatan nasional dan integritas teritorial China.

"Mempertimbangkan kejadian baru-baru ini di China, Swarovski mengambil tanggung jawab penuh dan dengan tulus meminta maaf kepada orang-orang China, serta kepada mitra kerja sama kami dan Duta Besar Merek Jiang Shuying, yang telah sangat kecewa karena komunikasi yang menyesatkan tentang kedaulatan nasional China," demikian pernyataan resmi perusahaan dikutip dari BBC, Selasa (13/8/2019).

"Kami telah memperkuat kesadaran merek global kami dan kami akan terus meninjau semua platform digital kami secara global untuk memperbaiki segala ketidakakuratan," bunyi pernyataan tersebut lebih lanjut.

Sejumlah perusahaan brand ternama dunia tengah menjadi sorotan baru-baru ini karena tidak mematuhi klaim teritorial China atas Hong Kong. Mereka terjebak dalam kontroversi seputar deskripsi mereka tentang Hong Kong sebagai negara.

China semakin ketat dalam mengawasi bagaimana perusahaan asing menggambarkan Hong Kong yang sebenarnya merupakan bagian dari China, tetapi memiliki status khusus.

Sebelumnya, perusahaan pakaian mewah Versace memicu kemarahan warga China di media sosial karena desain kausnya. Desain kaus perusahaan asal Italia tersebut mengidentifikasi Hong Kong dan Makau sebagai negara independen yang dikuasai China.

Versace mengakui kesalahannya dan menyatakan telah menghancurkan dan berhenti menjual kaus tersebut sejak 24 Juli 2019.

Merek-merek fesyen Givenchy dan Coach baru-baru ini juga menghadapi reaksi keras atas representasi mereka tentang wilayah China pada produk pakaian mereka.

Kontroversi ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara China dan Hong Kong. Kerusuhan massal telah mengguncang Hong Kong selama beberapa pekan terakhir, ketika demonstrasi yang pertama kali ditujukan untuk menolak RUU ekstradisi telah berkembang menjadi gerakan pro-demokrasi yang peduli tentang peningkatan pengaruh China di wilayah tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china hong kong

Sumber : BBC

Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top