Ini Risiko Pakai Tanggal Lahir untuk ATM dan e-Banking

Para pelaku pembobolan sering kali mencari kata sandi yang familiar dengan pelaku termasuk tanggal lahir. Pada kasus pencurian melalui e-banking dan kartu kredit tersebut, korban menggunakan tanggal lahir sebagai sandi.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 09 Agustus 2019  |  16:41 WIB
Ini Risiko Pakai Tanggal Lahir untuk ATM dan e-Banking
Petugas memperlihatkan barang bukti pembobolan kartu kredit. - Bisnis.com/Sholahuddin Al Ayyubi

Bisnis.com, JAKARTA - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengingatkan masyarakat tidak menggunakan tanggal lahir sebagai kata sandi atau password akun bank.

Imbauan ini disampaikan setelah polisi mengungkap kasus pencurian dana nasabah bank melalui e-banking, kartu kredit yang sudah kedaluarsa atau expired. Korban sampai kehilangan dana tabungan hingga Rp1 miliar lebih.

"Kami imbau masyarakat saat punya e-banking, atau kartu ATM jangan gunakan password tanggal lahir kita," katanya di Jakarta, Jumat (9/8/2019).

Menurutnya, para pelaku pembobolan sering kali mencari kata sandi yang familiar dengan pelaku termasuk tanggal lahir. Pada kasus pencurian melalui e-banking dan kartu kredit tersebut, korban menggunakan tanggal lahir sebagai sandi.

Walhasil pelaku berhasil mendapatkan akses untuk menggunakan uang nasabah dan memindahkan ke rekening lainnya. Selain itu menurut polisi, uang yang dicuri pelaku juga digunakan untuk berbelanja online.

Kombes Argo mengingatkan masyarakat untuk awas terhadap berbagai modus penipuan termasuk melalui tabungan. Dia meminta warga memperhatikan aktivitas e-banking.

Jika merasakan adanya kegiatan transaksi yang sebenarnya tidak dilakukan, nasabah langsung melaporkan ke bank. Pelaporan juga dapat dilakukan jika kartu kredit sudah mulai habis masa atau kedaluarsa.

Sebelumnya, polisi berhasil menangkap tersangka Riandi dan Davis. Mereka melakukan aksinya dengan mengumpulkan database nasabah bank. Tidak disebutkan asal database tersebut diperoleh. Akan tetapi polisi menyebut data itu digunakan untuk mencari sasaran korban.

"Pencurian uang yang ada di rekening. Dari laporan seseorang, korban mempunyai tabungan di bank. Dia merasa bahwa uangnya dalam tabungan berkurang pada bulan April. Kemudian ada tagihan penggunaam dana. Padahal korban tidak melakukan transaksi," katanya saat konferensi pers di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (9/8/2019).

Dari dua pelaku itu, Riandi berlaku sebagai pencari database bank. Dia juga melakukan pembelian kartu bank. Data nasabah kemudian dipindahkan ke kartu tersebut. Pelaku juga lihai dalam membobol e-bangking korban.

Pelaku biasanya mencari kartu korban yang sudah lama tidak digunakan hingga kedaluarsa atau expired. Setelah itu pelaku berusaha membobol dan mengaktifkan kembali kartu tersebut.

"Pelaku melakukan sejumlah cara untuk mendapatkan akses. Mencoba beberapa pasword yang mudah diingat. Ternyata benar, pasword korban hanya menggunakan tanggal lahir," katannya.

Setelah berhasil diakses melalui e-banking, kartu itu digunakan untuk pembelian online. Salah satu korban bahkan mengalami kerugian hingga Rp1,112 miliar setelah digunakan untuk berbelanja.

"Riandi ini perannya mengaktifkan kartu yg sudah off menjadi on. Kemudian dia yang memindahkan dana ke rekening korban. Davis juga sama, menyiapkan akun aplikasi emas dan aplikasi Sakuku untuk menampung uang dari korban," terangnya.

Kedua pelaku ditangkap di wilayah Palembang. Riandi ditangkap tanpa perlawanan, sedangkan Davis dibekuk setelah melakukan perlawanan. Tersangka sempat menembakkan peluru ke arah petugas dan mengancam bakal menyandera keluarganya. Namun setelah bernegosiasi, Davis akhirnya dapat dibekuk oleh polisi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pembobolan atm, pembobolan dana

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top