Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Melestarikan Penyu di Bali Bersama Saba Asri

Kelompok Konservasi Saba Asri merupakan salah satu kelompok yang peduli terhadap kelestarian penyu di Indonesia.
Annisa Margrit
Annisa Margrit - Bisnis.com 30 Juni 2019  |  06:29 WIB
Tukik-tukik ini baru saja menetas di area konservasi Kelompok Konservasi Saba Asri di Pantai Saba, Gianyar, Bali (Jumat (28/6/2019). - Bisnis/Annisa Margrit
Tukik-tukik ini baru saja menetas di area konservasi Kelompok Konservasi Saba Asri di Pantai Saba, Gianyar, Bali (Jumat (28/6/2019). - Bisnis/Annisa Margrit

Bisnis.com, JAKARTA -- Puluhan tukik baru saja menetas pada pagi hari ketika kami tiba. Sebagian besar lahir dengan sehat dan selamat, tapi ada beberapa yang harus kembali dikubur karena belum menetas dengan sempurna. Ada pula telur-telur yang ternyata busuk dan tak sempat menetas.
 
Puluhan tukik ini hanya berasal dari satu lubang. Masih ada ratusan lubang lainnya yang ada di area penetasan telur penyu yang dikelola Kelompok Konservasi Saba Asri di Pantai Saba, Gianyar, Bali
 
Secara keseluruhan, ada empat area penetasan yang dimiliki kelompok tersebut. Ada pula kolam-kolam tempat tukik-tukik yang sudah menetas ditempatkan sementara sebelum dilepas dan beberapa penyu dewasa yang sedang direhabilitasi atau dititipkan oleh polisi setelah disita dari pihak-pihak tak bertanggung jawab.

Tukik yang baru saja menetas di area konservasi milik Kelompok Konservasi Saba Asri di Pantai Saba, Gianyar, Bali, Jumat (28/6/2019)./Bisnis-Annisa Margrit
 
Area konservasi yang dikelola Saba Asri berada tepat di depan Pantai Saba, sekitar 18 kilometer (km) dari pusat kota Denpasar. 
 
I Made Kikik, ketua Saba Asri, bercerita dia mulai mengumpulkan telur penyu pada 2007, setelah melihat beberapa anjing berebut telur di pantai. 
 
"Telurnya saya bawa ke rumah supaya bisa menetas karena kasihan [dimakan anjing]. Kami tetaskan dengan menggunakan styrofoam," tuturnya, Jumat (28/6/2019).
 
Setelah menetas, tukik-tukik dilepaskan di pantai. Jumlah telur yang ditetaskan pun terus bertambah karena makin banyak sarang yang ditemukan.
 
Seiring waktu, kabar adanya sekelompok warga yang menangkarkan telur penyu pun berembus dan mendatangkan turis-turis. Saat itu, wisatawan bisa datang dan membantu melepaskan tukik ke laut tanpa dipungut biaya.
 
Namun, kabar ini ternyata juga mendatangkan aparat keamanan dan pemerintah setempat ke rumah Kikik. Pada 2014, rumahnya didatangi Satpol PP, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat, Dinas Perikanan dan Kelautan setempat, serta perwakilan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gianyar. 

Ketua Kelompok Konservasi Saba Asri I Made Kikik di depan salah satu area penetasan di Pantai Saba, Gianyar, Bali, Jumat (28/6/2019)./Bisnis-Annisa Margrit
 
"Mereka bilang tidak boleh [konservasi] di rumah, harus di pantai. Karena kami tidak punya tanah, Bupati Gianyar saat itu memberi kami lahan di sini, ini tanah negara," ujarnya. 
 
Sejak itulah Saba Asri menempati lokasi baru dan terus berkembang. Telur-telur yang dikubur di sarang konservasi berasal dari pantai-pantai sekitar Gianyar diserahkan oleh warga dan wisatawan. 
 
Dalam sehari, bisa ada ratusan butir telur yang diserahkan. Adapun musim penyu bertelur biasanya pada Maret-Agustus.
 
Tukik yang sudah menetas ditempatkan di kolam air selama 4 minggu-4 bulan. Jika tukik mengonsumsi udang yang dicacah, maka makanan penyu dewasa bervariasi yaitu rumput laut hingga spons karang. 
 
Untuk mendorong masyarakat tidak lagi mengonsumsi telur penyu maupun penyu dewasa, Saba Asri memberikan insentif sebesar Rp3.000 per butir telur. Di Bali, memang masih ada kebiasaan mengonsumsi telur penyu, yang bisa didapatkan di pasar lokal dengan harga antara Rp5.000-Rp10.000 per butir.
 
Dana insentif diputar dari hasil donasi yang masuk dari pelepasan tukik. Donasi bisa mulai dari Rp50.000 per ekor. 

Pelepasan tukik oleh PT Indonesia Power dan para wartawan di Pantai Saba, Gianyar, Bali, Jumat (28/6/2019)./Bisnis-Annisa Margrit

Kelompok Saba Asri sepenuhnya relawan dan saat ini, ada sekitar empat orang yang mengelola lokasi konservasi itu. Kikik mengungkapkan terkadang ada calon relawan yang akhirnya mundur karena tenaganya memang tak dibayar.

Selain dari donasi, kelompok ini bergerak dari bantuan pemerintah dan korporasi. PT Indonesia Power--yang membawa rombongan wartawan termasuk saya pada hari itu--adalah salah satunya, yang masuk sejak akhir 2016. 

Selain melakukan pendampingan, Indonesia Power juga membantu membangun kolam-kolam penetasan agar telur lebih aman ditempatkan.
 
Kikik mengaku pihaknya lebih senang dengan bantuan berupa infrastruktur, seperti pembangunan kolam penetasan atau toilet. Dia beralasan sebagai tamatan SD, bantuan fisik lebih mudah untuk dikelola dibandingkan uang. 

Selama sekitar 12 tahun terakhir menggeluti dunia penyu dan tukik, Kikik menilai saat ini, masyarakat Bali sudah lebih paham pentingnya menjaga penyu dan kelestarian alam. 

"Saya dulu bandar judi dan pemabuk. Sadarnya sama telur penyu," tambahnya sembari tertawa.

Penanda lubang berderet di salah satu kolam penetasan telur penyu di kawasan konservasi yang dikelola Kelompok Konservasi Saba Asri di Pantai Saba, Gianyar, Bali, Jumat (28/6/2019)./Bisnis-Annisa Margrit

Seluruh jenis penyu di Indonesia adalah hewan dilindungi, yang diproteksi lewat Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Pelaku perdagangan penyu bisa dikenakan hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp100 juta. 
 
Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan, penyu sisik masuk dalam daftar spesies yang sangat terancam punah, sedangkan penyu hijau dan penyu lekang tergolong terancam punah. Saba Asri menangkarkan ketiga jenis penyu ini.
 
Penyu sisik dicari untuk cincin dan dijadikan aksesoris, sedangkan daging penyu hijau disebut memiliki rasa yang enak.

Selain karena perdagangan dan dikonsumsi, faktor alam dan pemanasan global menjadi ancaman tambahan bagi penyu. Suhu menjadi hal yang sangat berperan terhadap kehidupan para tukik.

Tukik-tukik yang baru dilepaskan sedang menuju laut di Pantai Saba, Gianyar, Bali, Jumat (28/6/2019)./Bisnis-Annisa Margrit
 
"Suhu pasir menentukan jenis kelamin. Di bawah 32 derajat Celcius yang lahir jantan, di atas 32 derajat Celcius betina. Makanya, global warming sangat berbahaya buat penyu," ungkap Kadek Boim, salah satu relawan Saba Asri. 
 
Jika suhu makin tinggi, maka akan ada lebih banyak penyu betina dibandingkan penyu jantan. Hal ini tentu mengancam kelestarian mereka.
 
Apalagi, meski penyu dewasa bisa menghasilkan ratusan telur dalam sekali waktu, tapi hanya 70 persen yang menetas dari tiap sarang. Jumlah yang hidup hingga dewasa bahkan lebih sedikit lagi. 
 
Semoga puluhan tukik yang kami lepas pagi itu termasuk di antaranya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali penyu indonesia power
Editor : Annisa Margrit

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top