Presiden Angkat Isu Rakhine State di Retreat KTT Asean

Presiden Jokowi kembali mengangkat isu Rakhine State dalam pertemuan retreat KTT ke-34 Asean di Hotel Athenee, Bangkok, Thailand.
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 23 Juni 2019  |  13:36 WIB
Presiden Angkat Isu Rakhine State di Retreat KTT Asean
Presiden Joko Widodo (kanan) berjabat tangan dengan Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi saat pertemuan bilateral Indonesia-Myanmar di sela-sela KTT ASEAN ke-34 di Bangkok, Thailand, Sabtu (22/6/2019). - ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA--Presiden Jokowi kembali mengangkat isu Rakhine State dalam pertemuan retreat KTT ke-34 Asean di Hotel Athenee, Bangkok, Thailand.

"Saya ingin bicara sebagai satu keluarga, berterus terang, untuk kebaikan kita semua,” kata Presiden, dikutip dari keterangan resminya, Minggu (23/6/2010).

Presiden Jokowi mengingatkan bahwa Pemimpin Asean telah memberikan mandat ke AHA Centre untuk melakukan Needs Assessment guna membantu Myanmar mempersiapkan repatriasi yang sukarela, aman, dan bermartabat.

Mandat tersebut sudah dijalankan melalui pelaksanaan Preliminary Needs Assessment (PNA) tim ke Rakhine State. PNA sudah menyampaikan laporan dari pelaksanaan mandatnya.

Dengan adanya laporan PNA, Presiden Joko Widodo menyampaikan pandangannya.

Pertama, rekomendasi laporan PNA harus ditindaklanjuti. "Saya berharap bahwa High Level Committee dapat segera membuat Plan of Action dengan time frame yang jelas,” jelasnya.

Lebih jauh Presiden mengungkapkan tindak lanjut rekomendasi akan membantu terciptanya kemajuan dalam persiapan repatriasi.

Kedua, isu keamanan menjadi kunci bagi pelaksanaan repatriasi.

"Kita semua prihatin terhadap situasi keamanan di Rakhine State yang belum membaik,” ujarnya.

Indonesia berharap Pemerintah dan otoritas Myanmar dapat terus secara maksimal mengupayakan pemulihan keamanan. Tanpa jaminan keamanan, tidak akan mungkin terjadi repatriasi.

Presiden Jokowi juga menyarankan Asean dapat membantu membangun komunikasi dengan Bangladesh dan pengungsi di Cox's Bazar.

“Tentunya dengan tetap menghormati proses komunikasi bilateral Myanmar-Bangladesh,” tukasnya.

Lebih lanjut Presiden menyampaikan bahwa komunikasi yang baik antara Myanmar, Bangladesh, dan para pengungsi menjadi bagian penting bagi kesuksesan persiapan repatriasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ktt asean, rohingnya

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top