AS-Iran Memanas, Pentagon Kirim Kapal Induk dan Pesawat Pembom B-52 ke Timur Tengah 

Tensi politik di kawasan Timur Tengah memanas. Amerika Serikat menerbangkan pesawat pembom B-52 untuk menghadapi kemungkinan serangan Iran.
John Andhi Oktaveri | 09 Mei 2019 10:45 WIB
Pesawat pembom B-52 - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA—Departemen Pertahanan AS, Rabu, merilis video baru yang menunjukkan empat pesawat pembom B-52 berkemampuan nuklir lepas landas menuju Timur Tengah.

Pengiriman pesawat pembom tersebut merupakan bagian dari upaya Pentagon  untuk meredam ancaman serangan dari Iran.

Para pejabat mengatakan kepada Fox News bahwa sejumlah pesawat pembom era Perang Dingin itu berangkat dari Pangkalan Angkatan Udara Barksdale di Louisiana pada Selasa waktu setempat. Semua pesawat itu akan mendarat di Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar.

Gedung Putih menyatakan mereka mengirim kapal induk USS Abraham Lincoln dan pesawat pembom ke Teluk Persia atas apa yang disebutnya sebagai ancaman baru yang dapat diperaya dari Iran.

Ilustrasi-Pesawat tempur AS di atas geladak kapal induk/Reuters

Presiden Trump kemarin mengumumkan sanksi baru yang menargetkan sektor baja, aluminium, tembaga dan besi asal Iran. AS juga berjanji untuk melanjutkan "tekanan maksimum" terhadap Teheran sampai berhenti mendukung kelompok-kelompok teror dan mengakhiri kegiatan destabilisasi di wilayah tersebut.

Iran juga dminta untuk menyerahkan senjata nuklir dan mengakhiri pengembangan rudal balistik.

"Kami menyerukan rezim di Iran untuk meninggalkan ambisi nuklirnya, mengubah perilaku destruktifnya, menghormati hak-hak rakyatnya, dan kembali dengan niat baik ke meja perundingan," kata Trump seperti dikutip Foxnews.com, Kamis (9/5/2019).

Kapal induk kelas Nimitz, USS Abraham Lincoln (CVN 72) saat transit di Selat Gibraltar, 13 April 2019/Reuters-US Navy-Mass Communication Specialist 2nd Class Clint Davis

Sebelumnya, Iran mengancam untuk memperkaya cadangan uraniumnya lebih dekat ke tingkat senjata nuklir dalam 60 hari jika kekuatan dunia gagal menegosiasikan ketentuan baru dari kesepakatan nuklir 2015.

Trump ingkar dari kesepakatan itu, tetapi negara-negara lain yang terlibat seperti China, Prancis, Jerman, Inggris, dan Rusia - tetap berkomitmen mematuhi kesepakatan tersebut.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
iran, Donald Trump

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup