Curhat ke Putin, Kim Jong-un Sebut AS Punya Niat Jahat

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un sepertinya tidak ingin menyia-nyaiakan kesempatan bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Kim memanfaatkan pertemuannya itu untuk menuduh Amerika Serikat (AS) "memiliki itikad buruk" dalam perundingan nuklir.
Renat Sofie Andriani | 26 April 2019 08:49 WIB
Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un (kiri) dan Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Mike Pompeo di Pyongyang, Korut, Minggu (7/10/2018). - KCNA via Reuters

Kabar24.com, JAKARTA – Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un sepertinya tidak ingin menyia-nyaiakan kesempatan bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Kim memanfaatkan pertemuannya itu untuk menuduh Amerika Serikat (AS) "memiliki itikad buruk" dalam perundingan nuklir.

Sebagaimana diberitakan kantor berita resmi Korut Korean Central News Agency (KCNA), dalam suatu pertemuan di Vladivostok, Kim mengatakan kepada Putin bahwa perselisihan dengan Amerika Serikat dapat "kembali ke keadaan semula”.

Pernyataan Kim tampak mengacu pada ancaman dan retorika balasan baik oleh Korut maupun AS yang terhenti setelah Kim Jong-un dan Presiden Donald Trump bertatap muka untuk pertama kalinya di Singapura pada Juni 2018.

Kedatangannya ke Rusia dilihat sebagai upaya untuk menunjukkan kepada AS dan sekutu-sekutunya bahwa Korea Utara memiliki sumber alternatif dukungan diplomatik setelah Presiden Donald Trump walk out dari pertemuan keduanya dengan Kim pada Februari 2019 tanpa menghasilkan kesepakatan apapun.

Sejak itu, Korea Utara telah mengeluhkan bahwa mediator-mediator Korut pada Trump, mulai dari Menteri Luar Negeri AS Michael Pompeo hingga pemerintah Korea Selatan, tidak menyampaikan pesannya.

Kepada awak media, Putin mengatakan bahwa Kim telah memintanya dalam suatu pertemuan pada Kamis (25/4/2019) untuk secara pribadi memberi tahu pihak Amerika tentang “posisi” Kim Jong-un saat ini.

“Chairman Kim Jong Un sendiri meminta kami untuk memberi tahu pihak Amerika tentang posisinya,” kata Putin kepada wartawan setelah mengadakan pembicaraan selama lebih dari tiga jam di kota pelabuhan Vladivostok, Rusia.

“Tidak ada rahasia. Kami akan membahas hal ini dengan rekan-rekan kami di Amerika dan China,” tambah Putin, yang dijadwalkan bertolak ke Beijing pada Kamis malam (25/4) waktu setempat.

Kunjungan Kim Jong-un ke Vladivostok adalah kunjungan pertamanya ke Rusia sejak menjadi pemimpin Korea Utara pada 2011.

Bagi Putin sendiri, kunjungan Kim memberinya peluang untuk tetap berperan dalam perselisihan soal keamanan yang sebagian besar dibentuk oleh AS dan China.

“Kim Jong-un mengatakan bahwa situasi di semenanjung Korea dan wilayah itu saat ini buntu dan telah mencapai titik kritis yang dapat kembali ke keadaan semula karena AS mengambil sikap sepihak beritikad buruk dalam pertemuan kedua dengan Korea Utara baru-baru ini,” tulis KCNA.

“Perdamaian dan keamanan di semenanjung Korea akan sepenuhnya bergantung pada sikap AS di masa depan, dan DPRK [Korea Utara] akan mempersiapkan dirinya untuk setiap situasi yang mungkin terjadi,” lanjut KCNA, seperti dikutip Bloomberg.

Dalam pidatonya awal bulan ini, Kim telah mengatakan kepada parlemen Korea Utara bahwa dia akan menunggu sampai akhir tahun bagi AS untuk mengubah posisi mereka.

Meski langkah ini membuat Korut menjalani sanksi internasional dengan masa yang lebih panjang, di sisi lain Kim Jong-un juga memiliki ruang untuk terus mengembangkan program senjata nuklirnya.

Perjalanan Kim Jong-un ke Rusia ini juga merupakan upayanya untuk memecahkan isolasi terhadap Korut.

Setelah memerintah selama enam tahun tanpa keluar dari negeri tercintanya, Kim telah mengunjungi lima negara sejak pemulihan hubungan dengan Trump, termasuk China, Rusia, Singapura, Vietnam, dan melintasi perbatasan Korea Selatan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
vladimir putin, kim jong un

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top