Isi Rapat Tertutup 'Manuver' Prabowo Disebut Bocor, Pengamat : Tetap Diperhatikan Sebagai Petunjuk

Seorang jurnalis independen asal Amerika Serikat Allan Nairn mengungkap laporan intelijen terkait rapat tertutup membahas manuver capres nomor urut 02 Prabowo Subianto jika terpilih.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 15 April 2019  |  22:35 WIB
Isi Rapat Tertutup 'Manuver' Prabowo Disebut Bocor, Pengamat : Tetap Diperhatikan Sebagai Petunjuk
Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menyampaikan pidato kebangsaan di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (12/4/2019). - ANTARA/Moch Asim

Bisnis.com, JAKARTA — Jurnalis independen asal AS, Allan Nairn, mengungkap laporan intelijen terkait rapat tertutup membahas manuver calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto jika nantinya terpilih dalam Pemilihan Presiden 2019.

Dalam laporan berisi notulensi rapat tersebut, tercatat bahwa Prabowo menggelar rapat tertutup di kediamannya, Jalan Kertanegara Nomor 4, Jakarta Selatan, pada 21 Desember 2018 pukul 21.00-23.15 WIB. Rapat itu disebut berisi strategi Prabowo melemahkan lawan-lawan politiknya serta menggembosi pendukungnya yang berafiliasi dengan kelompok radikal.

Pengamat Intelijen dan Keamanan Stanislaus Riyanta menilai bahwa notulensi tersebut patut diragukan, sebab laporan pertemuan sepenting itu kecil kemungkinan untuk bocor.

"Prabowo dan para peserta seperti yang disebutkan adalah orang-orang yang tahu tentang prinsip intelijen, jadi tidak akan seceroboh ini," jelasnya kepada Bisnis, Senin (15/4/2019).

Riyanta melanjutkan jika pertemuan dan dokumen tersebut benar adanya, maka pembocoran dari dalam dapat dinilai sebagai sebuah pengkhianatan. 

"Ketiga, terkait apakah rapat dan dokumen tersebut benar? Informasi intelijen itu bukan suatu bukti tetapi petunjuk. Apakah petunjuk ini benar? Hanya orang-orang yang disebut dalam dokumen tersebut yang tahu," tambahnya.

Oleh karena itu, isi laporan bertajuk Notulensi Rapat Tertutup Prabowo Subianto dan Tim yang masih abu-abu tersebut dinilai sebaiknya dianggap sebagai petunjuk kewaspadaan. Terlebih, konsekuensi politik dari konflik akibat laporan tersebut dipandang tidak bisa disepelekan.

"Saya kira, biarkan demokrasi ini berjalan dengan natural dan kesampingkan isu-isu yang belum jelas buktinya. Walaupun informasi yang ada tetap diperhatikan sebagai petunjuk," ucap Riyanta.

Di sisi lain, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono membantah adanya rapat seperti yang diungkap Allan. Meski demikian, dirinya mengakui bahwa Allan memang pernah mewawancarainya.

"Rapat enggak ada, bohong si Allan dia pake data laporan intelejen dari badan intelijen outsourcing. Laporan intelijen yang dihasilkan dari agen intelijen palsu dengan data palsu," tegasnya ketika dikonfirmasi.

Allan pertama kali menyampaikan laporan tersebut lewat akun Twitter resminya @AllanNairn14 pada Senin (15/4), yang menyatakan bahwa Prabowo merencanakan penangkapan massal lawan-lawan politik, sekutu Islam, mencabut gugatan Freeport-McMoRan, berjanji pada AS untuk "menghancurkan" FPI, HTI, PKS, juga Demokrat, dan mengembalikan Angkatan Darat seperti zaman "Orde Baru".

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
prabowo subianto, Pemilu 2019

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top