RISET CPD: Sejumlah Perusahaan Konsumer Global Menuju Go Green

Dalam laporan yang dirilis oleh organisasi non profit CDP, dulu dikenal sebagai Carbon Disclosure Project, sejumlah perusahaan konsumer bertaraf internasional seperti Unilever NV, L'Oreal SA dan Danone SA sebagai perusahaan yang paling siap dalam menghadapi perubahan iklim
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 26 Februari 2019  |  15:33 WIB
RISET CPD: Sejumlah Perusahaan Konsumer Global Menuju Go Green
CPD mencatat sejumlah perusahaan mengembalikan stabilisasi alam tempat mereka memanfaatkan sumber daya sebagai bahan dasar produk - ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA -- Dalam laporan yang dirilis oleh organisasi non profit CDP, dulu dikenal sebagai Carbon Disclosure Project, sejumlah perusahaan konsumer bertaraf internasional seperti Unilever NV, L'Oreal SA dan Danone SA sebagai perusahaan yang paling siap dalam menghadapi perubahan iklim.

Peningkatan emisi gas rumah kaca akibat penggunaan bahan bakar fosil menjadi faktor terbesar terjadinya pemanasan global.

Realisasi perusahaan tersebut dalam mengembalikan stabilisasi alam tempat mereka memanfaatkan sumber daya sebagai bahan dasar produk mereka antara lain dengan mengubah portofolio bisnis hingga mengakuisisi perusahaan merek kecil yang sudah lebih peka terhadap dampak perubahan iklim.

Beberapa tahun terakhir, aksi vegan yang digaungkan oleh generasi milenial, separuh dari target pasar produk konsumer, turut menjadi faktor pendorong perusahaan-perusahaan ini menjaga komitmen mereka untuk menjaga penggunaan sumber daya alam dalam batas wajar.

"Sebagai sektor yang berhadapan langsung dengan konsumen, mereka ditantang dengan tren konsumen yang terus berubah. Meskipun konsumen memiliki eksposur terbatas terhadap regulasi perubahan iklim, ada tren yang muncul di kalangan milenial untuk mengadposi praktik yang lebih sadar lingkungan," tulis Carole Ferguson, Kepala Riset Investor CDP dalam laporan yang diakses pada Selasa (26/2/2019).

Unilever, sebagai contoh, adalah satu dari 81 perusahaan yang pada 2015 memutuskan terlibat dalam Paris Agreement yang mengajak dunia untuk menahan pemanasan global pada kisaran kurang dari 2 derajat celsius.

Mereka juga berkomitmen untuk mengurangi penggunaan bahan bakar batubara pada 2020 dan akan menggunakan 40% energi terbarukan pada 2020 untuk mencapai target 100% pada 2030.

Mantan Chief Executive Unilever, Paul Polman, pada awal inisiasi Paris Agreement mengatakan bahwa perubahan iklim telah berdampak pada bisnis perusahaan di tengah penjualan yang melambat pada 2015 akibat pelemahan bisnis margarin.

"Jika kita tidak menangani perubahan iklim, kita tidak akan mencapai target pertumbuhan ekonomi. Ini adalah masalah untuk semua bisnis, bukan hanya Unilever. Kita semua harus bertindak,” kata Polman.

Memanfaatkan prospek target pasar yang semakin peduli dengan lingkungan, sepanjang 2016, Unilever mengakuisisi tiga perusahaan 'hijau' yakni Dollar Shave Club , Blueair dan Seventh Generation.

Pada Juli 2016, Unilever menghabiskan US$1 miliar untuk mengakuisisi Dollar Shave Club - startup perawatan pria yang dipuji oleh para pencinta lingkungan. Pada Agustus 2016, perusahaan ini mengakuisisi startup pemurnian udara Blueair, dengan tujuan membantu memerangi meningkatnya polusi udara perkotaan.

Unilever kemudian memutuskan untuk mengakuisisi Seventh Generation, perusahaan produsen sabun dan deterjen rendah karbon asal Amerika Serikat, sebagai langkah ekspansi produk domestik perusahaan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
unilever, go green, KTT PARIS

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top